Belajar
pada hakikatnya adalah proses psikologis. Oleh karena itu, semua keadaan dan
fungsi psikologis tentu saja mempengaruhi belajar seseorang. Itu berarti beljar
bukan lah berdiri sendiri, terlepas dari factor lain seperti factor luar dan
dalam. Factor psikologis sebagai factor dari dalam tentu saja merupakan halyang
utama dalam menentukan intensitas belajar seorang anak. Kesehatan mental dinegara
kita merupakan barang baru boleh dikatakan baru berkembang sejak kurang lebih
50 tahun yang lalu, sehingga pemerintah dan masyarakat belum banyak
mengetahuinya.
Perlu
di ingat bahwa kesehatan mental itu adalah relative, dimana keharmonisan yang
sempurna antara seluruh fungsi-fungsi tubuh itu tidak ada, yang dapat diketahui
adalah berapa jauh jaraknya seseorang dari kesehatan mental yang normal.
Kadang-kadang orang menyangka bahwa setiap ada ketidak normalan akan termasuk
gangguan jiwa. Padahal orang yang sangat bodoh atau sangat cerdas, biasanya
bukan karena terganggu jiwanya, tapi karena berbedanya batas-batas kemampuan
yang ada padanya. Memang dalam keadaan terganggunya kesehatan mental dapat
menyebabkan orang tidak mampu menggunakan kecerdasannya.
A.
GANGGUAN EMOSIONAL DAN AGRESIVITAS DALAM PELAJAR
Dalam
pengertian tertentu, setiap anak punya pengecualian. Tidak ada dua anak yang
benar-benar mirip dalam cara mereka belajar dan berprilaku, dalam kegiatan dan
kesukaan mereka, dalam kemampuan dan motivasi mereka. Semua siswa akan
memperoleh manfaat dari program yang disesuaikan secara unik dengan kebutuhan
secara unik dengan kebutuhan mereka masing-masing.
Siswa
dikelompok-kelompokkan kedalam kelas-kelas , tapi tidak semua siswa bias
disatukan , beberapa siswa tidak mudah masuk ke dalam bentuk ini. Beberapa
siswa mempunyai cacat fisik atau indera, seperti kehilangan pendengaran atau
penglihatan atau cacat tulang serta ada siswa yang menderita keterbelakangan
mental, gangguan emosi dan perilaku, atau ketidakmampuan belajar yang
mengakibatkan mereka sulit belajar diruang kelas pendidikan umum tanpa bantuan.
Akhirnya beberapa siswa mempunyai kemampuan bakat yang begitu luar biasa
sehingga guru kelas pendidikan umum tidak mampu membantu kebutuhan unik mereka.
Semua
siswa mempunyai kemungkinan mengalami masalah emosi pada suatu saat dalam
karier sekolah mereka, tapi sekitar satu persen mengalami gangguan emosi atau
psikiatris yang begitu parah, berlangsung lama dan mendalam sehingga mereka
memerlukan pendidikan khusus.
Siswa
yang mengalami gangguan emosi dan perilaku (emotional and behavioral disorder)
telah didefenisikan sebagai orang yang kinerja pendidikannya secara merugikan
dipengaruhi dalam jangka waktu yang lama dengan kadar yang menyolok oleh setiap
kondisi berikut:
1. Ketidak mampuan belajar yang tidak dapat
dijelaskan oleh factor intelektual, indera, atau kesehatan.
2. Ketidakmampuan membina atau
mempertahankan hubungan antarpribadi yang memuaskan dengan teman sebaya dan
guru.
3. Tipe perilaku atau perasaan yang tidak
tepat dalam lingkungan normal.
4. Suasana hati ketidakbahagian atau
depresi mendalam yang umum.
5. Kecenderungan mengembangkan gejala fisik
ketekutan yang dikaitkan dengan masalah pribadi atau sekolah.
Penyebab
Gangguan Emosi dan Perilaku
Gangguan
emosi dan perilaku yang parah dan jangka panjang dapat merupakan akibat dari
banyak kemungkinan factor penyebab dalam pembentukan dan perkembangan individu
(Jones, Dohrn& Dunn,2004). Fungsi saraf, proses psikologis, sejarah salah
penyesuaian, konsep diri dan ketiadaan penerimaan social semuanya memainkan
peran (Hardman Drew & Winston-Egan, 1996; Roeser,Eccles &
Strobel,1998), beberapa factor seperti disfungsi dan kesalahan perawatan
kelurga , juga memainkan peran dalam gangguan yang mempengaruhi kinerja anak
sekolah.
