Pendekatan Behavioral dan Kognitif
dalam Belajar
Pembelajaran
adalah pengaruh permanen atas perilaku,
pengetahuan, dan keterampilan berpikir, yang diperoleh melalui pengalaman.
Pembelajaran melibatkan perilaku akademik dan non-akademik.
Tidak
semua yang kita tahu diperoleh dari belajar. Kita mewarisi beberapa
kemampuan-kemampuan itu sejak lahir , tidak dipelajari. Tetapi,
kebanyakan perilaku manusia tidak diwariskan begitu saja.
A. Pendekatan
behavioral untuk pembelajaran
Behaviorisme adalah pandangan yang
menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalamn yang dapat
diamati, bukan dengan proses mental.
Menurut kaum behavioris, perilaku adalah
segala sesuatu yang kita lakukan dan bisa dilihat secara langsung. Menurut
behavioris, pemikiran, perasaan dan
motif bukan subjek yang tepat untuk ilmu
perilaku sebab semuanya itu tidak bisa diobservasi secra langsung.
1. Pengkondisian
klasik
Pada awal 1900-an, psikolog Rusia Ivan
Pavlov tertarik pada cara tubuh mencerna makanan. Pavlov menyadari bahwa
asosiasi terhadap penglihatan dan suara dengan makanan ini merupakan tipe
pembelajaran yang penting, yang kemudian dikenal sebagai pengkondisian klasik (classical conditioning).
Pengkondisian klasik adalah tipe
pembelajaran di mana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan
stimuli. Dalam pengkondisian klasik, stimulus netral diasosiasikan dengan
stimulus yang bermakna dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respons
yang sama.
Pengkondsian klasik melibatkan dua tipr stimuli dan dua tipe respon, yaitu unconditioned stimulus (US), unconditioned response (UR), conditioned stimulus (CS), conditioned response (CR). UR adalah
respons yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US. CS
adalah stimulus yang sebelumnya
netral yang akhirnya menghasilkan CR
setelah diasosiasikan dengan US.
Pengkondisian klasik dapat berupa pengalaman negatif dan positif dalam diri
anak di kelas.
a.
Generalisasi,
Diskriminasi dan pelenyapan
Generalisasi dalam
pengkondisian klasik adalah tendensi dari stimulus baru yang sama dengan CS
yang asli untuk menghasilkan respons yang sama (Jones, Kemenes &
Bejamin,2001).
Diskriminasi dalam
pengkondisian klasik terjadi ketika organisme merespons stimuli tertentu tetapi tidak merespon stimuli
lainnya (Murphy, Beker, & Fouquet ,2001). Pelenyapan
(extinction) dalam pengkondisian
klasik adalah pelemahan CR karena tidak adanya US.
b.
Desentisasi
sistematis ( systematic desensitization)
Desentisasi sistematis
adalah sebuah metode yang didasarkan pada pengkondisian klasik yang dimaksudkan
untuk mengurangi kecemasan dengan cara membuat individu mengasosiasikan relaksasi dengan visualisasi situasi yang
menimbulkan kecemasan.
Desensitisasi
melibatkan sebuah tipe counterconditioning
(McNeil, 2000). Perasaan rileks yang dibayangkan murid (US) menghasilkan reaksi
(UR). Murid kemudian mengasosiasikan isyarat
yang menimbulkan kecemasan CS
dengan perasaan relaksasi. Semua isyarat yang menimbulkan kecemasan akan
menghasilkan relaksasi CR.
c.
Mengevaluasi
pengkondisian klasik
Pengkondisian klasik membantu
kita memahami beberapa aspek pembelajaran dengan lebih baik. Namun, cara ini
tidak efektif untuk menjelaskan perilaku sukarela, seperti mengapa murid belajar keras untuk
satu mata pelajaran atau lebih menyukai sejarah ketimbang geografi.
2.
Pengkondisian operan (pengkondisian
instrumental)
Pengkondisian operan adalah sebentuk pembelajaran di mana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku
menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi.
a.
Hukum
efek Thorndike
Hukum efek (law effect) Thorndike menyatakan bahwa
perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku
yang diikuti hasil negatif akan diperlemah. Pandangan Thorndike disebut teori
S-R karena perilaku organisme itu dilakukan sebagai akibat dari hubungan antara
stimulus dan respons.
b.
Pengkondisian
operan skinner
ü Penguatan dan hukuman
Penguatan/ imbalan (reinforcement), adalah kosekuensi yang
meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Penguatan ada dua
yaitu :
1.
Penguatan positif, frekuensi respons
meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan
atau diperoleh.
2.
