Thursday, March 14, 2013

teori belajar dan penerapannya dalam pembelajaran (lanjutan)

By sandri kinali | At 9:17 AM | Label : | 2 Comments
INGATAN
Ingatan atau memori adalah retensi (mempertahankan) informasi. Dalam mengingat informasi  terdapat pola yang terstruktur, yaitu:

Keterangan ;
Enconding                         : proses memasukkan informasi kedalam memori
Storage (Penyimpanan)    : mempertahankan informasi dari waktu ke waktu
Retrieval (Pengambilan)   : mengambil memori dari tempat penyimpanan teori
Secara teori – adanya tiga aspek dalam berfungsinya ingatan, yaitu:
·         Mencamkan : menerima kesan-kesan
Menurut terjadinya, mencamkan itu dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
o   Sekehendak, artinya dengan sengaja mencamkan sesuatu. Biasa yang disebut dengan menghafal.
o   Tidak sekehendak, dalam menangkap/mencangkam informasi tertentu.
·         Menyimpan kesan-kesan
·         Memproduksi kesan-kesan
Atas dasar pernyataan diatas, maka ingatan didefinifikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan.
Ingatan yang baik mempunyai sifat, yaitu:
Ø  Ingatan cepat, artinya mudah dalam mencamkan sesuatu hal tanpa sukar.
Ø  Ingatan luas, artinya dapat menyimpan banyak kesan-kesan
Ø  Ingatan setia, artinya apa yang telah diterima (dicamkan) akan disimpan baik-baiknya, tak akan berubah-ubah. Jadi tetap cocok dengan keadaan waktu menerimanya
Ø  Ingatan teguh, artinya dapat menyimpan kesan dalam waktu yang lama, tidak mudah lupa
Ø  Ingatan siap, artinya mudah dalam memproduksikan kesan yang telah disimpan

Macam-macam memori (ingatan)
Ø  Memori sensoris.
Berbicara sensoris berarti kita mengandalkan pengindraan.  Informasi yang ada dalam bentuk sensoris aslinya hanya bertahan beberapa saat pada memori sensoris.  Jadi penting bagi individu untuk memperhatikan informasi sensoris.
Ø  Memori jangka pendek.
= Sistem memori berkapasitas terbatas,dimana informasi dipertahankan sekitar 30 detik. Kecuali, infomasi itu diulang atau diproses lebih lanjut ( mencamkan sekehendak)
Ø  Memori jangka panjang
= tipe memori yang menyimpan banyak informasi selama periode waktu yang lama secara relative permanent.
Memori jangka panjang terbagi atas beberapa bagian, bagian tersebut dibagi juga atas beberapa sub :

Keterangan:
·         Memori Deklaratif adalah rekoleksi atau pengingat kembali informasi secara sadar. Seperti fakta spesifik atau kejadian yang dapat dikomunikasikan secara verbal.
ü  Memori episodik adalah retensi informasi tentang dimana dan kapan terjadinya suatu peristiwa salam hidup.
ü  Memori semantik adalah pengetahuan umum individu tentang dunia.
Memori ini mencakup
o   Pengetahuan tentang pelajaran disekolah
o   Pengetahuan tentang bidang keahlian yang berbeda (permainan catur dan pengetahuannya)
o   Pengetahuan sehari-hari tentang makna kata, orang terkenal, tempat-tempat penting dan hal-hal umum.
·         Memori Prosedural adalah pengetahuan nondeklaratif dalam bentuk keterampilan dan operasi kogntitif.
Memori prosedural  tidak dapat secara sadar diingat kembali, setidaknya dalam bentuk fakta atau kejadian spesifik. Ini membuat memori prosedural menjadi sulit untuk dikomunikasikan.