Banyak
factor yang mempengaruhi, keluarga dapat mengganggu rasa aman dan harga diri
siswa dalam suatu kurun waktu. Perubahan struktur keluarga dapat mengakibatkan
anak murung, marah, tidak aman, bertahan dan kesepian, khususnya dalam kasus
perceraian yang terjadi dalam keluarga, relokasi ke komunitas baru, kehadiran
adik, kehadiran orang tua tiri baru, kematian anggota keluarga maupun penyakit
serius.
Karakteristik
Siswa Yang Mengalami Gangguan Emosi dan Perilaku
Yang
termasuk kedalam karakteristik siswa yang mengalami gangguan emosi dan perilaku
tampak pada pencampaian akademik yang buruk, hubungan antarpribadi yang buruk
dan hrga diri yang buruk (lewis & Sullivan,1996; quay dan werry 1986),
mencatat empat kategori umum: gangguan kelakuan, kecemasan penarikan diri,
ketidakdewasaan, dan gangguan agresi social. Misalnya, anak-anak yang mempunyai
gangguan kelakuan sering dicirikan sebagai orang yaqng tidak patuh,
kebingungan, egois, cemburu, merusak, tidak sopan, menentang, dan mengganggu.
Quay
dan Werry (1986) mencatat bahwa tiga yang opertama diantara kategori ini mengambarkan
perilaku yang salah menyesuaikan diri atau kesusahan pribadi. Penyertaan
gangguan kelakuan dalam penggolongan gangguan emosi dan perilaku menimbulkan
kontroversi. Menurut undang-undang, siswa yang mempunyai gangguan kelakuan juga
juga harus mengalami gangguan ketidakmampuan atau gangguan yang diakui lainnya
untuk menerima pelayanan pendidikan khusus.
Siswa
Yang Memperlihatkan Gangguan Agresif
Siswa
yang mengalami gangguan kelakuan agresif dapat sering berkelahi, mencuri,
merusak harta benda, dan menolak untuk mematuhi guru. Siswa ini cenderung tidak
disukai oleh teman sebaya, guru, dan kadang-kadang orang tua mereka. Biasanya
mereka tidak menanggapi hukuman atau ancaman, walaupun mereka dapat terampil
menghindari hukuman.
B.
TINGKAT INSPIRASI
Tujuan yang akan kita capai dan ketakutan akan
kegagalan dapat menentukan tingkat aspirasi kita. Tujuan yang kita percaya
bahwa kita dapat mencapainya dan bersedia untuk bekerja keras merupakan aspirai
kita. Tingkat aspirasi yang tinggi membutuhkan tantangan dan tujuan yang sulit.
Jika seseorang sukses mereka cenderung untuk menaikan aspirasi mereka.
Kegagalan pada seseorang mungkin berakibat positif
sama seperti akibat negatifnya. Beberapa pengalaman dengan kegagalan dapat
sangat berharga bagi individu itu untuk lebih berhati-hati dalam menentukan
tindakan. Beberapa siswa tetap belajar walaupun menghadapi kegagalan dan ini
merupakan sikap yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian.
Banyak siswa membutuhkan bantuan untuk menemukan
sekian alternative dalam mencapai tujuan mereka atau tujuan baru yang lebih
realistis. Beberapa siswa mungkin membutuhkan dukungan untuk mendapatkan
aspirasi.
C.
KECEMASAN DALAM BELAJAR
Siswa
yang khawatir karena mereka tidk dapat menyelesaikan tugasnya secara memuaskan
sering mengakhiri dengan perasaan cemas atau pengalaman yang membuat gelisah,
merupakan tanda bahwa ada ketegangan. Perasaan ini mungkin juga kurang
intensitasnya, tetapi kelihatannya mempunyai dampak yang signifikan pada tingkh
lakunya.
1. Perbedaan individual dalam masalah
kecemasansifat-sifat
Ahli psikologi tidak setuju bahwa
kecemasan merupakan umum pada semua siswa yang mempunyai sejumlah perbedaan
atau secara sderhana merespon situasi yang khusus. Seorang siswa yang mempunyai
kecenderungan untuk menjadi cemas atau khawatir barangkali lebih banyak
berespon terhadap banyak situasi, dengan telapak tangan yang berkeringat,
dengan jantung yang berdetak keras. Ini disebut trait anxiety (sifat
kecemasan).