Penguatan negatif, frekuensi respons
meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak
mennyenangkan) (Frieman,2002). Dalam penguatan negatif, ada sesuatu yang dikurangi
atau dihilangkan.
Hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas
terjadinya suatu perilaku.
ü Generalisasi, diskriminasi dan
pelenyapan
Generalisasi
dalam pengkondisian operant berarti memberikan respon yang sama terhadap
stimuli yang sama. Diskriminasi dalam pengkondisian operan berarti pembedaan di
antara stimuli dan kejadian lingkungan . dalam pengkondisian operan, pelenyapan
(extinction) terjadi ketika respon
penguat sebelumnya todak lagi diperkuat dan responnya menurun.di kelas,
pelenyapan yang paling umum bagi guru adalah tidak lagi memberi perhatian pada
suatu perilaku.
B.
Analisis
perilaku terapan dalam pendidikan
Analisis
perilaku terapan adalah prinsip pengkondisian operan untuk mengubah perilaku
manusia. Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang penting dalam bidang
pendidikan :
1.
Meningkatkan
perilaku yang diharapkan
Lima strategi pengkondisian operan dapat
dipakai untuk meningkatkan perilaku anak yang diharapkan :
a. Memilih
penguat yang efektif, tidak semua penguat akan sama efeknya bagi anak. Untuk
mencari penguat yang paling efektif bagi seorang anak , kita bisa meneliti apa
yang memotivasi anak di masa lalu (sejarah penguatan), apa yang ingin dilakukan
murid tapi tidak mudah diperolehnya, dan persepsi anak terhadap manfaat atau
nilai penguat.
Prinsip Premack, yang ditemukan oleh
David Premack, menyatakan bahwa aktivitas berprobabilitas tinggi dapat
berfungsi sebagai penguat aktivitas berprobabilitas rendah.
b. Menjadi
penguat kontingen dan tepat waktu. Agar sebuah penguat dapat efektif, guru
harus memberikan hanya setelah murid melakukan perilaku tertentu. Penguat akan
lebih efektif jika diberikan tepat pada waktunya, sesegera mungkin setelah
murid menjalankan tindakan yang diharapkan.
c. Memilih
jadwal penguat terbaik. Skinner (1953) menyusun konsep jadwal penguatan , yang
merupakan parsial yang menentukan kapan suatu respons akan diperkuat. Empat
jadwal penguatan utama :
v Jadwal
rasio-tetap, suatu perilaku diperkuat
setelah sejumlah respons.
v Jadwal
rasio-verbal, suatu perilaku
diperkuat setelah terjadi sejumlah respons, akan tetapi tidak berdasarkan pada
basis yang dapat diprediksi.
v Jadwal
interval-tetap, respons tepat pertama
setelah beberapa waktu akan dperkuat.
v Jadwal
interval- variabel, suatu respons
diperkuat setelah sejumlah variabel waktu berlalu.
d. Menggunakan
perjanjian
Perjanjian (contracting) adalah menempatkan kontingensi penguatan dalam
tulisan. Analisis perilaku terapan mengatakan bahwa perjanjian kelas harus
berisi masukan dari guru dan murid.
e. Menggunakan
penguatan negatif secara efektif
Menggunakan penguatan negatif memiliki
sejumlah kekurangan. Kadang-kadang ketika guru menggunakan strategi behavioral
ini, anak marah, lari ke luar ruang, atau menobrak-abrik barang.
2.
Menggunakan
dorongan (prompt) dan pembentukan (shaping)
Prompt
(dorongan) adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang diberikan
sebelum respons dan meningkatkan kemungkinan respons itu akan terjadi. Prompt
membantu perilaku terus berlajut. Setelah murid secara konsisten menunjukan
respon yang benar, maka prompt tidak
dibutuhkan lagi.
Shaping adalah mengajari perilaku baru
dengan memperkuat perilaku yang mirip dengan perilaku sasaran. Shaping diimplementasikan hanya jika
tipe penguatan positif dan prompt
tidakk berhasil. Shaping membutuhkan
penguatan sejumlah langkah kecil menuju keperilaku sasaran, dan ini mungkin memerlukan
waktu yang lama.
3.
Mengurangi
perilaku yang tidak diharapkan
Langkah-langkah mengurangi perilaku yang
tidak diharapkan :
a. Menggunakan
penguatan diferensial, guru
memperkuat perilaku yang lebih tepat atau yang tidak sesuai dengan apa yang
dilakukan anak.
b. Menghentikan
penguatan (pelenyapan). Strategi menghentikan penguatan ini adalah menarik
penguatan terhadap perilaku tidak tepat atau tidak pantas. Banyak guru
kesulitan untuk mengetahui apakah mereka telah memberi perhatian terlalu banyak
pada perilaku tidak tepat.
c. Menghilangkan
stimuli yang diinginkan. Dua strategi dalam opsi ini adalah :
·
Time-out.
