TEORI GESTALT
A. Konsep Teoritis Utama
Pelopor yang mengutarakan konsep ini
adalah Marx Werheimer (1880) dan rekannya Wolfgang Kohler (1887-1967) dan Kurt
Kofka (1886-1941). Werheimer menekankan keseluruhan itu lebih penting daripada
sebagian-sebagian menjadikannya. Mahzab
Gestalt/kognitif berpendapat bahwa setiap manusia mempunyai keupayaan mental
mengelola, menyusun, menyimpan dan mengeluarkan semua pengalaman untuk
membolehkan ia memeperhatikan pertalian diantara pengalaman tersimpan yang
dihadapi.
·
Teori Medan
Psikologi gestalt dapat dianggap sebagi
usaha untuk mengaplikasikan Field Theory (teori medan) dari fisika ke problem
psikologi. Secara umum, medan dapat dideskripsikan sebagai sistem yang saling
terkait secar dinamis, dimana stiap bagianna saling mempengaruhi satu sama
lain. Psikologi Gestalt menggunakan konsep medan ini dalam banyak level.
Psikologi gestalt percaya bahwa apa pun yang terjadi pada seseorang akan
mempengaruhi segala sesuatu yang lain di dalam diri orang itu. Menurut
psikologi gestalt, penekannya adalah selalu pada totalitas atau keseluruhan,
bukan pada bagian-bagian.
Kurt Lewin
(1890-1947) sebagai salah satu tokoh dan pengembang teori medan mengatakan
bahwa perilaku manusia waktu tertentu ditentukan oleh jumlah total dari fakta
psikologis pada waktu tertentu. Menurutnya, fakta psikologis adalah segala
sesuatu yang disadari manusia, seperti rasa lapar, ingatan masa lalu, memiliki
sejumlah uang, berada ditempat tertentu atau di depan orang lain. Life space
seseorang adalah jumlah total dari semua fakta psikologis ini dan hal itu
menentukan prilaku seseorang pada waktu tertentu.
Dalam
jurnal yang disusun oleh DR. phil. Hana Panggabean tentang Gestalt menjelaskan bahwa Life Space,
yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. Lapangan psikologis
ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan
perilaku individu (B=f L). Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku
individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya
pada waktu tertentu. Life space terbagi atas bagian-bagian memiliki
batas-batas.
Batas ini
dapat dipahamis ebagai sebuah hambatan individu untuk mencapai tujuannya.
Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. Dalam lapangan
psikologis ini juga terjadi daya (forces) yang menarik dan mendorong individu
mendekati dan menjauhi tujuan. Apabila terjadi ketidakseimbangan
(disequilibrium), maka terjadi ketegangan (tension). Perilaku individu akan segera
tertuju untuk meredakan ketegangan ini dan mengembalikan keseimbangan.Apabila
individu menghadapi suatu obyek, maka bagaimana valensi dari nilai tersebut
bagi si individu akan menentukan gerakan individu.
Pada
umumnnya individu akan mendekati obyek yang bervalensi positif dan menjauhi
obyek yang bervalensi negatif. Dalam usahanya mendekati obyek bervalensi
positif, sangat mungkin ada hambatan. Hambatan ini mungkin sekali menjadi obyek
yang bervalensi negatif bagi individu. Arah individu mendekati/menjauhi tujuan
disebut vektor. Vektor juga memiliki kekuatan dan titik awal berangkat.
·
Nature versus Nurture
Penganut Gestaltis memberi peran yang
lebih aktif pda otak. Menurut teoritisi Gestalt, otak bukan penerima pasif dan
gudang penyimpan informasi dari lingkungan. Otak bereaksi terhadap informasi
sensoris yang masuk dan otak melakukan penataan yang membuat informasi itu
lebih bermakna. Ini bukanlah fungsi yang dipelajari; ini adalah “sifat alami”
dari otak dalam menata dan memberi makna pada informasi sensoris.
Gestaltis menunjukan bahwa kemampuan
organisasional otak tidak diwariskan; kemapuan itu lebih merupakan ciri sistem
fisik, dan otak hanyalah salah satunya. Berbeda dengan aliran behavioris yang
mempostulatkan otak yang pasif yang merespon pada informasi sensoris, sedangkan
Gestaltis mempostulatkan otak aktif yang mengubah informasi sensoris.
