Thursday, March 14, 2013

penerapan prinsip psikologi dalam mendisiplinkan anak


Pengertian disiplin
Kata disiplin merupakan kata serapan dari bahasa asing, “discipline”(Inggris), “disciplin” (Belanda) yang artinya belajar. Menurut Singgih Gunarso (1995: 81) disiplin adalah suatu proses dari latihan atau belajar yang bersangkut paut dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Pengertian lain dikemukakan oleh Yuwono (dalam Soedjatmiko,1991) bahwa disiplin sebagai kesadaran untuk mentaati nilai, norma dan aturan yang berlaku dalam keluarga atau masyarakat.Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin merupakan kesadaran diri untuk mentaati nilai, norma dan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh lingkungan, sehingga tercipta suatu ketertiban.

Tujuan Disiplin
Menurut Sobur (1991: 35), bahwa tujuan pemberian disiplin adalah agar anak bisa bertingkah laku sesuai dengan yang diharapkan oleh lingkungannya. Menurut Shochib (1997: 3), tujuan disiplin diri adalah mengupayakan pengembangan minat anak dan mengembangkan anak menjadi manusia yang baik, yang akan menjadi sahabat, tetangga dan warga negara yang baik. Dari kedua batasan tentang tujuan disiplin di atas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan disiplin adalah mengajarkan kepada individu (anak) untuk dapat berperilaku sesuai dengan yang diharapkan oleh lingkungannya (keluarga) sehingga menjadi manusia dan warga negara yang baik.

Unsur-Unsur Disiplin
Hurlock (1997: 85) menyebutkan unsur pokok yang digunakan untuk mendidik anak agar berperilaku dengan standar dari norma kelompok sosial mereka yaitu :
a. Peraturan.
Peraturan adalah pola yang ditetapkan untuk tingkah laku oleh orang tua, guru atau teman bermain. Peraturan mempunyai tujuan untuk membekali anak dengan pedoman perilaku yang disetujui dalam situasi tertentu. Peraturan berfungsi untuk memperkenalkan pada anak bagaimana harus berperilaku sesuai dengan perilaku yang disetujui oleh anggota kelompok mereka dan membantu anak mengekang perilaku yang tidak diinginkan anggota kelompok tersebut.
b. Bentuk Kedisiplinan Pada Anak
Kedisiplinan pada anak merupakan aspek utama dan essensial pendidikan dalam keluarga yang diemban oleh orang tua, karena mereka bertanggung jawab secara kodrati dalam meletakkan dasar-dasarnya pada anak. Upaya orang tua sebagai pendidik sekaligus pemimpin akan tercapai bila anak telah mampu mengontrol perilakunya sendiri dengan acuan nilainilai moral, peraturan, tata tertib, adat, kebudayaan dan sebagainya.

c. Terbentuknya Disiplin Dalam Diri Anak
Menurut Soegeng Priyo Darminto, (1994: 25) bahwa secara garis
besar terbentuknya disiplin pada diri anak dapat dituliskan sebagai berikut :
a. Disiplin tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan harus ditumbuhkan, dikembangkan dan diterapkan dalam semua aspek , menerapkan sanksi dan ganjaran serta hukuman sesuai perbuatan yang dilakukan.
b. Disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan ketertiban. Hal ini tercipta melalui proses binaan melalui keluarga, pendidikan dan pengalaman atau
pengenalan dari keteladanan lingkungannya.
c. Disiplin itu lahir, tumbuh dan berkembang dari sikap seseorang di dalam sistem nilai budaya yang telah ada di dalam masyarakat.
d. Disiplin akan tumbuh dan dapat dibina melalui latihan pendidikan atau penanaman kebiasaan dengan keteladanan-keteladanan tertentu yang harus dimulai sejak ada dalam lingkungan keluarga, pada masa kanakkanak dan terus tumbuh berkembang menjadikannya bentuk disiplin yang semakin kuat.
e. Disiplin yang mantap pada hakekatnya akan tumbuh dan terpancar dari hasil kesadaran manusia. Disiplin yang tidak bersumber dari hati nurani manusia akan menghasilkan disiplin yang lemah dan tidak bertahan lama atau akan lekas pudar.