Paling sering dipakai guru untuk menghilangkan stimuli yang diinginkan.
·
Responce
cost,
yakni menjauhkan penguatan positif dari murid. Seperti halnya time-out,
response cost harus diiringi dengan strategi untuk meningkatkan perilaku
positif si murid.
d. Menyajikan
stimuli yang tidak disukai (hukuman)
Stimuli tidak menyenangkan ini bukan
hukuman efektif karena stimuli itu tidak mengurangi perilaku yang tidak
diinginkan dan bahkan kadang-kadang menambahkan perilaku yang tak diinginkan.
Tipe paling umum dari stimuli yang tidak menyenangkan ini adalah guru
menggunakan teguran verbal.
4. Mengevaluasi
pengkondisian operan dan analisis terapan
Pengkondisian operan dan analisis
perilaku terapan memberi banyak kontribusi untuk praktik pengajaran
(Kadzin,2001 ;Martin & Pear,2002; Purdy,dkk,2001).
Kritrik terhadap pengkondisian operan
dan analisis perilaku terapan mengatakan bahwa seluruh pendekatan itu terlalu
banyak menekankan pada kontrol eksternal atas perilaku murid.
C.
Pendekatan
kognitif sosial untuk pembelajaran
Menurut
Plato kognitif atau berpikir adalah berbicara dalam hati. Selanjutnya ada
pendapat yang lebih menekankan kepada tujuan berpikir itu, yaitu yang
mengatakan bahwa berpikir itu adalah meletakkan hubunagn antara bagian-bagian
pengetahuan kita. Berpikir adalah proses yang dinamis yang dapat dilukiskan
menurut proses atau jalannya.
a.
Teori
kognitif sosial Bandura
Teori kognitif sosial menyatakan bahwa
faktor sosial dan kognitif, dan juga faktor perilaku, memainkan peran penting
dalam pembelajaran. Faktor kognitif mungkin berupa ekspektasi murid untuk
meraih keberhasilan ; faktor sosial mungkin mencakup pengamatan murid terhadap
perilaku orang tuanya.
Bandura mengembangkan model determinisme
resiprokal yang terdiri dari tiga faktor utama; perilaku, person/kognitif, dan
lingkungan. Faktor-faktor ini bisa saling berinteraksi untuk memengaruhi
pembelajaran.
Bandura mengatakan bahwa self-efficacy berpengaruh besar terhadap
perilaku. Misalnya seorang murid yang self-efficacy-nya rendah mungkin tidak
mau berusaha untuk mengerjakan ujian karena dia tidak percaya bahwa belajar
akan bisa membantunya mengerjakan soal.
b.
Pembelajaran
observasional
Pembelajaran observasional, juga
dinamakan imitasi atau modelling adalah pembelajaran yang dilakukan ketika
seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain.
Studi boneka bobo kalsik. Dalam sebuah
eksperimen yang dilakukan Bandura (1965) mengilustrasikan bagaimana
pembelajaran dapat dilakukan hanya dengan mengamati model yang bukan sebagai
penguat atau penghukum. Eksperimen ini juga
mengilustrasikan perebedaan antara pembelajaran dan kinnerja. Poin penting dalam studi ini
adalah bahwa pembelajaran observasional terjadi sama ekstensifnya baik itu ketika perilaku agresif diperkuat maupun
tidak diperkuat. Poin penting kedua dalam studi ini difokuskan pada perbedaan
antara pembelajaran dan kinerja.
Model pembelajaran observasional
kontemporer Bandura, prosesnya adalah :
o
Atensi.
Sebelum murid dapat meniru ttindakan model, mereka harus memerhatikan apa yang
dilakukan atau dikatakan si model. Murid lebih mungkin memerhatikan model
berstatus tinggi ketimbang model berstatus rendah.
o
Retensi.
Untuk mereproduksi tindakan model, murid harus mengkodekan informasi dan
menyimpannya dalam ingatan (memori) sehingga informasi itu bisa diambil kembali.
Retensi murid akan meningkat jika guru memberikan demonstrasi atau contoh yang
hidup dan jelas.
o
Produksi.