·
Hukum Pragnanz
Perhatian utama Psikologi Gestalt adalah
pada fenomena perseptual yang mana prinsip yang paling menonjol dalam hal tersebut yaitu hukum pragnanz. Koffka
(1963[1935]) mendeskripsikan hukum parganaz sebagai berikut : “Penataan
psikologis selalu sebaik yang diizinkan oleh lingkungan pengontrolnya”.yang
dimaksud baik oleh Koffka adalah kualitas-kulaitas seperti sederhana, komplit,
ringkas, simetris, atau harmonis. Karena pengaruh Pragnanz kita dapat melihat
pengaturan delapan titik pada gambar seperti sebuah persegi panjang atau
lingkaran, namun bila tata letak titik tersebut tidak memliki bentuk yang baik,
kita hanya kan mempersepsi sutu bentuk yang abstrak.
Hukum Pragnanz dipakai oleh Gestaltis sebagai
prinsip pedoman mereka meneliti persepsi, belajar dan memori. Dalam masalah
belajar dan memori juga tidak terlepas dari prinsi penutupan atau pengakhiran
dimana prinsip tersebut menyatakan tendensi untuk menyelesaikan pengalaman yang
belum lengkap.
B. Otak dan Pengalaman Sadar
Gestaltian
menganut pandangan yang berbeda dalam memandang problem tubuh-pikiran. Mereka
mengasumsikan adanya ishomorphism (ismorfisme) antara pengalaman psikologis
dengan proses yang ada dalam otak. Stimulasi eksternal menimbulakn reaksi otak,
dan kita merasakan atau mengalami reaksi itu saat reaksi itu terjadi di otak.
Perbedaan utama atara pendapta ini dengan pendapat strukturalis adalah
Gestaltian percaya bahwa otak aktif mengubah stimulasi sensoris.
Karenanya, otak mengorganisasikan,
menyederhanakan, dan memberi makna pada informasi sensoris yang datang. Jadi
siomorfisme, istilah yang menyiratkan kesetaraan bentuk, menggunakan asumsi
bahwa ‘gerak atom dan molekul di otak’ secara mendasar ‘tidak berbeda dnegan
pikiran dan perasaan’ namun dalam aspek molarnya, yang dianggap sebagai proses
perluasan, adalah identik. Para psikolog gestalt berkali-kali menyatakan
pendapatnya bahwa dunia fenomenal (kesadaran) adalah ekspresi yang akurat dari
situasi, yakni kekuatan medan yang ada dlam otak.
Psikolog gestalt mengatakan bahwa isi
pikiran (kesadaran) datang ke kita dalam keadaan sudah tertata. Menutur
Gestaltis, aktivitas otak berhubungan secara dinamis dengan isi pemikiran.
Seain itu menurut aliran ini, otak secara aktif mengubah informasi sensoris
yang masuk berdasarkan hukum Pragnanz, dan informasi yang telah diubah itulah
yang kita “ sadari “. Karena sangat percaya pada “pikiran aktif”, Gestaltis
jelas termasuk rasionalis, dan karena mereka percaya bahwa “kekuatan pikiran”
itu ditentukan secara genetik. Menurut psikolog Gestalt, penjelasannya sudah
jelas: otak aktif mengisi ruang kosong.
C. Prinsip Belajar Gestalt
Proses belajar adalah fenomena kognitif. Apabila individu mengalami
proses belajar, terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya.
Setelah proses belajar terjadi, seseorang dapat
memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem. Karena Psikolog Gestalt terutama adalah teoritisi
medan yang medan tertarik pada fenomena perseptual, tidak mengejutkan jika
mereka memandang belajar sebagai problem khusus dalam persepsi.
Dalam buku Teori-Teori belajar yang
ditulis oleh Prof. Dr. Ratna Wilis Dahar, M.Sc menjelaskan bahwa menurut Gestalt-Field
belajar adalah suatu proses perolehan atau perubahan insight,
pandanga-pandangan (outlooks), harapan-harapan, atau pola-pola berpikir. Mereka
mengasumsikan bahwa ketika suatu organisme berhadapan dengan sebuah problem,
akan muncul keadaan disekuilibrium kognitif dan keadaan ini akan terus
berlanjut sampai problem terselesaikan. Karenannya, menurut psikolog Gestalt,
disekuiblirirum kognitif mengandung unsur motivisiobal yang menyebabkan
organisme berusaha untuk mendapatakan kembali keseimbangan dalam sistem
mentalnya.