Model tiga simpanan memori
Model tiga simpanan memori. Konsep ini dikembangkan oleh Richard Atkinston dan Richard Shiffrin (1968) yang melibatkan sekuensi tahap memori sensoris, memori jangka pendek, dan memori jangka panjang.
           Memori sensoris                    Memori Jangka Pendek                Memori Jangka Panjang
Dalam model ini, input sensoris nasuk ke memori sensoris. Melalui proses atensi (mengonsentrasikan dan mefokuskan sumber daya mental), informasi pindah ke memori jangka pendek, dan berada disana selama 30 detik atau kurang, kecuali diulang-ulang. Kemudian, informasi masuk ke penyimpanan memori jangka panjang; dari sini informasi dapat diambil kembali.






PROSES TERJADINYA LUPA DALAM BELAJAR
Dari pengalaman sehari-hari, kita memiliki kesan seakan-akan apa yang kita alami dan pelajari tidak seluruhnya tersimpan dalam akal kita. Padahal, menurut teori kognitif  apapun yang kita alami  dan kita pelajari, kalau memang sistem akal kita mengolahnya dengan cara yang memadai, semuanya akan tersimpan dalam subsistem akal permanent kita.
Lupa (forgetting) adalah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah kita pelajari, atau dalam istilah lain disebut dengan cue-dependent forgetting. Cue-dependent forgetting adalah kegagalan dalam mengambil kembali informasi karena kurangnya petunjuk pengambilan  yang efektif (Nadine,2000).
Misalkan, ketika seorang siswa pada hari itu terdapat dua pelajaran yang akan diujiankan, yaitu ujian sejarah dan bahasa Inggris. Ketika ujian sejarahnya selesai dan hendak memulai ujian bahasa Inggrisnya, maka infomasi tentang sejarah akan mencampuri ingatan tentang bahasa Inggris. Sehingga dalam pengambilan kembali informasi tentang bahasa Inggris mengalami pengendapan (pengambilan informasi kurang efektif).
Lain lagi dengan Gulo (1982) dan Reber (1988), mereka  mendefinisikan lupa sebagai ketidak mampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dipahami.  Dengan demikian, lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dari pengetahuan akal kita.

Faktor-faktor penyebab lupa
a)      Pertama, lupa dapat terjadi karena gangguan konflik antara item-item informasi atau materi yang ada dalam sistem memori .
Dalam interfence theory /Teori interferensi  (  sebuah teori yang menyatakan bahwa manusia lupa bukan karena kehilangan memori tetapi karena informasi lainnya menghalangi hal yang ingin diingati), gangguan konflik ini terbagi menjadi dua macam,yaitu ;
·         Proactive interference; terjadi ketika informasi yang dipelajari sebelumnya mengganggu pengingatan kembali suatu hal yang dipelajari kemudian. Ini dapat menjadi bermasalah ketika informasi yang baru tidak dapat digunakan dengan benar akibat diganggu informasi lama
·         Retroactive interference ; terjadi ketika informasi yang baru dipelajari mengganggu pengingatan/pemanggilan memori yang lama.
b)      Kedua, lupa- dapat terjadi  karna adanya tekanan pada item yang telah ada, baik sengaja ataupun tidak.
Penekanan ini terjadi karena ada beberapa kemungkinan
·         Karena item informasi (berupa pengetahuan, tanggapan, kesan  dsb) yang diterima siswa kurang menyenangkan, sehingga ia dengan sengaja menekannya hingga ke alam ketidaksadarannya.
·         Karena fenomena retroactive
·         Karena Informasi yang diperoleh tidak dimunculkan lagi cukup dalam waktu lama
c)      Ketiga, lupa- dapat terjadi pada perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan proses mengingat kembali.
d)      Keempat, lupa- dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat terhadap proses dan situasi belajar tertentu.
e)      Kelima, lupa- dapat terjadi karena informasi yang diperoleh tidak digunakan lagi.
f)       Keenam, lupa- karena gangguan syaraf.
g)      Ketujuh, lupa- dikarenakan item informasi yang diterima rusak sebelum masuk ke memori permanen.