Anak mungkin memerhatikan model dan megingat apa yang mereka lihat, tetapi,
karena keterbatasan dalam kemampuan geraknya, mereka tidak bisa mereproduksi
perilaku model. Belajar, berlatih dan berusaha dapat membantu murid untuk
meningkatkan kinerja motor mereka.
o
Motivasi
. sering kali anak memerhatikan apa yang dikatakan atau dilakukan model, menyimpan
informasi dalam memori, dan memiliki
kemampuan gerak untuk meniru tindakan model, namun tidak termotivasi untuk
melakukannya.
Bandura
percaya bahwa penguatan tidak selalu dibuttuhkan agar pembelajaran
observasional terjadi. Ada tiga jenis penguat yang bisa menolong : memberi
imbalan pada model, memberi imblan pada anak, dan memerintahkan anak untuk
membuat pernyataan untuk memperkuat diri.
c.
Pendekatan
perilaku kognitif dan regulasi diri
Pendekatan perilaku kognitif,
penekanannya adalah untuk membuat murid memonitor, mengelola dan mengatur
perilaku mereka sendiri, bukan mengontrol mereka melalui faktor eksternal.
Pendekatan perilaku kognitif berusaha mengubah miskonsepsi murid, memperkuat
keahlian mereka dalam menangani sesuatu, meningkatkan kontroldiri, dan
mendorong refleksi diri yang kontruksif (Meichenbaum,1993).
Metode instruksi diri adalah sebuah
teknik perilaku kognitif yang dimaksudkan guna mengajari individu untuk memodifikasi
perilaku mereka sendiri. Strategi bicara pada diri sendiri yang bisa dipakai
guru dan murid untuk mengatasi situasi yang menggelisahkan :
“apa
yang harus aku lakukan?”
“aku
akan menyusun rencana untuk menganinya”
“aku
bisa menghadapi tantangan itu”
Aku
akan menjalankan setahap demi setahap”
“apa
ini yang harus aku lakukan?”
“
aku tahu aku akan tambah cemas. Aku cukup mengontrol diriku sendiri”
“bagus.
Aku bisa”
“
aku bisa mengatasinya dengan baik”
Dalam
banyak kasus, strateginya adalah mengganti pernyataan negatif dengan pernyataan
positif. Berbicara positif kepda diri sendiri dapat membantu guru dan murid
mewujudkan potensi penuh mereka. Para behavioris kognitif merekomendasikan agar
murid meningkatkan prestasi mereka dengan cara memonitor perilaku mereka sendiri. Monitor diri adalah strategi
yang bagus untuk meningkatkan pembelajaran, dan anda dapat mebantu murid
belajar melakukannya secara efektif.
Pembelajaran
regulasi diri, adalah memunculkan dan memonitor sendiri pikiran, perasaan dan
perilaku untuk mencapai suatu tujuan. Karakteristik pelajar regulasi diri
(Winne,1995,1997,2001):
o
Bertujuan memperluas pengetahuan dan
menjaga motivasi
o
Menyadari keadaan emosi mereka dan punya
strategi untuk mengelola emosinya
o
Secara periodik memonitor kemajuan ke
arah tujuannya
o
Menyesuaikan atau memperbaiki strategi
berdasarkan kemajuan yang mereka buat
o
Mengevaluasi halangan yang mungkin
muncul dan melakukan adaptasi yang diperlukan
Para
peneliti telah menemukan bahwa murid berprestasi tinggi sering kali merupakan
pelajar yang juga belajar mengatur diri sendiri. Perkembangan regulasi diri
dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah modeling dan self efficacy.
Model adalah sumber penting untuk menyampaiakn keterampilan regulasi diri.
Self-efficacy dapat mempengaruhi
murid dalam suatu tugas, usahanya, ketekunannya, dan prestasinya.
d.
Mengevaluasi
pendekatan kognitif sosial
Pendekatan kognitif sosial telah memberi
kontribusi penting untuk mendidik anak. Pembelajaran dilakuakn dengan mengamati
dan mendengar model yang kompeten dan kemudian meniru apa yang mereka lakukan.
Penekanannya pendekatan perilaku kognitif pada pembelajaran instruksi diri,
pembicaraan diri, dan regulasi diri, telah menimbulkan pergesaran penting dari
pembelajaran yang dikontrol orang lain ke kemauan untuk betanggung jawab atas
pembelajarang yang dilakukan seseorang.
Beberapa teoritisi kognitif percaya bahwa pendekatan
tersebut masih terlalu fokus pada perilaku dan faktor eksternal dan kurang
menjelaskan secara detail bagaiamana berlangsungya proses kognitif seperti
pikiran, memori, pemecahan masalah dan sebagainya.
0 comments:
Post a Comment
silahkan tinggalkan komentar anda demi perbaikan blog ini!!!