Menurut hukum Pragnanz, keseimbangan
kognitif lebih memuaskan ketimbang ketidakseimbangan
kognitif. Bukti atas pendapat ini diberikan oleh karya Bluma Zeigarnik, yang
menemukan bahwa tugas yang belum selesai akan selalu diingat lebih lama dan
detail ketimbang tugas yang sudah selesai. Dia menjelaskan fenomena ini dalam
term properti motivasional dari suatu problem yang terus ada sampai problem itu
dipecahkan.
Belajar, menurut Gestaltis, adalah
fenomena kognitif. Organisme “mulai melihat” solusi setelah memikirkan problem
. pembelajar (siswa) memikirkan semua unsur yang dibutuhkan untuk memecahkan
problem dan menempatkannya bersama secara bersama (secara kognitif) dalam satu cara dan kemudian ke cara-cara lainnnya
sampai problem terpecahkan. Ketika solusi muncul, organisme memperoleh
(insight) tentang solusi problem.
Berbeda dengan Thordike yang percaya bahwa belajar adalah bersifat kontiniu
yaitu ia bertambah secara bertahap sedikit demi sedikit sebagai fungsi dari
percobaan penguatan. Sedangkan Gestaltis percaya bahwa solusi itu bisa
didapatkan atau tidak sama sekali, belajar menurut mereka bersifat diskontiniu.
Menurut Teori Gestalt, prinsip-prinsip belajar adalah:
- Belajar berdasarkan keseluruhan, di mana guru harus berusaha untuk menghubungkan suatu pelajarandengan pelajaran yang lain sebanyak mungkin. Mata pelajaran yang bulat (utuh) jauh lebuh udahdimengerti dari pada bagian-bagian.
- Belajar adalah suatu proses perkembangan, di mana anak baru dapat mempelajari sesuatu bila telah matang untuk menerima pelajaran.
- Siswa harus dipandang sebagai sebagai suatu organisme yang utuh. Di mana guru harus menmperhatikan seluruh aspek dalam kepribadian anak, bukan hanya aspek intelektualnya saja.
- Dalam belajar harus dipikirkan bahwa anak dapat memindahkan pengalamanya untuk pengalaman yang lain atau untuk pengalaman yang baru.
- Belajar adalah inrteraksi antara individu dengan lingkungan.
- Belajar harus dapat mengembangkan insight, di mana anak mam-pu menemukan sangkut-paut suatu problema yang satu dengan problema yang lain.
- Belajar berlangsung secara terus menerus
D. Pendapat Gestalt Mengenai Pendidikan
Dalam
mempermasalahkan belajar bagi siswa, para penganut teori Gestalt lebih menyukai
istilah-istilah orang daripada organisme, lingkungan psikologi daripada
lingkungan fisik atau lingkungan biologi, dan lebih suka menggunkan istilah
interaksi daripada aksi atau reaksi. mereka berpendapat bahwa
konsep-konsep tersebut lebih memudahkan
para guru dalam memberikan pembelajaran pada siswa dan konsep tersbutlah yang
dimaksud field dalam proses belajar meagajar oleh penganut teori Gestalt.
Gestaltis berpendapat bahwa problem yang
tak selesai akan menimbulkan ambiguitas atau ketidakseimbangan organisasional
dalam pikiran siswa, dan ini adalah kondisi yang tidak diinginkan. Ambuguitas
dilihat sebagai keadaan negatif yang akan terus ada sampai problem terselesaikan.
Dalam satu pengertian, pengurangan ambuguitas dapatdilihat sebaai teori Gestalt
yang sejajar dengan gagasan penguatan dari kaum behaviouris. Akan tetapi,
reduksi ambiguitas dapat dianggap sebagai penguat instrinsik, sedangakan
behaviouris biasanya lebih menekankan pada penguat ekstrinsik.