KEJENUHAN DALAM BELAJAR
Secara harafiah, arti kejenuhan adalah padat atau penuh sehingga tidak mampu lagi memuat apapun. Selain itu, jenuh juga dapat berarti jemu atau bosan.
Kejenuhan belajar adalah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak mendatangkan hasil (Reber,1988).
Seseorang yang sedang dalam keadaan jenuh sistem akalnya tak dapat bekerja sebagaimana yang diharapkan dalam memproses item-item informasi atau pengalaman baru, sehingga kemajuan belajarnya tersendat.
Faktor penyebab
a)      Kejenuhan belajar dapat melanda siswa apabila ia kehilangan motivasi dan kehilangan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan tertentu sebelum siswa tertentu sampai pada tingkat keterampilan berikutnya (Chaplin,1972).
b)      Selain itu kejenuhan belajar juga dapat terjadi karena proses belajar siswa yang telah sampai pada batas kemampuan jasmaniah, seperti :
§  Bosan (boring)
§  Keletihan
Keletihan siswa dapat dikelompokkan atas 3, yaitu ;
ü  keletihan indra
ü  Keletihan fisik
ü  Keletihan mental
4 faktor yang menyebabkan siswa keletihan mental
o   Karena kecemasan siswa terhadap dampak negatif  yang ditimbulkan oleh keletihan itu sendiri
o   Karena kecemasan siswa terhadap standar keberhasilan bidang pelajaran tertentu apalagi merasa bosan kepada bidang tsb
o   Karena siswa berada ditengah-tengah situasi kompetitif yang ketat dan menuntut lebih banyak kerja intelek yang berat
o   Karena siswa mempercayai konsep kinerja akedemik yang optimum, sedangkan dia sendiri menilai belajarnya hanya berdasarkan ketentuan yang dibuatnya sendiri (self-imposed)

TRANSFER DALAM BELAJAR
Transfer belajar (transfer of learning) mengandung arti  pemindahan keterampilan hasil belajar dari satu sitausi ke situasi lainnya (Reber 1988)
Pembagian transfer dalam belajar
a)      Menurut theory of Identical Element
o   Transfer positif
Transfer positif terjadi (biasanya) karena adanya kesamaan elemen antara materi yang lama dengan materi yang baru.
Contoh: orang yang sudah bisa naik sepeda maka ia akan lebih mudah
               belajar naik sepeda motor
o   Transrer negatif
Kebalikan dari transfer positif, karna adanya perbedaan dari materi lama.
Contoh: siswa yang terbiasa mengetik dengan 2 jari akan susah dalam 10 jari.
b)      Menurut Gagne (dibaca : gaenye) transfer belajar dapat digolongkan  ke dalam empat kategori
§  Transfer positif, efeknya bagus terhadap pembelajaran sebelumnya
§  Transfer negatif, berefek buruk yang akibatnya merusak keterampilan sebelumnya.
§  Transfer vertikal, berefek baik terhadap kegiatan belajar yang lebih tinggi
§  Transfer lateral, berefek baik  terhadap kegiatan belajar yang sederajat (pengaplikasian teori)


DAFTAR PUSTAKA


Santrock, John W.2008. Psikologi Pendidikan. Alih Bahasa Tri Wibowo. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Suryabrata, Sumardi. 2001. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Garfindo Persada
Syah, Muhibbin. 2000. Psikologi

penilaian dan evaluasi hasil belajar

By sandri kinali | At 9:06 AM | Label : | 0 Comments

A.      PENGERTIAN EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN

Evaluasi yakni suatu kegiatan ubtuk menentukan nilai sesuatu. Dalam hubungannya dengan  pembelajaran/pendidikan terdapat beberapa pengertian menurut para ahli sebagai berikut:

