Mery dan Tryst
(dalam Soesilo, 1989) melihat bahwa hubungan antar manusia dengan lingkungannya
merupakan suatu jalinan transactional
interdependency atau terjadinya ketergantungan satu sama lain. Hal ini
hampir sama dengan pendapat Guilford, yaitu bahwa manusia mempengaruhi
lingkungannya. Untuk selanjutnya lingkungan akan mempengaruhi manusia, demikian
pula terjadi sebaliknya.
Manusia dan
lingkungan ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, keduanya
sama-sama memberikan sumbangsih. Manusia membutuhkan lingkungan untuk hidup dan
berperilaku, sedangkan tanpa manusia lingkungan tidak akan pernah ada.
Lingkungan adalah pemberi stimulus terbesar dalam kehidupan manusia.
Lingkunganlah yang mengajarkan individu untuk merespon dan melakukan sesuatu.
1.
Perilaku
spasial (jarak) manusia
Perilaku spasial adalah perilaku individu yang
berhubungan dengan jarak dalam interaksi baik secara fisik maupun psikologis.
Perilaku spasial adalah bagaimana orang menggunakan tatanan dalam
lingkungannya. Perilaku spasial berhubungan dengan ruang pribadi dan teritorial
:
a
Ruang pribadi (
personal space )
Ruang
pribadi adalah kawasan sekitar seseorang yang mereka anggap sebagai psikologis
mereka. Gagasan ruang pribadi berasal dari Edward T. Hall Ruang pribadi itu
sebuah tempat yang tidak terbatas oleh bentuk fisik . ruang pribadi adalah
tempat untuk menjadi diri kita sendiri. Melakukan sesuatu yang menjadi passion
kita. Keinginan yang terpendam, yang sangat bernafsu untuk kita wujudkan dan
kerjakan.
Dalam
kehidupan sehari-hari, ketika kita berbicara dengan orang lain, kita membuat
jarak terhadap orang yang kita ajak bicara, jarak ini sangat bergantung pada
bagaimana sikap dan persepsi kita terhadap orang tersebut. Persepsi ruang
inilah yang disebut oleh J.D. Fisher sebagai personal space. Personal space
didefinisikan sebagai suatu batas maya yang mengelilingi kita yang dirasakan
sebagai wilayah pribadi kita dan tidak boleh dilalui oleh orang lain.
Ruang
pribadi sering diukur melalui jarak fisik seseorang, Edward Hall (1959) seorang
pakar antropologi, mengajukan 4 daerah pokok untuk seseorang
melakukan interaksi interpersonal:
a. Jarak
intim (0-18 inci)
Jarak seperti ini
digambarkan oleh Edward bercumbu, berciuman, senggama, oral seks, dan ibu yang
menyusui anak nya.
b. Jarak
pribadi (18 inci- 4 kaki)
Jarak seperti ini
digambarkan ileh edward seperti
bercakap-cakap.
c. Jarak
sosial ( 4-7 kaki)
Jarak seperti ini
digambarkan oleh Edward seperti orang yang melakukan bisnis (metting).
d. Jarak
public (12-25 kaki)
Jarak seperti ini
digambarkan oleh Edward seperti orang lain berteriak memanggil orang lain.
b) Teritorial
Teritorial
adalah tempat yang dimiliki atau dikuasai oleh seorang individu. Perilaku
teritorial akan memberikan informasi dimana daerah teritorial seseorang.
Almant
membagi daerah teritorial menjadi 3, yaitu sbb:
a. Teritorial
Primer
Daerah ini dimiliki
secara keseluruhan, misalnya: rumah, apartemen, ruang kerja pribadi. Ini
dikelola secara relative permanen dan merupakan
hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari.
b. Teritorial
Sekunder
Daerah ini digunakan
secara teratur, tetapi digunakan bersama orang lain. Misalnya : rumah keluarga,
laboratorium dll.
c. Teritorial
public
Daerah ini digunakan
untuk kepentingan umum yang teritorialnya biasanya pemerintah, misalnya taman
bermain, perpustakaan.
c) Perbedaan
Perilaku Spasial Manusia
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya
perilaku spasial yang berbeda-beda antar individu, antara lain :
1. Jenis Kelamin
Umumnya laki-laki memiliki ruang yang
lebih besar, walaupun demikian faktor jenis kelamin bukanlah faktor yang
berdiri sendiri
2. Umur
Makin bertambah usia seseorang, makin
besar ruang personalnya, ini ada kaitannya dengan kemandirian. Pada saat bayi,
hampir tidak ada kemampuan untuk menetapkan jarak karena tingkat ketergantungan
yang makin tinggi. Pada usia 18 bulan, bayi sudah mulai bisa memutuskan ruang
personalnya tergantung pada orang dan situasi. Ketika berumur 12 tahun, seorang
anak sudah menerapkan RP seperti yang dilakukan orang dewasa.
