A.
PENGERTIAN
EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN
Evaluasi yakni suatu kegiatan ubtuk
menentukan nilai sesuatu. Dalam hubungannya dengan pembelajaran/pendidikan terdapat beberapa
pengertian menurut para ahli sebagai berikut:
1.
Proses
pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa dan bagaimana
tujuan pendidikan sudah tercapai(Ralph Tyler,1950)
2.
Penaksiran
terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa kearah tujuan-tujuan atau nilai yang
ditetapkan(Wringhstone dkk,1956).
3.
Suatu
proses yang sistematis untuk menetukan atau menbuat keputusan sampai sejauh
mana tujuan-tujuan pengajaran dicapai oleh siswa(Gronlound,1975).
4.
Proses penilaian untuk mengambarkan prestasi
yang dicapai seorang siswa sesuai dengan criteria yang telah ditetapkan(Tardif,1989).
Dari beberapa pengertian diatas dapat
disimpulkan bahwa evaluasi dalam pembelajaran yakni suatu proses yang
sistematis melalui pengumpulan berbagai informasi/data dari peserta didik untuk
kemudian dinilai dengan berpedoman pada tujuan yang hendak dicapai atau
criteria yang ditetapkan.
B.
TUJUAN
EVALUASI HASIL BLAJAR
Secara umun ada lima evaluasi
blajar,yaitu:
1.
Penilaian
sebagai peransang atau dorongan, bertujuan untuk memotivasi peserta didik
Agar berusaha
melakukan yang terbaik sebagai hadiah atas pekerjaannya. Hadiah tersebut dapat
beupa nilai atau peringkat atas usaha belajar peserta didik.
2.
Penilaian
sebagai umpan balik bagi peserta didik, bertujuan menberikan gambaran peserta didik
tentang kekuatan dan kelemahanya karena peserta didik ingin tahu atas hasil usaha
mereka dalam belajar.dengan begitu dapat menbantu peserta didik dalam
menperbaiki kelemahan mereka dimasa yang
akan dating.
3.
Penilaian
sebagai umpan balik bagi pengajar, bertujuan untuk mengaetahui sejauh mana
tingkat keberhasilan pengajar dalam menjalankan tugasnya. Selain itu pengajar
juaga menperoleh gambaran
posisi/kedudukan peserta didik apakah termasuk kategori cepat didik dalam suatu
kurun tertentu , menperoleh gambaran posisi/kedududukan peserta didik apakah
termasuk kategori cepat, sedanga atau lambat, menperoleh tentang gambaran
tingkat usaha yang telah dilakukan peserta didik,menperoleh gambaran hingga
sejauh mana peserta didik telah mendayagunakan kapasitas kognitifnya serta
gambaran tentang ketepatan materi dan metode yang digunakan pengajar apakah
sesuai atau perlu diperbaiki. Misalnya pada pembelajaran terhadap peserta didik
sekolah dasar yang cendrung holistik, perlu digunakan metode khusus seperti
metode khusus seperti metode pembelajaran terpatu agar berhasil belajar dapat
lebih maksimal(Surisno Widodo, jurnal teknologi pendidikan, Vol.10 no.1 April
2010 Hal.8-15).
4.
Penilaian
sebagai umpan balik bagi orang tua, bertujuan sebagai informasi bagi orang tua
sehingga diharapkan ornga tua dapat bekerja sama menbantu peserta didik dalam
meningkatkan prestasi blajarnya.
5.
Penilaian
sebagai informasi untuk seleksi, bertujuan sebagai infomasi untuk seleksi,
bertujuan sebagai pedoman terhadap peserta didik unutk melanjutkan studi
ketinggkat yang lebih tinggi atau untuk tujuan lainnya seperti seleksi
pendidikan yang lebih tinggi atau untuk tujuan lainya seperti seleksi untuk
mendapatkan beasiswa dan pekerjaan.
C.
