Wednesday, February 20, 2013

proses kognitif kompleks dalam belajar

By sandri kinali | At 2:28 AM | Label : | 0 Comments

PROSES KOGNITIF KOMPLEKS DALAM BELAJAR

  1. PEMAHAMAN KONSEP
Pemahaman konseptual adalah kunci dari pembelajaran. Konsep adalah kategori – kategori yang mengelompokkan objek, kejadian, dan karakteristik berdasarkan property umum ( Zacks & tversky 2001 ). Konsep adalah elemen dari kognisi yang membantu menyederhanakan dan meringkass informasi ( Hahn & Ramscar, 2001 ; Medin, 2000 ).
Beberapa konsep relatif sederhana, jelas, dan konkret, sedangkan ada konsep lain yang lebih kompleks, membingungkan dan abstrak ( Barsalou, 2000 ). Konsep sederhana lebih mudah disepakati.

·         Mempromosikan pembentukan konsep
Mengenali dan membentuk konsep yang efektif memiliki ciri – ciri sebagai berikut :
1.      Mempelajari ciri – ciri konsep
2.      Mendefenisikan konsep dan memberi contoh
Strategi ini terdiri dari empat langkah, yaitu :
a.       Mendefenisikan konsep
b.      Menjelaskan istilah – istilah dalam defenisi koonsep
c.       Memberi contoh untuk mengilustrasikan ciri utamanya
d.      Memberi contoh tambahan
                                                                                              
3.      Peta konsep
Peta konsep adalah presentasi visual dari koneksi konsep dan organisasi hirarki konsep.
4.      Menguji hipotesis
Hipotesis adalah asumsi spesifik dan prediksi tertentu yang dapat diuji untuk menentukan kebenarannya.
5.      Penyesuaian prototype
Adalah proses di mana individu memutuskan apakah suatu item termasuk anggota dari suatu kategori dengan membandingkannya dengan item paling khas dari kategori itu.


  1. BERPIKIR
Plato beranggapan bahwa berpikir itu adalah berbicara dalam hati. Sehubungan dengan pendapat Plato ini adalah pendapat yang mengatakan bahwa berpikir itu adalah aktivitas ideasional.
Berpikir adalah memanipulasi atau mengelola dan mentransformasi informasi dalam memori.
Ini sering kali dilakukan untuk membentuk konsep, bernalar dan berpikir secara kritis, membuat keputusan, berpikir kreatif, dan memecahkan masalah.

Penalaran
Penalaran adalah pemikiran logis yang menggunakan logika induksi dan deduksi untuk menghasilkan kesimpulan.

            Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah penalaran dari hal – hal yang spesifik ke umum. Penalaran induktif adalah dasar untuk analogi.
Analogi adalah hubungan ( korespondensi ) kemiripan dalam beberapa hal di antara hal – hal yang berbeda. Analogi dapat dipakai untuk meningkatkan pemahaman atas konsep baru dengan membandingkannya dengan konsep yang sudah dipelajari.

Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif adalah penalaran dari umum ke spesifik.

Pemikiran Kritis
Pemikiran kritis adalah pemikiran reflektif dan produktif, dan melibatkan evaluasi bukti.
Beberapa keterampilan berpikir kritis untuk membentu perkembangan, yaitu :
1.      Berpikir terbuka
2.      Rasa ingin tahu intelektual
3.      Perencanaan dan strategi
4.      Kehati – hatian intelektual

Pembuatan keputusan
Pembuatan keputusan adalah pemikiran di mana individu mengevaluasi berbagai pilihan dan memutuskan pilihan dari sekian banyak pilihan tersebut.
Kesalahan yang biasa terjadi dipengaruhi oleh bias konfirmasi, kekerasan keyakinan lama, bias terlalu percaya diri, bias terlalu percaya diri, bias hindsight, serta ketersediaan dan keterwakilan heuristik.

Pemikiran kreatif
Kreativitas adalah kemampuan berpikir tentang sesuatu dengan cara baru dan tidak biasa dan menghasilkan solusi yang unik atas suatu problem.
Pemikiran kreatif dibbedakan menjadi dua, yaitu :
·         Pemikiran konvergen, adalah pemikiran yang bertujuan menghasilkan satu jawaban benar dan merupakan karakteristik dari jenis pemikiran yang dibutuhkan pada tes kecerdasan konvensional.
·         Pemikiran divergen, adalah pemikiran yang bertujuan menghasilkan banyak jawaban untuk satu pertanyaan dan merupakan karakteristik dari kreativitas.