3. Kepribadian
Orang-orang yang berkepribadian terbuka,
ramah atau cepat akrab biasanya memiliki RP yang lebih kecil. Demikian halnya
dengan orang-orang yang lebih mandiri lebih memilih ruang personal yang lebih
kecil. Sebaliknya si pencemas akan lebih mengambil jarak dengan orang lain,
demikian halnya dengan orang yang bersifat kompetitif dan terburu-buru.
4. Kekuasaan
dan Status
Makin besar perbedaan status makin besar
pula jarak antar personalnya.
5. Pengaruh
Lingkungan Fisik
Ruang personal juga dipengaruhi oleh
kondisi lingkungan fisik. Di ruang dengan cahaya redup orang akan nyaman jika
posisinya lebih berdekatan, demikian halnya bila ruangannya sempit atau kecil.
Orang juga cenderung memilih duduk di bagian sudut daripada di tengah ruangan.
Dan beberapa variasi lain seperti budaya, religi dan suku/etnis.
Dan beberapa variasi lain seperti budaya, religi dan suku/etnis.
2.
Rasa
Sesak Dan Sepi
Rasa
yang dirasakan seseorang terlalu sempit dan tidak memiliki ruang, keadaan ini
sangat relatif, tergantung perasaan seseorang. Keadaan sesak ini lebih kepada
negative, jika kita merasakan sesak maka kita akan kurang senang dan mengeluh.
Rasa
sesak sangat dipengaruhi oleh perasaan, tidak peduli dengan besar ruangan.
Contohnya: jika kita berenang di pantai yang sepi, ada beberapa orang yang
hadir maka kita akan merasa sesak, ini sangat berhubungan dengan perasaan dan
mood kita saat itu.
Sedangkan
rasa sepi dimana seseorang merasa sendiri dan tidak bisa merasakan kehangatan
orang-orang disekitarnya, perasaan juga sangat mempengaruhi keadaan orang yang
sedang sepi atau tidaknya. Misalnya di taman walaupun orang ramai tetapi kita
merasa sendiri di dalam keramaian tersebut.
3.
Stres
Lingkungan
Stres
lingkungan adalah stres yang disebabkan oleh gangguan lingkungan, disebabkan
oleh alam. Contoh stres lingkungan adalah kejadian seperti gempa bumi, banjir
maupun longsor. yang akan mengubah hal
tersebut sangatlah banyak, tetapi kita perlu cermati bahwa banyak
kejadian sehari-hari yang membuat kita stres, seperti kebisingan, panas, polusi
udara dll.
Penelitian stres lingkungan kita pusatkan pada kebisingan, pada
dunia yang modern pada saat ini, kebisingan disebabkan oleh bunyi mesin, suara
musik yang keras. Disini kita akan membagi kebisingan menurut lama waktu /
durasi:
1) Kebisingan
jangka pendek
Kadang-kadang kita mendengar suara ledakan tabung
gas 3 kg, ataupun kerusakan audio di tempat umum (mesjid, bel sekolah, dll),
atau ledakan dinamit.
Suara
keras seperti itu bisa membuat kita terkejut, dan respon kita seperti meloncat,
meneganggkan otot-otot perut kita, berkedip, dll. Jelas sekali gangguan seperti
itu sangat mengganggu kita untuk bekerja seperti biasanya.
Biasanya
adaptasi seseorang setelah mendengar ledakan tersebut akan cepat kembali
membaik, asalkan tidak menimbulkan kerusakan fisik. Sekitar 10 menit pendengaran akan kembali
seperti biasanya.
Penting
bagi kita untuk memprediksi kebisingan, karena sebelum kita mendengarkan
suarayang keras kita akan lebih dulu merespon untuk menghindari suara
kebisingan tersebut.
2) Kebisingan
jangka panjang
Beberapa penelitian di New York mengatakan
kebisingan sangat dipengaruhi oleh rancangan atau arsitektur bangunannya,
lantai yang lebih rendah akan selalu lebih bising dari pada lantai yang
jaraknya tinggi, dan situasi ini sangat memungkinkan untuk dilakukan
eksperimen.