Penelitian menemukan hubungan antara
kecemasan dengan prestasi akademik. Siswa yang mempunyai kecemasan tinggi
cenderung mendapat skor yang lebih rendah daripada skor siswa yang kurang cemas
(sarason,Davidson, lightall, waited an ruebush.1990). walaupun kita tidak
mengetahui secara pasti tampaklah bahwa kecemasan timbul karena prestasi
rendah. Meskipun begitu, prestasi rendah juga dapat memicu timbulnya kecemasan.
Kecemasan ini hanya berlaku pada tugas-tugas yang sederhana dan tidak berlaku
pada tugas-tugas yang sulit.
Sigmund Tobias (1999) menjelaskan
bagaimana kecemasn mempengaruhi siswa yang sedang belajar dan mempengaruhi
siswa yang sedang mengerjakan tes untuk mencapai prestasi. Ketika siswa sedang
belajar materi baru, perhatian sangat diperlukan. Kita tidak akan belajar jika
tidak memperhatikan hal-hal yang penting. Siswa yang mempunyai kecemasan tinggi
secara jelas membagi perhatian mereka pada materi baru dan perasaan nevous
mereka. Jadi sejak siswa merasa cemas, dia mungkin telah kehilangan banyak
informasi yang disampaikan guru atau buku yang sedang dibaca.
Siswa dengan kecemasan tinggi juga akan
berpengaruh pada perhatian terhadap pelajaran yang sulit yang mengantungkan
pada ingatan jangka pendek, tidak dapat mengorganisasikan pelajaran dengan
baik. Jadi, kecemasan mempengaruhi siswa ketika mereka mengerjakan tes dan
ketika mereka belajar.
2. Mengatasi kecemasan
Seorang guru hendaknya membantu siswa yang mempunyai
kecemasan untuk melihat persoalan lebih realitas. Kecemasan dapat muncul secara
tiba-tiba dan menganggu perhatian siswa. Pengajaran yang paling efektif untuk
siswa yang mempunyai kemampuan rata-rata atau yang mempunyai kemampuan tinggi,
ialah dengan membuat pengajaran yang terstruktur. Program yang terstruktur
menawarkan penyelesaian. Program ini membiarkan siswa untuk mengulang dan
mengurangi kegagalan yang sering membuat ketakutan pada siswa yang mempunyai
kecemasan tinggi. Kemungkinan lain adalah dengan audio (video tape) yang dapat
diputar ulang untuk mengulang bagian-bagian yang hilang membantu siswa yang
cemas agar belajar.
Timbulnya kecemasan yang paling tinggi di sekolah
adalah pada waktu siswa menghadapi tes atau ujian. Jika siswa cemas berarti
hasil tes mereka tidak valid untuk mengukur kemampuan mereka.
Contoh cara mengatasi kecemasan:
a. Gunakan kompetensi secara hati-hati
b. Hindari situasi disaat siswa yang
mempunyai kecemasan tinggi ditempatkan di depan, misalnya, duduk dibangku
paling depan. Berikan latihan pada siswa yang punya kecemasan tinggi untuk
berbicara didepan orang banyak sebelum dimasukan kekelompok kecil.
c. Semua perintah harus jelas
d. Hindari menekankan waktu yang tidak
penting.
e. Pindahkan beberapa tekanan dari tes-tes
terstandar yang diperlukan ke tes sehari-hari.
D.
KONSEP DIRI
Gambaran
diri kerkembang dari interaksi – interaksi orang tua dan anak. Lewat pujian dan
hukuman, anak belajar bahwa orangtuanya mengharapkan supaya menampilkan tingkah
laku tertentu dan menjauhi tingkah aku – tingkah laku yang lain. Gambaran diri
ini meliputi baik konsep diri maupun cita-cita seseorang bagi dirinya sendiri, atau
dengan istilah lain, diri real(the real self), dan diri ideal(the ideal self).
Banyak pertumbuhan terjadi karena adanya gambaran diri. Salah satu fungsinya
dari gambaran diri ialah menghubungkan waktu sekarang dan waktu yang akan
datang.
Menurut
Combs dan Snygg konsep diri itu terdiri dari persepsi- persepsi tentang diri
yang sangat penting bagi individu. Persepsi-persepsi ini merupakan hakikat dari
diri yang kalau hilang ,maka pribadi akan hancur. Kadang-kadang benda matipun
bias menjadi bagian dari konsep diri. Ide,keperayaan, dan keyakinan penting
bagi manusia. Kadang –kadang semuanya itu merupakn segi-segi lingkungan
fenomena, kadang-kadang segi dari diri fenomena dan kadang-kadang juga segi
dari konsep diri.
0 comments:
Post a Comment
silahkan tinggalkan komentar anda demi perbaikan blog ini!!!