Pengajaran dan Kreativitas
a.       Mengembangkan Brainstorming
Brainstorming adalah teknik di mana orang – orang dalam sebuah kelompok didorong untuk menghasilkan ide kreatif, saling bertukar gagasan, dan mengatakan apa saja yang ada di pikiran mereka yang tampaknya relevan dengan isu tertentu ( Rickards, 1999 ; Sternberg & Lubart, 1995 ).
b.      Menyediakan Lingkungan yang Memicu Kreativitas
c.       Tidak terlalu mengatur
d.      Mendorong motivasi internal
e.       Mendorong pemikiran yang fleksibel dan main – main
f.       Memperkenalkan dengan orang – orang kreatif

  1. PEMECAHAN PROBLEM
Pemecahan problem adalah mencari cara yang tepat untuk mencapai suatu tujuan. Langkah – langkah dalam pemecahan problem, yaitu :
a.       Mencari dan memahami problem
b.      Menyusun strategi pemecahan problem yang baik
Menentukan subtujuan ( subgoaling ) adalah proses menentukan tujuan intermediate (perantara) yang membuat murid dapat berada dalam posisi yang lebih baik untuk mencapai tujuan atau solusi final.
Algoritma adalah strategi yang menjamin solusi atas satu persoalan. Bentuk algoritma berbeda – beda, seperti formula, instruksi, dan mencoba semua kemungkinan solusi.
Analisis – cara tujuan adalah sebuah heuristik di mana seseorang mengidentitifikasi tujuan dari suatu problem, menilai situasi yang ada sekarang, dan mengevaluasi apa – apa yang dibutuhkan ( cara ) untuk mengurangi perbedaan antara dua kondisi tersebut.
c.       Mengeksplorasi solusi
d.      Memikirkan dan mendefenisikan kembali problem dan solusi dari waktu ke waktu
                                                                                                
Rintangan dalam memecahkan problem
Beberapa rintangan dalam pemecahan problem adalah :
a.       Fiksasi
Fiksasi adalah menggunakan strategi sebelumnya dan gagal untuk melihat problem dari sudut pandang yang baru yang segar. Mental set adalah tipe fiksasi di mana individu berusaha memecahkan masalah dengan cara khusus yang berhasil di masa lalu.
b.      Kekurangan motivasi dan persistensi
c.       Kontrol emosional yang tidak memadai

Pembelajaran Berbasis Problem
Pembelajaran berbasis problem adalah pembelajaran yang lebih menekankan pada pemecahan problem autentik seperti problem yang terjadi dalam kehidupan sehari – hari.

DAFTAR PUSTAKA


SANTROCK, JHON W. 2008. PSIKOLOGI PENDIDIKAN. ALIH BAHASA TRI WIBOWO. JAKARTA: KENCANA PRENADA MEDIA GROUP.

SUMADI SURYABRATA. 2004. PSIKOLOGI PENDIDIKAN. YOGYAKARTA: RAJAWALI PERS.

SRI ESTI WURYANI DJIWANDORO. 2000. PSIKOLOGI PENDIDIKAN. JAKARTA: GRAMEDIA WIDIASARANA INDONESIA.
 

PENDEKATAN KOGNITIF DAN BEHAVIORAL DALAM BELAJAR

By sandri kinali | At 2:20 AM | Label : | 0 Comments
Pendekatan Behavioral dan Kognitif dalam Belajar
Pembelajaran adalah pengaruh  permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir, yang diperoleh melalui pengalaman. Pembelajaran melibatkan perilaku akademik dan non-akademik.
Tidak semua yang kita tahu diperoleh dari belajar. Kita mewarisi beberapa kemampuan-kemampuan  itu  sejak lahir , tidak dipelajari. Tetapi, kebanyakan perilaku manusia tidak diwariskan begitu saja.
A.     Pendekatan behavioral untuk pembelajaran
Behaviorisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalamn yang dapat diamati, bukan dengan proses mental.
Menurut kaum behavioris, perilaku adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan bisa dilihat secara langsung. Menurut behavioris, pemikiran, perasaan  dan motif bukan subjek  yang tepat untuk ilmu perilaku sebab semuanya itu tidak bisa diobservasi secra langsung.
1.      Pengkondisian klasik
Pada awal 1900-an, psikolog Rusia Ivan Pavlov tertarik pada cara tubuh mencerna makanan. Pavlov menyadari bahwa asosiasi terhadap penglihatan dan suara dengan makanan ini merupakan tipe pembelajaran yang penting, yang kemudian dikenal sebagai pengkondisian klasik (classical conditioning).
Pengkondisian klasik adalah tipe pembelajaran di mana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. Dalam pengkondisian klasik, stimulus netral diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respons yang sama.
Pengkondsian klasik melibatkan  dua tipr stimuli dan dua tipe respon, yaitu unconditioned stimulus (US), unconditioned response (UR), conditioned stimulus (CS), conditioned response (CR). UR adalah respons yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US. CS adalah stimulus  yang sebelumnya netral  yang akhirnya menghasilkan CR setelah diasosiasikan  dengan US. Pengkondisian klasik dapat berupa pengalaman negatif dan positif dalam diri anak di kelas.
a.                  Generalisasi, Diskriminasi dan pelenyapan
Generalisasi dalam pengkondisian klasik adalah tendensi dari stimulus baru yang sama dengan CS yang asli untuk menghasilkan respons yang sama (Jones, Kemenes & Bejamin,2001).
Diskriminasi dalam pengkondisian klasik terjadi ketika organisme merespons stimuli  tertentu tetapi tidak merespon stimuli lainnya (Murphy, Beker, & Fouquet ,2001). Pelenyapan (extinction) dalam pengkondisian klasik adalah pelemahan CR karena tidak adanya US.