1.       Proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa dan bagaimana tujuan pendidikan sudah tercapai(Ralph Tyler,1950)
2.       Penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa kearah tujuan-tujuan atau nilai yang ditetapkan(Wringhstone dkk,1956).
3.       Suatu proses yang sistematis untuk menetukan atau menbuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran dicapai oleh siswa(Gronlound,1975).
4.        Proses penilaian untuk mengambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa sesuai dengan criteria yang telah  ditetapkan(Tardif,1989).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi dalam pembelajaran yakni suatu proses yang sistematis melalui pengumpulan berbagai informasi/data dari peserta didik untuk kemudian dinilai dengan berpedoman pada tujuan yang hendak dicapai atau criteria yang ditetapkan.
B.      TUJUAN EVALUASI HASIL BLAJAR

Secara umun  ada lima evaluasi blajar,yaitu:

1.       Penilaian sebagai peransang atau dorongan, bertujuan untuk memotivasi peserta didik
Agar berusaha melakukan yang terbaik sebagai hadiah atas pekerjaannya. Hadiah tersebut dapat beupa nilai atau peringkat atas usaha belajar peserta didik.
2.       Penilaian sebagai umpan balik bagi peserta didik, bertujuan menberikan gambaran peserta didik tentang kekuatan dan kelemahanya karena peserta didik ingin tahu atas hasil usaha mereka dalam belajar.dengan begitu dapat menbantu peserta didik dalam menperbaiki  kelemahan mereka dimasa yang akan dating.
3.       Penilaian sebagai umpan balik bagi pengajar, bertujuan untuk mengaetahui sejauh mana tingkat keberhasilan pengajar dalam menjalankan tugasnya. Selain itu pengajar juaga menperoleh  gambaran posisi/kedudukan peserta didik apakah termasuk kategori cepat didik dalam suatu kurun tertentu , menperoleh gambaran posisi/kedududukan peserta didik apakah termasuk kategori cepat, sedanga atau lambat, menperoleh tentang gambaran tingkat usaha yang telah dilakukan peserta didik,menperoleh gambaran hingga sejauh mana peserta didik telah mendayagunakan kapasitas kognitifnya serta gambaran tentang ketepatan materi dan metode yang digunakan pengajar apakah sesuai atau perlu diperbaiki. Misalnya pada pembelajaran terhadap peserta didik sekolah dasar yang cendrung holistik, perlu digunakan metode khusus seperti metode khusus seperti metode pembelajaran terpatu agar berhasil belajar dapat lebih maksimal(Surisno Widodo, jurnal teknologi pendidikan, Vol.10 no.1 April 2010 Hal.8-15).
4.       Penilaian sebagai umpan balik bagi orang tua, bertujuan sebagai informasi bagi orang tua sehingga diharapkan ornga tua dapat bekerja sama menbantu peserta didik dalam meningkatkan prestasi blajarnya.
5.       Penilaian sebagai informasi untuk seleksi, bertujuan sebagai infomasi untuk seleksi, bertujuan sebagai pedoman terhadap peserta didik unutk melanjutkan studi ketinggkat yang lebih tinggi atau untuk tujuan lainnya seperti seleksi pendidikan yang lebih tinggi atau untuk tujuan lainya seperti seleksi untuk mendapatkan beasiswa dan pekerjaan.

C.      TEKNIK PENILAIN HASIL BELAJAR

Terdapat setidaknya empat aspek yang menjadi sasaran evaluasi terhadap manusia secara utuh yaitu kemanpuan, kepribadian, sikap-sikap dan intelegensi. Untuk itu dibutuhkan alat/instrument evaluasi yang baik, yaitu alat evaluasi mampu diukur aspek yang ingin diukur seobjektif mungkin. Secara umun teknik-teknik yang dipakai dalam evaluasi untuk mengukur aspek-aspek tersebut adalah sebagai berikut:

1.       Teknik nontes, meliputi akala bertingkat (rating scale), kuesioner,daftar cocok (check list), wawancara (interview), pengamatan(obsevation) dan riwayat hidup.
2.       Teknik tes, khhusus dalam dunia pembelajaran/pendidikan teknik yang umun diapakai yakni teknik tes ini.