TEKNIK
PENILAIN HASIL BELAJAR
Terdapat setidaknya empat aspek yang menjadi
sasaran evaluasi terhadap manusia secara utuh yaitu kemanpuan, kepribadian,
sikap-sikap dan intelegensi. Untuk itu dibutuhkan alat/instrument evaluasi yang
baik, yaitu alat evaluasi mampu diukur aspek yang ingin diukur seobjektif
mungkin. Secara umun teknik-teknik yang dipakai dalam evaluasi untuk mengukur
aspek-aspek tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Teknik
nontes, meliputi akala bertingkat (rating scale), kuesioner,daftar cocok (check
list), wawancara (interview), pengamatan(obsevation) dan riwayat hidup.
2.
Teknik
tes, khhusus dalam dunia pembelajaran/pendidikan teknik yang umun diapakai
yakni teknik tes ini.
Menurut beberapa ahli tes didefenisikan sebagai berikut:
1.
Muchtar
Bukhori mengatakan bahwa tes adalah suatu percobaan yang diadakan ada atau
tidaknya hasil-hasil pembelajaran tertentu pada seorang murid atau kelompok
murid.
2.
Webser’s
Collegiate mengatakan bahwa, tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau
alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, inteegensi, kemanpuan
atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Dapat disimpulkan bahwa tes merupakan
suatu alat pengumpulan informasi tetapi jika dibandingakan dengan alat-alat
yang lain. Tes menpunyaii fungsi ganda yaitu untuk mengukur peserta didik dan untuk
mengukur keberhasilan program pembelajaran.
Ditinjau dari segi kegunaannya tes dibedakan tiga macam
yaitu:
1.
Tes
diagnostic, yakni tes yang digunakan untuk mengatahui kelemahan-kelemahan perlakuan
yang tepat.
2.
Tes
formatif, yakni yang dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik
telah mengikuti suatu program tertentu, contohnya ulangan harian
3.
Tes
sumatif, yakni tes yang dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok
program atau sebuah program yang lebih besar. Dalam pembelajaran, contohnya
ulangan akhir semester.
Sedangkan tes dqari segi bentuknya adalah sebagai
berikut:
1.
Tes
subjektif, yakni tes yang memerlukan pemaparan , umunnya terbentuk esai
(uraian) yang menbutuhkan pembahasan sebagai
jawaban atas daftar pertanyaan.
2.
Tes objektif,yakni tes yang pemeriksaannya dapat
dilakuakan secara lebih objektif , secara seadanya menurut pedoman yang
ditentukan sebelumnya. Tes ini terdiri dari beberapa jenis , yaitu:
a.
Tes
benar-salah, soal-soal dalam tes ini berbentuk pertanyaan yang pilihan jawabannya
hanya dua macam, yakni “B” jika pertanyaan itu benar dan “S” jika pertanyaan
itu salah. Apabila disusun dalam bentuk pertanyaan, biasaanya alternative
jawaban yang harus dipilai ialah aya atau tidak.
b.
Tes
pilihan penganda , biasanya berupa pertanyaan yang dapat dijawap dengan memilih
salah satu dari empat atau lima alternative yang mengiringi setiap soal. Cara
yang sangat lazim digunakan ialah penyilang (x) salah satu huruf A,B,C,D atau
E yang menandai alternative jawaban yang
benar.
c.
Tes
pencocokan, disusun dalam dua daftar yang masing-masing menbuat kata, istilah ,
atau kalimat yang diletakkan bersebelahan untuk mencari pasangan yang selaras
anatara kalimat atau istilah yang ada pada daftar A (berisi aitem-aitem yang
ditandai dengan no urut 1 sampai 10 dan seterusnya menurut kebutuhan) dengan
daftar B terdiri atas aitem-aitem yang
ditandai huruf A,B,C dan seterusnya.
d.
Tes
isisan,biasanya berbentuk cerita atau karangan pendek, yang pada bagian-bagian
yang memuat istilah atau nama tertentu yang dikosongkan .
e.
Tes
melengakapi, pada dasarnya sama menyelesaika tes isian, perbedaanya terletak pada kalimat-kalimat yang tersusun
dalam karangan atau cerita pendek tetapi dalam bentuk kalimat-kalimat yang
berdiri sendiri.
Selain teknik tes, yang menpunyai
kelemahan karena hanya mengukur aspek kognitif , sedangkan pendidikan ( bukan
hanya pembelajaran ), sebagaimana tercamtum pada undang-undang nomor 20 tahun
2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangakan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan , pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa , dan
Negara. Teknik ini juga digunakan untuk pengukuran ranah afektif dan ranah
psikomotorik peserta didik, dapat diuraikan sebagai berikut:
1.