b.                  Desentisasi sistematis ( systematic desensitization)
Desentisasi sistematis adalah sebuah metode yang didasarkan pada pengkondisian klasik yang dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dengan cara membuat individu mengasosiasikan  relaksasi dengan visualisasi situasi yang menimbulkan kecemasan.
Desensitisasi melibatkan sebuah tipe counterconditioning (McNeil, 2000). Perasaan rileks yang dibayangkan murid (US) menghasilkan reaksi (UR). Murid kemudian mengasosiasikan isyarat  yang menimbulkan kecemasan  CS dengan perasaan relaksasi. Semua isyarat yang menimbulkan kecemasan akan menghasilkan relaksasi CR.
c.                   Mengevaluasi pengkondisian klasik
Pengkondisian klasik membantu kita memahami beberapa aspek pembelajaran dengan lebih baik. Namun, cara ini tidak efektif untuk menjelaskan perilaku sukarela,  seperti mengapa murid belajar keras untuk satu mata pelajaran atau lebih menyukai sejarah ketimbang geografi.

2.                  Pengkondisian operan (pengkondisian instrumental)
Pengkondisian operan  adalah sebentuk pembelajaran  di mana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi.
a.                  Hukum efek Thorndike
Hukum efek (law effect) Thorndike menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah. Pandangan Thorndike disebut teori S-R karena perilaku organisme itu dilakukan sebagai akibat dari hubungan antara stimulus dan respons.

b.                  Pengkondisian operan skinner
ü    Penguatan dan hukuman
Penguatan/ imbalan (reinforcement), adalah kosekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Penguatan ada dua yaitu :
1.                  Penguatan positif, frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh.
2.                  Penguatan negatif, frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak mennyenangkan) (Frieman,2002). Dalam penguatan negatif, ada sesuatu yang dikurangi atau dihilangkan.
Hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
ü    Generalisasi, diskriminasi dan pelenyapan
Generalisasi dalam pengkondisian operant berarti memberikan respon yang sama terhadap stimuli yang sama. Diskriminasi dalam pengkondisian operan berarti pembedaan di antara stimuli dan kejadian lingkungan . dalam pengkondisian operan, pelenyapan (extinction) terjadi ketika respon penguat sebelumnya todak lagi diperkuat dan responnya menurun.di kelas, pelenyapan yang paling umum bagi guru adalah tidak lagi memberi perhatian pada suatu perilaku.

B.     Analisis perilaku terapan dalam pendidikan
Analisis perilaku terapan adalah prinsip pengkondisian operan untuk mengubah perilaku manusia. Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang penting dalam bidang pendidikan :
1.      Meningkatkan perilaku yang diharapkan
Lima strategi pengkondisian operan dapat dipakai untuk meningkatkan perilaku anak yang diharapkan :
a.       Memilih penguat yang efektif, tidak semua penguat akan sama efeknya bagi anak. Untuk mencari penguat yang paling efektif bagi seorang anak , kita bisa meneliti apa yang memotivasi anak di masa lalu (sejarah penguatan), apa yang ingin dilakukan murid tapi tidak mudah diperolehnya, dan persepsi anak terhadap manfaat atau nilai penguat.
Prinsip Premack, yang ditemukan oleh David Premack, menyatakan bahwa aktivitas berprobabilitas tinggi dapat berfungsi sebagai penguat aktivitas berprobabilitas rendah.
b.      Menjadi penguat kontingen dan tepat waktu. Agar sebuah penguat dapat efektif, guru harus memberikan hanya setelah murid melakukan perilaku tertentu. Penguat akan lebih efektif jika diberikan tepat pada waktunya, sesegera mungkin setelah murid menjalankan tindakan yang diharapkan.
c.       Memilih jadwal penguat terbaik. Skinner (1953) menyusun konsep jadwal penguatan , yang merupakan parsial yang menentukan kapan suatu respons akan diperkuat. Empat jadwal penguatan utama :
v  Jadwal rasio-tetap, suatu perilaku diperkuat setelah sejumlah respons.
v  Jadwal rasio-verbal, suatu perilaku diperkuat setelah terjadi sejumlah respons, akan tetapi tidak berdasarkan pada basis yang dapat diprediksi.
v  Jadwal interval-tetap, respons tepat pertama setelah beberapa waktu akan dperkuat.
v  Jadwal interval- variabel, suatu respons diperkuat setelah sejumlah variabel waktu berlalu.
d.      Menggunakan perjanjian
Perjanjian (contracting) adalah menempatkan kontingensi penguatan dalam tulisan. Analisis perilaku terapan mengatakan bahwa perjanjian kelas harus berisi masukan dari guru dan murid.
e.       Menggunakan penguatan negatif secara efektif
Menggunakan penguatan negatif memiliki sejumlah kekurangan. Kadang-kadang ketika guru menggunakan strategi behavioral ini, anak marah, lari ke luar ruang, atau menobrak-abrik barang.
2.      Menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukan (shaping)
Prompt (dorongan) adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang diberikan sebelum respons dan meningkatkan kemungkinan respons itu akan terjadi. Prompt membantu perilaku terus berlajut. Setelah murid secara konsisten menunjukan respon yang benar, maka prompt tidak dibutuhkan lagi.
Shaping adalah mengajari perilaku baru dengan memperkuat perilaku yang mirip dengan perilaku sasaran. Shaping diimplementasikan hanya jika tipe penguatan positif dan prompt tidakk berhasil. Shaping membutuhkan penguatan sejumlah langkah kecil menuju keperilaku sasaran, dan ini mungkin memerlukan waktu yang lama.
3.      Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan
Langkah-langkah mengurangi perilaku yang tidak diharapkan :
a.       Menggunakan penguatan diferensial, guru memperkuat perilaku yang lebih tepat atau yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan anak.
b.      Menghentikan penguatan (pelenyapan). Strategi menghentikan penguatan ini adalah menarik penguatan terhadap perilaku tidak tepat atau tidak pantas. Banyak guru kesulitan untuk mengetahui apakah mereka telah memberi perhatian terlalu banyak pada perilaku tidak tepat.
c.       Menghilangkan stimuli yang diinginkan. Dua strategi dalam opsi ini adalah :
·         Time-out. Paling sering dipakai guru untuk menghilangkan stimuli yang diinginkan.
·         Responce cost, yakni menjauhkan penguatan positif dari murid. Seperti halnya time-out, response cost harus diiringi dengan strategi untuk meningkatkan perilaku positif si murid.
d.      Menyajikan stimuli yang tidak disukai (hukuman)
Stimuli tidak menyenangkan ini bukan hukuman efektif karena stimuli itu tidak mengurangi perilaku yang tidak diinginkan dan bahkan kadang-kadang menambahkan perilaku yang tak diinginkan. Tipe paling umum dari stimuli yang tidak menyenangkan ini adalah guru menggunakan teguran verbal.
4.      Mengevaluasi pengkondisian operan dan analisis terapan
Pengkondisian operan dan analisis perilaku terapan memberi banyak kontribusi untuk praktik pengajaran (Kadzin,2001 ;Martin & Pear,2002; Purdy,dkk,2001).
Kritrik terhadap pengkondisian operan dan analisis perilaku terapan mengatakan bahwa seluruh pendekatan itu terlalu banyak menekankan pada kontrol eksternal atas perilaku murid.