Brumer dan Holt menganut gagasan
Gestaltian bahwa belajar adalah memuaskan secara personal dan tidak perlu
didorng oleh penguatan eksternal. Kelas yang beorientasi Gestalt akan dicirikan
oleh hu ungan memberi-dan-,menerima anatar murid dan guru. Belajar berdasarkan
pendapat Gestalt bisa dimulai dengan sesuatu yang familiar dan setipa langkah
dalam pendidikan didasarkan pada hal-hal yang sudah dikuasai. Semua aspek
pelajaran dibagi-bagi menjadi unit-unit yang bermakna, dan unit-unit itu harus
berkaitan dengan seluruh konsep atau pengalaman. Guru yang berorientasi Gestalt
mungkin menggunakan tekhnik ceramah, tetapi ia kan berusaha agar selalu ada
interaksi antara guru dan murid. Dalam buku Teori-Teori belajar yang ditulis
oleh Prof. Dr. Ratna Wilis Dahar, M.Sc juga mengatakan bahwa Guru yang menganut
Gestalt-Field berkeinginan untuk
menolong para siswanya mengubah pemahamanmereka tentang masalah-masalah atau
situasi-situasi secara signifikan.
E. Evaluasi Teori Gestalt
·
Kontribusi
Kontribusi yang paling penting dari teori
Gestalt adalah kritiknya terhadap pendekatan molekular atau atomistik dari
behaviorisme S-R. ditunjuk bahwa baik itu perspsi maupun belajar dicirikan oleh
proses kognitif yang menagorganisasikan penglaman psikologis. Psikologi Gestalt menghadirkan tantangan
yang bersifat produktif bahkan bagi kaum behavioris. Riset Spence (1942)
tentang transposisi, misalnya muncul akibat dari pengaruh penjelasan
tarnsposisi kognitif oleh Kohler. Fokus psikolog Gestalt pada belajar wawasan
juga memberikan pandangan alternatif untuk mengkonseptualisasikan pengutan.
Dalam jurnal yang disusun
oleh DR. phil. Hana Panggabean tentang
Gestalt menjelaskan bahwa implikasi dai teori Gestalt ini adalah Pandangan
Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk
menggali proses belajar kognitif, berfokus pada higher mental process. Adanya
perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana
proses-proses mental seperti persepsi, insight,dan problem solving beroperasi.
Tokoh : Tolman dan Koehler.
Kontribusi
teori Gestalt ini juga dapat dilihat dari implementasi teori ini dalam
kehidupan belajar sehari-hari. Dalam sebuah jurnal dituliskan bahwa teori ini
sangat efektif digunakan pada orang yang sedang belajar membaca Al-Qur’an.
Dalam Jurnal tersebut dijelaskan metode SAS yang merupakan pendekatan dari
teori Gestalt yang merupakan adalah suatu
metoda yang menggunakan pendekatan strutural, yang dijabarkan melalui analisa
dan sintesa, sehingga sebuah strukur mudah dipahami dan dihayati. Atau dengan
kata lain metode SAS adalah suatu prosedur penyajian pelajaran secara
terstruktur selanjutnya dan analisis dan disentesis kembali ke dalam bentuk
semula. Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa keefektifan metode SAS ini
dilihat dari dapatnya siswa dengan mudah belajar Al-Quran dalam usia yang muda.
·
Krirtik
Walaupun Gestalt menghadirkan tantangan
penting bagi behaviorisme, ia taka pernah menempati kedudukan utam dlam teori
belajar. Psikolog behavioristik tertarik untuk mereduksi problem belajar pada
model yang saling sederhana, mengumpulkan banyak data yang berkaitan dnegan
problem-problem terkecil dalam belajar, dan kemudian membangun teori lebih
global berdasarkan prinsip elementer yang telah teruji. Ketika psikolog Gestalt
ikut membahas soal belajr, merek mendeskripsikan belajar dlam term “pemahaman”,
“makna”, dan “organisasi”, dimana konsep=konsep ini bermakna ditilik dari
konteks riset behvioristik.
DAFTAR PUSTAKA
B.R. Hergenhahn & Matthew H. Olson. Theories Of Learning (Teori
Belajar) edisi VII. Jakarta : Kencana, 2008
Prof. Dr. Ratna Wilis Dahar, M.sc. Teori-Teori Belajar. Jakarta :
Erlangga
1 comments:
Teori Gestalt: Memahami Fenomena Visual ~ BiteBrands http://bit.ly/10nN6Ox
Post a Comment
silahkan tinggalkan komentar anda demi perbaikan blog ini!!!