Menurut beberapa ahli tes didefenisikan sebagai berikut:
1.       Muchtar Bukhori mengatakan bahwa tes adalah suatu percobaan yang diadakan ada atau tidaknya hasil-hasil pembelajaran tertentu pada seorang murid atau kelompok murid.
2.       Webser’s Collegiate mengatakan bahwa, tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, inteegensi, kemanpuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Dapat disimpulkan bahwa tes merupakan suatu alat pengumpulan informasi tetapi jika dibandingakan dengan alat-alat yang lain. Tes menpunyaii fungsi ganda yaitu untuk mengukur peserta didik dan untuk mengukur keberhasilan program pembelajaran.
Ditinjau dari segi kegunaannya tes dibedakan tiga macam yaitu:
1.       Tes diagnostic, yakni tes yang digunakan untuk mengatahui kelemahan-kelemahan perlakuan yang tepat.
2.       Tes formatif, yakni yang dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik telah mengikuti suatu program tertentu, contohnya ulangan harian
3.       Tes sumatif, yakni tes yang dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok program atau sebuah program yang lebih besar. Dalam pembelajaran, contohnya ulangan akhir semester.


Sedangkan tes dqari segi bentuknya adalah sebagai berikut:
1.       Tes subjektif, yakni tes yang memerlukan pemaparan , umunnya terbentuk esai (uraian) yang menbutuhkan pembahasan sebagai  jawaban atas daftar pertanyaan.
2.       Tes  objektif,yakni tes yang pemeriksaannya dapat dilakuakan secara lebih objektif , secara seadanya menurut pedoman yang ditentukan sebelumnya. Tes ini terdiri dari beberapa jenis , yaitu:

a.       Tes benar-salah, soal-soal dalam tes ini berbentuk pertanyaan yang pilihan jawabannya hanya dua macam, yakni “B” jika pertanyaan itu benar dan “S” jika pertanyaan itu salah. Apabila disusun dalam bentuk pertanyaan, biasaanya alternative jawaban yang harus dipilai ialah aya atau tidak.
b.      Tes pilihan penganda , biasanya berupa pertanyaan yang dapat dijawap dengan memilih salah satu dari empat atau lima alternative yang mengiringi setiap soal. Cara yang sangat lazim digunakan ialah penyilang (x) salah satu huruf A,B,C,D atau E  yang menandai alternative jawaban yang benar.
c.       Tes pencocokan, disusun dalam dua daftar yang masing-masing menbuat kata, istilah , atau kalimat yang diletakkan bersebelahan untuk mencari pasangan yang selaras anatara kalimat atau istilah yang ada pada daftar A (berisi aitem-aitem yang ditandai dengan no urut 1 sampai 10 dan seterusnya menurut kebutuhan) dengan daftar B terdiri  atas aitem-aitem yang ditandai huruf A,B,C dan seterusnya.
d.      Tes isisan,biasanya berbentuk cerita atau karangan pendek, yang pada bagian-bagian yang memuat istilah atau nama tertentu yang dikosongkan .
e.      Tes melengakapi, pada dasarnya sama menyelesaika tes isian, perbedaanya  terletak pada kalimat-kalimat yang tersusun dalam karangan atau cerita pendek tetapi dalam bentuk kalimat-kalimat yang berdiri sendiri.
Selain teknik tes, yang menpunyai kelemahan karena hanya mengukur aspek kognitif , sedangkan pendidikan ( bukan hanya pembelajaran ), sebagaimana tercamtum pada undang-undang nomor 20 tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangakan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan , pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,  masyarakat, bangsa , dan Negara. Teknik ini juga digunakan untuk pengukuran ranah afektif dan ranah psikomotorik peserta didik, dapat diuraikan sebagai berikut:
1.       Pengukuran ranah afektif
                Pengukuran ranah afektif tidak semudah mengukur ranah kognitif yang diukur dengan teknik tes , karena yang diukur adalah sikap/perilaku peserta didik , bukan pengetahuanya. Contohnya pada mata pelajaran kewarganegaraan , agama dan budi pekkerti. Beberapa bentuk skala dalam mengukur sikap antara lain:

·         Skala Likert, disusun dalam bentuk pernyataan dan diikuti dengan lima respon yanga menunjukan tingkatan yaitu sangat setuju (SS), setuju(S), tidak berpendapat (TB), tidak setuju (TS),  dan sangat tidak setuju (STS).
·         Skala Thurstone, mirip skala Likert namun diikuti oleh lima sampai dengan sepuluh butir pertanyaan.
·         Pengukuran bertingkat , dengan asumsi jika responden setuju dengan pernyataan pertama, begitu seterusya.
·         Semantic Differential, disusun oleh  osgot dan kawab-kawan mengukur konsep-konsep untuk tiga dimensi, denngan kategori baik-baik , kuat-lemah, cepat-lambat, pasif-aktif atau berguna tidak berguna.
·         Pengukuran minat , mengukur minat menggunakan skala seperti dari sangat senang (SS) hingga sangat  tidak setuju (STS).

2.       Pengukuran ranah psikomotor

Pengukuran ranah psikomotor digunakan untuk mengukur hasil-hasil  belajar berupa keterampilan, instrument yang digunakan berupa matriks ke bawah menyatakan aspek ( bagian keterampilan yang diukur ) dan kekanan menunjukan skaor yang dapat dicapai. Pengukuran ini digunakan misalnya pada mata pelajaran keterampilan memasak dan olah raga.

D.      KESIMPULAN
Evaluasi terhadap hasil belajar peserta didik cukup hanya menilai dari aspek kognitif, namun juga memaksimalkan evaluasi aspek afektif dan psikomotor jika ingin meraih tujuan dari pendidikan itu sendiri. Selain itu, factor mengajar menjadi pentiang agar metode, baik pengajaran maupun penialaina yang digunakan sesuai dengan keadaan peserta didik daik segi usia secara fisik maupun aspek psikologisnya.
Evaluasi dalam dunia pendidikan memiliki banyak model dan pendekatan , mulai dari model yang  didominasi pengukuran secara kuantitatif seperti pada measurement model hingga model yag menggunakan pendekatan kiualitatif seperti iiluminative model ( Rohmat Qomari,jurnal pemikiran alternative pendidikan insania, vol.13 no 2 mei-agust 2008 hal 173-188 ). Sehingga pengajar dapat memilih atau mengkombinasikan model evaluasi, bukan hanya terpaku pada satu mudel saja . selain itu, karena ikut mengevalluasi keberhasilan program pembelajaran tidal cukup hanya dengan mengadakan penilaian  terhadap hasil belajar siswa  sebagai produk dari sebuah proses embelajaran, kualitas suatu produk pembalajaran tidak terlepas dari kualiatas  proses pembelajaran itu sendiri. 
 
DAFTAR PUSTAKA:
Muhibbin Syah.2000.Psikologi Pendidikan.Bandung: Remaja Rosda Karya.
Prof.Dr.Suharsimi Arikkunto.2007. Dasar-Dasar Evaluasi Belajar.Jakarta: Bumi Aksara
Sri Esti Wuryani Djiwandono.2002.Psikologi Pendidikan.Jakarta: Gramedia Widia Sarana Indonesia.
Surisno Widodo,Jurnal Teknologi Pendidikan,vol.10 no.1 april 2010 hal.8-15
            Rohmad Qomari,Jurnal Pemikiran Alternative Pendidikan Insania, vol.13 no.2 Mei-Agust   2008 Hal. 173-188
◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Sandri Andeski - All Rights Reserved