C.    Pendekatan kognitif sosial untuk pembelajaran
Menurut Plato kognitif atau berpikir adalah berbicara dalam hati. Selanjutnya ada pendapat yang lebih menekankan kepada tujuan berpikir itu, yaitu yang mengatakan bahwa berpikir itu adalah meletakkan hubunagn antara bagian-bagian pengetahuan kita. Berpikir adalah proses yang dinamis yang dapat dilukiskan menurut proses atau jalannya.


a.      Teori kognitif sosial Bandura
Teori kognitif sosial menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif, dan juga faktor perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran. Faktor kognitif mungkin berupa ekspektasi murid untuk meraih keberhasilan ; faktor sosial mungkin mencakup pengamatan murid terhadap perilaku orang tuanya.
Bandura mengembangkan model determinisme resiprokal yang terdiri dari tiga faktor utama; perilaku, person/kognitif, dan lingkungan. Faktor-faktor ini bisa saling berinteraksi untuk memengaruhi pembelajaran.
Bandura mengatakan bahwa self-efficacy berpengaruh besar terhadap perilaku. Misalnya seorang murid yang self-efficacy-nya rendah mungkin tidak mau berusaha untuk mengerjakan ujian karena dia tidak percaya bahwa belajar akan bisa membantunya mengerjakan soal.

b.      Pembelajaran observasional
Pembelajaran observasional, juga dinamakan imitasi atau modelling adalah pembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain.
Studi boneka bobo kalsik. Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan Bandura (1965) mengilustrasikan bagaimana pembelajaran dapat dilakukan hanya dengan mengamati model yang bukan sebagai penguat atau penghukum. Eksperimen ini juga  mengilustrasikan perebedaan antara pembelajaran  dan kinnerja. Poin penting dalam studi ini adalah bahwa pembelajaran observasional terjadi sama ekstensifnya baik  itu ketika perilaku agresif diperkuat maupun tidak diperkuat. Poin penting kedua dalam studi ini difokuskan pada perbedaan antara pembelajaran dan kinerja.
Model pembelajaran observasional kontemporer Bandura, prosesnya adalah :
o   Atensi. Sebelum murid dapat meniru ttindakan model, mereka harus memerhatikan apa yang dilakukan atau dikatakan si model. Murid lebih mungkin memerhatikan model berstatus tinggi ketimbang model berstatus rendah.
o   Retensi. Untuk mereproduksi tindakan model, murid harus mengkodekan informasi dan menyimpannya dalam ingatan (memori) sehingga informasi itu bisa diambil kembali. Retensi murid akan meningkat jika guru memberikan demonstrasi atau contoh yang hidup dan jelas.
o   Produksi. Anak mungkin memerhatikan model dan megingat apa yang mereka lihat, tetapi, karena keterbatasan dalam kemampuan geraknya, mereka tidak bisa mereproduksi perilaku model. Belajar, berlatih dan berusaha dapat membantu murid untuk meningkatkan kinerja motor mereka.
o   Motivasi . sering kali anak memerhatikan apa yang dikatakan atau dilakukan model, menyimpan informasi dalam memori,  dan memiliki kemampuan gerak untuk meniru tindakan model, namun tidak termotivasi untuk melakukannya.
Bandura percaya bahwa penguatan tidak selalu dibuttuhkan agar pembelajaran observasional terjadi. Ada tiga jenis penguat yang bisa menolong : memberi imbalan pada model, memberi imblan pada anak, dan memerintahkan anak untuk membuat pernyataan untuk memperkuat diri.
c.       Pendekatan perilaku kognitif dan regulasi diri
Pendekatan perilaku kognitif, penekanannya adalah untuk membuat murid memonitor, mengelola dan mengatur perilaku mereka sendiri, bukan mengontrol mereka melalui faktor eksternal. Pendekatan perilaku kognitif berusaha mengubah miskonsepsi murid, memperkuat keahlian mereka dalam menangani sesuatu, meningkatkan kontroldiri, dan mendorong refleksi diri yang kontruksif (Meichenbaum,1993).
Metode instruksi diri adalah sebuah teknik perilaku kognitif yang dimaksudkan guna mengajari individu untuk memodifikasi perilaku mereka sendiri. Strategi bicara pada diri sendiri yang bisa dipakai guru dan murid untuk mengatasi situasi yang menggelisahkan :