Pengukuran
ranah afektif
Pengukuran
ranah afektif tidak semudah mengukur ranah kognitif yang diukur dengan teknik
tes , karena yang diukur adalah sikap/perilaku peserta didik , bukan
pengetahuanya. Contohnya pada mata pelajaran kewarganegaraan , agama dan budi
pekkerti. Beberapa bentuk skala dalam mengukur sikap antara lain:
·
Skala
Likert, disusun dalam bentuk pernyataan dan diikuti dengan lima respon yanga
menunjukan tingkatan yaitu sangat setuju (SS), setuju(S), tidak berpendapat
(TB), tidak setuju (TS), dan sangat
tidak setuju (STS).
·
Skala
Thurstone, mirip skala Likert namun diikuti oleh lima sampai dengan sepuluh
butir pertanyaan.
·
Pengukuran
bertingkat , dengan asumsi jika responden setuju dengan pernyataan pertama,
begitu seterusya.
·
Semantic
Differential, disusun oleh osgot dan
kawab-kawan mengukur konsep-konsep untuk tiga dimensi, denngan kategori
baik-baik , kuat-lemah, cepat-lambat, pasif-aktif atau berguna tidak berguna.
·
Pengukuran
minat , mengukur minat menggunakan skala seperti dari sangat senang (SS) hingga
sangat tidak setuju (STS).
2.
Pengukuran
ranah psikomotor
Pengukuran
ranah psikomotor digunakan untuk mengukur hasil-hasil belajar berupa keterampilan, instrument yang
digunakan berupa matriks ke bawah menyatakan aspek ( bagian keterampilan yang
diukur ) dan kekanan menunjukan skaor yang dapat dicapai. Pengukuran ini
digunakan misalnya pada mata pelajaran keterampilan memasak dan olah raga.
D.
KESIMPULAN
Evaluasi terhadap hasil belajar
peserta didik cukup hanya menilai dari aspek kognitif, namun juga memaksimalkan
evaluasi aspek afektif dan psikomotor jika ingin meraih tujuan dari pendidikan
itu sendiri. Selain itu, factor mengajar menjadi pentiang agar metode, baik
pengajaran maupun penialaina yang digunakan sesuai dengan keadaan peserta didik
daik segi usia secara fisik maupun aspek psikologisnya.
Evaluasi dalam dunia pendidikan
memiliki banyak model dan pendekatan , mulai dari model yang didominasi pengukuran secara kuantitatif
seperti pada measurement model hingga model yag menggunakan pendekatan
kiualitatif seperti iiluminative model ( Rohmat Qomari,jurnal pemikiran alternative
pendidikan insania, vol.13 no 2 mei-agust 2008 hal 173-188 ). Sehingga pengajar
dapat memilih atau mengkombinasikan model evaluasi, bukan hanya terpaku pada
satu mudel saja . selain itu, karena ikut mengevalluasi keberhasilan program
pembelajaran tidal cukup hanya dengan mengadakan penilaian terhadap hasil belajar siswa sebagai produk dari sebuah proses
embelajaran, kualitas suatu produk pembalajaran tidak terlepas dari
kualiatas proses pembelajaran itu
sendiri.
DAFTAR PUSTAKA:
Muhibbin Syah.2000.Psikologi Pendidikan.Bandung:
Remaja Rosda Karya.
Prof.Dr.Suharsimi Arikkunto.2007.
Dasar-Dasar Evaluasi Belajar.Jakarta: Bumi Aksara
Sri Esti Wuryani Djiwandono.2002.Psikologi
Pendidikan.Jakarta: Gramedia Widia Sarana Indonesia.
Surisno Widodo,Jurnal Teknologi Pendidikan,vol.10
no.1 april 2010 hal.8-15
Rohmad Qomari,Jurnal Pemikiran Alternative
Pendidikan Insania, vol.13 no.2 Mei-Agust 2008 Hal. 173-188
0 comments:
Post a Comment
silahkan tinggalkan komentar anda demi perbaikan blog ini!!!