Cohen, Glass dan Singer mengadakan eksperimen kepada
anak-anak yang tinggal di apartemen lebih dari 4 tahun, hasilnya tampak sangat
jelas bahwa anak-anak yang berada si apartemen yang lebih bising mempengaruhi
menurunnya kemampuan intelektualnya.
3) Bagaimana
Kebisingan Mempengaruhi Interaksi Sosial
Salah satu kesimpulan yang bisa diambil adalah
kebisingan sangat mempengaruhi kemampuan seseorang memperhatikan isarat-isarat
sosial. Dan salah satu yang penelitian yang lain, orang yang berjalan kaki di
tempat yang ramai lebih sedikit untuk mengingat semua yang ada di sekitarnya.
4.
Psikologi
Arsitektural
Rancangan arsitektural adalah suatu lingkungan
buatan yang di desain untuk kenyamanan manusia. Salah satu pertanyaan paling
menarik adalah bagaimana perancangan bangunan sekolah, atau pusat perbelanjaan
mempengaruhi perilaku kita?. Memang, struktur yang kita hasilkan atau yang
biasa disebut lingkungan binaan merupakan bagian dari dunia kita yang sangat
penting.
Beberapa rumah tampak menyenangkan untuk ditempati
dan yang lain tidak, beberapa toko mampu memberikan kenyamanan dengan tata
ruang dan tata letak yang baik bagi pengunjungnya. Hal ini karena lingkungan
binaan sangat mempengaruhi perilaku kita.
Menurut fisher dkk (1984) sampai
saat ini, pengaruh desain arsitektur terhadap perilaku seringkali masih
dipandang kecil. Meskipun direncanakan secara umum, rancangan kota dan
bangunan-bangunannya jarang sekali mempertimbangkan bagaimana kota dan bangunan
tersebut mempengaruhi perilaku manusia.
Ada
4 pandangan tentang seberapa besar arsitektur mempengaruhi perilaku manusia :
1. Pendekatan
kehendak bebas (free-will approach), pendekatan ini beranggapan bahwa
lingkungan tidak memberikan dampak apapun terhadap perilaku
2. Determenisme
arsitektural, lingkungan yang dibangun mempengaruhi perilaku manusia yang ada
didalamnya
3. Kemungkinan
lingkungan (environment posibibilism ), lingkungan tidak sepenuhnya
mempengaruhi perilaku individu
4. Probabilisme
lingkungan, individu dapat memilih variasi respon terhadap berbagai situasi
lingkungan.
5.
Kehidupan
Kota Besar
Amerika dan Kanada lebih dari 70% penduduknya
tinggal di kota besar. Selain masalah finansial, ada masalah kriminalitas, Sekolah yang tidak
berfungsi, jadi pandangan orang akan negativ jika mendengar kota.
Lingkungan fisik dan sosial sangat mempengaruhi apa
yang terjadi di kota-kota besar. Dilihat
dari lingkungan fisiknya lingkungan kota lebih bising, kotor, dan lebih
tercemar dibandingkan desa.
Sedangkan kontek hubungan sosial dari pada desa
adalah dikota lebih sesak manusia dari pada di desa, dan juga penduduk kota
beragam etnis, budaya dan ras nya. Ini memungkinkan terjadi penurunan
pernikahan.
Jika kita pandang dari kesehatan fisik dan mental,
kehidupan kota besar dan kecil maupun desa relatif sama tidak jauh berbeda,
hanya saja fisik orang di desa akan jauh lebih baik dari pada orang yang
tinggal di kota, karena kurang nya populasi udara dan akan tercemar nya
lingkungan mereka.
Relasi sosial di kota lebih sedikit dari orang desa,
karena orang kota yang dibebani kontrak yang dangkal. Itulah faktor kurang
bnyak nya teman yang akrab. Sedangkan di desa orang akan memilih rumah dan
pekerjaan tetap yang akan menimbulkan keakraban yang signifikannya tinggi.
Keragaman gaya hidup dikota walaupun kota enggan
untuk menolong orang asing tetapi orang kota lebih menerima keragaman gaya
hidup. Sedangkan orang desa yang hidupnya selalu bersama-sama dan suka menolong
satu sama lain tetapi tidak akan murah untuk menerima gaya hidup yang berbeda.
DAFTAR
PUSTAKA
David, o searcs
jonathan, psikologi sosial (2003) new york
Fischer J.D
(1984) new york: holt rihernat

0 comments:
Post a Comment
silahkan tinggalkan komentar anda demi perbaikan blog ini!!!