*      Bersiap menghadapi stres atau kecemasan
“apa yang harus aku lakukan?”
“aku akan menyusun rencana untuk menganinya”
*      Menghadapi dan menangani kecemasan atau stres
“aku bisa menghadapi tantangan itu”
Aku akan menjalankan setahap demi setahap”
*      Mengatasi perasaan pada saat kritis/mendesak
“apa ini yang harus aku lakukan?”
“ aku tahu aku akan tambah cemas. Aku cukup mengontrol diriku sendiri”
*      Menggunakan pernyataan penguat diri
“bagus. Aku bisa”
“ aku bisa mengatasinya dengan baik”
Dalam banyak kasus, strateginya adalah mengganti pernyataan negatif dengan pernyataan positif. Berbicara positif kepda diri sendiri dapat membantu guru dan murid mewujudkan potensi penuh mereka. Para behavioris kognitif merekomendasikan agar murid meningkatkan prestasi mereka dengan cara memonitor perilaku  mereka sendiri. Monitor diri adalah strategi yang bagus untuk meningkatkan pembelajaran, dan anda dapat mebantu murid belajar melakukannya secara efektif.
Pembelajaran regulasi diri, adalah memunculkan dan memonitor sendiri pikiran, perasaan dan perilaku untuk mencapai suatu tujuan. Karakteristik pelajar regulasi diri (Winne,1995,1997,2001):
o   Bertujuan memperluas pengetahuan dan menjaga motivasi
o   Menyadari keadaan emosi mereka dan punya strategi untuk mengelola emosinya
o   Secara periodik memonitor kemajuan ke arah tujuannya
o   Menyesuaikan atau memperbaiki strategi berdasarkan kemajuan yang mereka buat
o   Mengevaluasi halangan yang mungkin muncul dan melakukan adaptasi yang diperlukan
Para peneliti telah menemukan bahwa murid berprestasi tinggi sering kali merupakan pelajar yang juga belajar mengatur diri sendiri. Perkembangan regulasi diri dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah modeling dan self efficacy. Model adalah sumber penting untuk menyampaiakn keterampilan regulasi diri. Self-efficacy dapat mempengaruhi murid dalam suatu tugas, usahanya, ketekunannya, dan prestasinya.
d.      Mengevaluasi pendekatan kognitif sosial
Pendekatan kognitif sosial telah memberi kontribusi penting untuk mendidik anak. Pembelajaran dilakuakn dengan mengamati dan mendengar model yang kompeten dan kemudian meniru apa yang mereka lakukan. Penekanannya pendekatan perilaku kognitif pada pembelajaran instruksi diri, pembicaraan diri, dan regulasi diri, telah menimbulkan pergesaran penting dari pembelajaran yang dikontrol orang lain ke kemauan untuk betanggung jawab atas pembelajarang yang dilakukan seseorang.
Beberapa teoritisi kognitif percaya bahwa pendekatan tersebut masih terlalu fokus pada perilaku dan faktor eksternal dan kurang menjelaskan secara detail bagaiamana berlangsungya proses kognitif seperti pikiran, memori, pemecahan masalah dan sebagainya.

