Kepribadian merupakan sub area ilmu
psikologi yang sangat luas dan sangat sulit untuk digambarkan, beberapa
peneliti yang menggunakan pendekatan “trait” dalam domain psikofisiologi,
psikometri, gangguan klinis, dan hubungan sosial mungkin mendefenisikan diri
mereka sebagai psikolog kepribadian, padahal kepribadian adalah hal yang sangat
sulit didefenisikan karena abstract dan berbeda dari satu individu dengan
individu lainnya. Perbedaan ini tidak hanya pada perilaku yang tampak,
melainkan juga pada aspek psikis dalam diri individu yang sangat kompleks.
Secara historis, terdapat beberapa masalah mendasar dalam
penelitian kepribadian yang terintegrasi dengan konsep emosi, salah satunya
adalah apakah emosi memiliki peran dalam pengorganisasian perilaku atau justru
sebagai faktor yang mengganggu perilaku. Sangat mudah untuk mengatakan bahwa
emosi memainkan kedua peran ini, tetapi peran emosi sebagai pengorganisasian
perilaku adalah hal yang sangat penting untuk pengembangan dan fungsi
kepribadian. Lebih dari setengah abad, pandangan bahwa emosi adalah organisator
perilaku hanya memiliki beberapa pendukung, hal ini dicontohkan dalam
perspektif seminal dari Leeper (1948). ). Beberapa teori berpengaruh menekankan
sifat mengganggu emosi (arnold, 1960, simon, 1967) dan hanya pada tahun 1980-an
teori peran emosi sebagai organisator perilaku mulai mendominasi (misalnya,
lazarus, 1991)
Beberapa teoretikus kontemporer, termasuk
goldsmith dan campos (1982) dan clark dan watson (1999), melihat aspek-aspek
emosional kepribadian sebagai temperamen, hal ini mengacu kepada defenisi
temperament dari Allport (1937). Menurut Allport, temperament adalah fenomena
karakteristik emosi bawaan individu, termasuk kerentanan terhadap ransangan
emosional, kekuatan dan kecepatan respon, kualitas mood, dan segala keanehan
dan intensitas dalam mood. Dengan demikian, emosi kadang-kadang masuk ke studi
kepribadian melalui temperamen dan kemudian berinteraksi dengan sikap, konsep
diri, pengaruh kontekstual, dan faktor-faktor lain dalam fungsi kepribadian.
Upaya subtantial telah dipersembahkan
untuk studi struktur psikologis mengenai arti kata-kata emosi. Ketika kata-kata
ini digunakan untuk menggambarkan diri, peneliti berharap untuk menemukan
struktur psylogical keadaan emosi. Penelitian dalam tradisi ini memiliki
tradisi yang sangat panjang (blok, 1957, goldberg, 1982). Peserta studi
biasanya diminta untuk memutuskan attribut kesamaan kata-kata seperti berani,
menantang, senang, menuntut, tertekan, menyenangkan, kecewa, berkecil hati,
jijik dan seterusnya, atau untuk menilai seberapa baik persyaratan tersebut
menggambarkan diri atau orang lain
0 comments:
Post a Comment
silahkan tinggalkan komentar anda demi perbaikan blog ini!!!