Monday, February 18, 2013

teori belajar gestalt

By sandri kinali | At 4:08 AM | Label : , | 1 Comments

TEORI GESTALT

A. Konsep Teoritis Utama
            Pelopor yang mengutarakan konsep ini adalah Marx Werheimer (1880) dan rekannya Wolfgang Kohler (1887-1967) dan Kurt Kofka (1886-1941). Werheimer menekankan keseluruhan itu lebih penting daripada sebagian-sebagian menjadikannya.  Mahzab Gestalt/kognitif berpendapat bahwa setiap manusia mempunyai keupayaan mental mengelola, menyusun, menyimpan dan mengeluarkan semua pengalaman untuk membolehkan ia memeperhatikan pertalian diantara pengalaman tersimpan yang dihadapi.
·         Teori Medan
Psikologi gestalt dapat dianggap sebagi usaha untuk mengaplikasikan Field Theory (teori medan) dari fisika ke problem psikologi. Secara umum, medan dapat dideskripsikan sebagai sistem yang saling terkait secar dinamis, dimana stiap bagianna saling mempengaruhi satu sama lain. Psikologi Gestalt menggunakan konsep medan ini dalam banyak level. Psikologi gestalt percaya bahwa apa pun yang terjadi pada seseorang akan mempengaruhi segala sesuatu yang lain di dalam diri orang itu. Menurut psikologi gestalt, penekannya adalah selalu pada totalitas atau keseluruhan, bukan pada bagian-bagian.
Kurt Lewin (1890-1947) sebagai salah satu tokoh dan pengembang teori medan mengatakan bahwa perilaku manusia waktu tertentu ditentukan oleh jumlah total dari fakta psikologis pada waktu tertentu. Menurutnya, fakta psikologis adalah segala sesuatu yang disadari manusia, seperti rasa lapar, ingatan masa lalu, memiliki sejumlah uang, berada ditempat tertentu atau di depan orang lain. Life space seseorang adalah jumlah total dari semua fakta psikologis ini dan hal itu menentukan prilaku seseorang pada waktu tertentu.
Dalam jurnal yang disusun oleh DR. phil. Hana Panggabean  tentang Gestalt menjelaskan bahwa Life Space, yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu. Life space terbagi atas bagian-bagian memiliki batas-batas.
Batas ini dapat dipahamis ebagai sebuah hambatan individu untuk mencapai tujuannya. Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. Dalam lapangan psikologis ini juga terjadi daya (forces) yang menarik dan mendorong individu mendekati dan menjauhi tujuan. Apabila terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium), maka terjadi ketegangan (tension). Perilaku individu akan segera tertuju untuk meredakan ketegangan ini dan mengembalikan keseimbangan.Apabila individu menghadapi suatu obyek, maka bagaimana valensi dari nilai tersebut bagi si individu akan menentukan gerakan individu.
Pada umumnnya individu akan mendekati obyek yang bervalensi positif dan menjauhi obyek yang bervalensi negatif. Dalam usahanya mendekati obyek bervalensi positif, sangat mungkin ada hambatan. Hambatan ini mungkin sekali menjadi obyek yang bervalensi negatif bagi individu. Arah individu mendekati/menjauhi tujuan disebut vektor. Vektor juga memiliki kekuatan dan titik awal berangkat.

·         Nature versus Nurture
Penganut Gestaltis memberi peran yang lebih aktif pda otak. Menurut teoritisi Gestalt, otak bukan penerima pasif dan gudang penyimpan informasi dari lingkungan. Otak bereaksi terhadap informasi sensoris yang masuk dan otak melakukan penataan yang membuat informasi itu lebih bermakna. Ini bukanlah fungsi yang dipelajari; ini adalah “sifat alami” dari otak dalam menata dan memberi makna pada informasi sensoris.
Gestaltis menunjukan bahwa kemampuan organisasional otak tidak diwariskan; kemapuan itu lebih merupakan ciri sistem fisik, dan otak hanyalah salah satunya. Berbeda dengan aliran behavioris yang mempostulatkan otak yang pasif yang merespon pada informasi sensoris, sedangkan Gestaltis mempostulatkan otak aktif yang mengubah informasi sensoris.
·         Hukum Pragnanz
Perhatian utama Psikologi Gestalt adalah pada fenomena perseptual yang mana prinsip yang paling menonjol dalam hal  tersebut yaitu hukum pragnanz. Koffka (1963[1935]) mendeskripsikan hukum parganaz sebagai berikut : “Penataan psikologis selalu sebaik yang diizinkan oleh lingkungan pengontrolnya”.yang dimaksud baik oleh Koffka adalah kualitas-kulaitas seperti sederhana, komplit, ringkas, simetris, atau harmonis. Karena pengaruh Pragnanz kita dapat melihat pengaturan delapan titik pada gambar seperti sebuah persegi panjang atau lingkaran, namun bila tata letak titik tersebut tidak memliki bentuk yang baik, kita hanya kan mempersepsi sutu bentuk yang abstrak.
Hukum Pragnanz dipakai oleh Gestaltis sebagai prinsip pedoman mereka meneliti persepsi, belajar dan memori. Dalam masalah belajar dan memori juga tidak terlepas dari prinsi penutupan atau pengakhiran dimana prinsip tersebut menyatakan tendensi untuk menyelesaikan pengalaman yang belum lengkap.
B. Otak dan Pengalaman Sadar
            Gestaltian menganut pandangan yang berbeda dalam memandang problem tubuh-pikiran. Mereka mengasumsikan adanya ishomorphism (ismorfisme) antara pengalaman psikologis dengan proses yang ada dalam otak. Stimulasi eksternal menimbulakn reaksi otak, dan kita merasakan atau mengalami reaksi itu saat reaksi itu terjadi di otak. Perbedaan utama atara pendapta ini dengan pendapat strukturalis adalah Gestaltian percaya bahwa otak aktif mengubah stimulasi sensoris.
Karenanya, otak mengorganisasikan, menyederhanakan, dan memberi makna pada informasi sensoris yang datang. Jadi siomorfisme, istilah yang menyiratkan kesetaraan bentuk, menggunakan asumsi bahwa ‘gerak atom dan molekul di otak’ secara mendasar ‘tidak berbeda dnegan pikiran dan perasaan’ namun dalam aspek molarnya, yang dianggap sebagai proses perluasan, adalah identik. Para psikolog gestalt berkali-kali menyatakan pendapatnya bahwa dunia fenomenal (kesadaran) adalah ekspresi yang akurat dari situasi, yakni kekuatan medan yang ada dlam otak.
Psikolog gestalt mengatakan bahwa isi pikiran (kesadaran) datang ke kita dalam keadaan sudah tertata. Menutur Gestaltis, aktivitas otak berhubungan secara dinamis dengan isi pemikiran. Seain itu menurut aliran ini, otak secara aktif mengubah informasi sensoris yang masuk berdasarkan hukum Pragnanz, dan informasi yang telah diubah itulah yang kita “ sadari “. Karena sangat percaya pada “pikiran aktif”, Gestaltis jelas termasuk rasionalis, dan karena mereka percaya bahwa “kekuatan pikiran” itu ditentukan secara genetik. Menurut psikolog Gestalt, penjelasannya sudah jelas: otak aktif mengisi ruang kosong.
C. Prinsip Belajar Gestalt
            Proses belajar adalah fenomena kognitif. Apabila individu mengalami proses belajar, terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Setelah proses belajar terjadi, seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem. Karena Psikolog Gestalt terutama adalah teoritisi medan yang medan tertarik pada fenomena perseptual, tidak mengejutkan jika mereka memandang belajar sebagai problem khusus dalam persepsi.
Dalam buku Teori-Teori belajar yang ditulis oleh Prof. Dr. Ratna Wilis Dahar, M.Sc menjelaskan bahwa menurut Gestalt-Field belajar adalah suatu proses perolehan atau perubahan insight, pandanga-pandangan (outlooks), harapan-harapan, atau pola-pola berpikir. Mereka mengasumsikan bahwa ketika suatu organisme berhadapan dengan sebuah problem, akan muncul keadaan disekuilibrium kognitif dan keadaan ini akan terus berlanjut sampai problem terselesaikan. Karenannya, menurut psikolog Gestalt, disekuiblirirum kognitif mengandung unsur motivisiobal yang menyebabkan organisme berusaha untuk mendapatakan kembali keseimbangan dalam sistem mentalnya.
Menurut hukum Pragnanz, keseimbangan kognitif lebih memuaskan  ketimbang ketidakseimbangan kognitif. Bukti atas pendapat ini diberikan oleh karya Bluma Zeigarnik, yang menemukan bahwa tugas yang belum selesai akan selalu diingat lebih lama dan detail ketimbang tugas yang sudah selesai. Dia menjelaskan fenomena ini dalam term properti motivasional dari suatu problem yang terus ada sampai problem itu dipecahkan.
Belajar, menurut Gestaltis, adalah fenomena kognitif. Organisme “mulai melihat” solusi setelah memikirkan problem . pembelajar (siswa) memikirkan semua unsur yang dibutuhkan untuk memecahkan problem dan menempatkannya bersama secara bersama (secara kognitif) dalam  satu cara dan kemudian ke cara-cara lainnnya sampai problem terpecahkan. Ketika solusi muncul, organisme memperoleh (insight)  tentang solusi problem. Berbeda dengan Thordike yang percaya bahwa belajar adalah bersifat kontiniu yaitu ia bertambah secara bertahap sedikit demi sedikit sebagai fungsi dari percobaan penguatan. Sedangkan Gestaltis percaya bahwa solusi itu bisa didapatkan atau tidak sama sekali, belajar menurut mereka bersifat diskontiniu.
Menurut Teori Gestalt, prinsip-prinsip belajar adalah:
  1. Belajar berdasarkan keseluruhan, di mana guru harus berusaha untuk menghubungkan suatu pelajarandengan pelajaran yang lain sebanyak mungkin. Mata pelajaran yang bulat (utuh) jauh lebuh udahdimengerti dari pada bagian-bagian.
  2.  Belajar adalah suatu proses perkembangan, di mana anak baru dapat mempelajari sesuatu bila telah matang untuk menerima pelajaran.
  3. Siswa harus dipandang sebagai sebagai suatu organisme yang utuh. Di mana guru harus menmperhatikan seluruh aspek dalam kepribadian anak, bukan hanya aspek intelektualnya saja.
  4. Dalam belajar harus dipikirkan bahwa anak dapat memindahkan pengalamanya untuk pengalaman yang lain atau untuk pengalaman yang baru.
  5. Belajar adalah inrteraksi antara individu dengan lingkungan.

  1. Belajar harus dapat mengembangkan insight, di mana anak mam-pu menemukan sangkut-paut suatu problema yang satu dengan problema yang lain.
  2. Belajar berlangsung secara terus menerus

D. Pendapat Gestalt Mengenai Pendidikan
            Dalam mempermasalahkan belajar bagi siswa, para penganut teori Gestalt lebih menyukai istilah-istilah orang daripada organisme, lingkungan psikologi daripada lingkungan fisik atau lingkungan biologi, dan lebih suka menggunkan istilah interaksi daripada aksi atau reaksi. mereka berpendapat bahwa konsep-konsep  tersebut lebih memudahkan para guru dalam memberikan pembelajaran pada siswa dan konsep tersbutlah yang dimaksud field dalam proses belajar meagajar oleh  penganut teori Gestalt.
Gestaltis berpendapat bahwa problem yang tak selesai akan menimbulkan ambiguitas atau ketidakseimbangan organisasional dalam pikiran siswa, dan ini adalah kondisi yang tidak diinginkan. Ambuguitas dilihat sebagai keadaan negatif yang akan terus ada sampai problem terselesaikan. Dalam satu pengertian, pengurangan ambuguitas dapatdilihat sebaai teori Gestalt yang sejajar dengan gagasan penguatan dari kaum behaviouris. Akan tetapi, reduksi ambiguitas dapat dianggap sebagai penguat instrinsik, sedangakan behaviouris biasanya lebih menekankan pada penguat ekstrinsik.
Brumer dan Holt menganut gagasan Gestaltian bahwa belajar adalah memuaskan secara personal dan tidak perlu didorng oleh penguatan eksternal. Kelas yang beorientasi Gestalt akan dicirikan oleh hu ungan memberi-dan-,menerima anatar murid dan guru. Belajar berdasarkan pendapat Gestalt bisa dimulai dengan sesuatu yang familiar dan setipa langkah dalam pendidikan didasarkan pada hal-hal yang sudah dikuasai. Semua aspek pelajaran dibagi-bagi menjadi unit-unit yang bermakna, dan unit-unit itu harus berkaitan dengan seluruh konsep atau pengalaman. Guru yang berorientasi Gestalt mungkin menggunakan tekhnik ceramah, tetapi ia kan berusaha agar selalu ada interaksi antara guru dan murid. Dalam buku Teori-Teori belajar yang ditulis oleh Prof. Dr. Ratna Wilis Dahar, M.Sc juga mengatakan bahwa Guru yang menganut Gestalt-Field  berkeinginan untuk menolong para siswanya mengubah pemahamanmereka tentang masalah-masalah atau situasi-situasi secara signifikan.
E. Evaluasi Teori Gestalt
·         Kontribusi
Kontribusi yang paling penting dari teori Gestalt adalah kritiknya terhadap pendekatan molekular atau atomistik dari behaviorisme S-R. ditunjuk bahwa baik itu perspsi maupun belajar dicirikan oleh proses kognitif yang menagorganisasikan penglaman psikologis. Psikologi Gestalt menghadirkan tantangan yang bersifat produktif bahkan bagi kaum behavioris. Riset Spence (1942) tentang transposisi, misalnya muncul akibat dari pengaruh penjelasan tarnsposisi kognitif oleh Kohler. Fokus psikolog Gestalt pada belajar wawasan juga memberikan pandangan alternatif untuk mengkonseptualisasikan pengutan.
Dalam jurnal yang disusun oleh DR. phil. Hana Panggabean  tentang Gestalt menjelaskan bahwa implikasi dai teori Gestalt ini adalah Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif, berfokus pada higher mental process. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi, insight,dan problem solving beroperasi. Tokoh : Tolman dan Koehler.
Kontribusi teori Gestalt ini juga dapat dilihat dari implementasi teori ini dalam kehidupan belajar sehari-hari. Dalam sebuah jurnal dituliskan bahwa teori ini sangat efektif digunakan pada orang yang sedang belajar membaca Al-Qur’an. Dalam Jurnal tersebut dijelaskan metode SAS yang merupakan pendekatan dari teori Gestalt yang merupakan adalah suatu metoda yang menggunakan pendekatan strutural, yang dijabarkan melalui analisa dan sintesa, sehingga sebuah strukur mudah dipahami dan dihayati. Atau dengan kata lain metode SAS adalah suatu prosedur penyajian pelajaran secara terstruktur selanjutnya dan analisis dan disentesis kembali ke dalam bentuk semula. Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa keefektifan metode SAS ini dilihat dari dapatnya siswa dengan mudah belajar Al-Quran dalam usia yang muda.
           
·         Krirtik
Walaupun Gestalt menghadirkan tantangan penting bagi behaviorisme, ia taka pernah menempati kedudukan utam dlam teori belajar. Psikolog behavioristik tertarik untuk mereduksi problem belajar pada model yang saling sederhana, mengumpulkan banyak data yang berkaitan dnegan problem-problem terkecil dalam belajar, dan kemudian membangun teori lebih global berdasarkan prinsip elementer yang telah teruji. Ketika psikolog Gestalt ikut membahas soal belajr, merek mendeskripsikan belajar dlam term “pemahaman”, “makna”, dan “organisasi”, dimana konsep=konsep ini bermakna ditilik dari konteks riset behvioristik.
 

DAFTAR PUSTAKA
B.R. Hergenhahn & Matthew H. Olson. Theories Of Learning (Teori Belajar) edisi VII. Jakarta : Kencana, 2008

Prof. Dr. Ratna Wilis Dahar, M.sc. Teori-Teori Belajar. Jakarta : Erlangga
◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Sandri Andeski - All Rights Reserved