d.Upaya Orang Tua dalam Membantu Meningkatkan Disiplin Anak

Yang dimaksud upaya orang tua dalam meningkatkan disiplin anak disini adalah cara-cara yang dipergunakan orang tua dalam menanamkan atau memasukkan nilai-nilai, norma ke dalam diri anak sehingga anak memiliki disiplin diri. Menurut Moh. Shochib (1997: 124), upaya-upaya
orang tua tersebut antara lain :
a. Keteladanan diri
Orang tua yang menjadi teladan bagi anak adalah yang pada saat bertemu atau tidak bersama anak senantiasa berperilaku yang taat terhadap nilai-nilai moral. Keteladanan orang tua tidak mesti berupa ungkapan kalimat-kalimat, namun perlu juga contoh dari orang tua. Dari
contoh tersebut anak akan melakukan sesuatu perbuatan seperti yang dicontohkan orang tua kepada anaknya. Dalam memberikan keteladanan pada anak, orang tua juga dituntut untuk mentaati terlebih dahulu nilainilai yang akan diupayakan pada anak. Dengan demikian bantuan mereka ditangkap oleh anak secara utuh, sehingga memudahkan untuk menangkap dan mengikutinya. Misalnya, dalam hal mengerjakan sholat, terlebih dahulu orang tua telah mengerjakan atau segera menegakkan sholat, sehingga anak akan mencontoh keteladanan orang tua tersebut.
b. Kebersamaan Orang Tua dengan Anak-anak dalam Merealisasikan Nilainilai
Moral.
Tujuannya adalah terciptanya aturan-aturan umum yang ditaati bersama dan aturan-aturan khususnya yang dapat dijadikan pedoman diri bagi masing-masing anggota keluarga.
c. Memberi tugas dan tanggung jawab.
Dalam pemberian tugas yang perlu diperhatikan adalah pertamatama harus disesuaikan dengan kemampuan anak. Selanjutnya perlu diusahakan adanya penjelasan-penjelasan sebelum anak melaksanakan tugas. Pada waktu menjalankan tugas bila perlu diberikan bimbingan dan penyuluhan secara khusus, dalam hal ini orangtua tidak bertindak sebagai tutor, yaitu pembimbing perseorangan atau kelompok kecil dan akhirnya anak disuruh melaporkan hasilnya.
d. Kemampuan Orang Tua untuk Menghayati Dunia Anak
Orang tua yang mampu menghayati dunia anak mengerti bahwa dunia yang dihayati tidak semua dapat dihayati oleh anak. Dengan demikian orang tua dituntut untuk menghayati dunia anaknya, sehingga memudahkan terciptanya dunia yang relatif sama antara orang tua dengan anak. Ini merupakan syarat essensial terjadinya pertemuan makna. Jika orang tua tidak dapat menghadirkan pertemuan makna dengan anaknya tentang nilai-nilai dan moral yang dikemas, maka bantuan orang tua dirasakan sebagai pendiktean oleh anak. Dengan demikian anak melaksanakan keinginan orang tua bukan karena kepatuhan tetapi disebabkan oleh ketakutan terhadap mereka.
e. Konsekuensi Logis
Orang tua perlu menyusun konsekuensi logis baik dalam kehidupan di rumah maupun di luar rumah, yang dibuat dan ditaati bersama oleh semua anggota keluarga. Aturan-aturan ini dibuat agar mereka sejak semula menyadari konsekuensi yang harus diterima jika melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap nilai-nilai moral. Konsekuensi ini berbeda dengan hukuman karena mereka sendiri yang telah menetapkan sesuatu yang harus diambil jika melanggar aturan yang dibuat sendiri pula, artinya aturan-aturan yang dibuat dan ditetapkan disadari sebagai wahana untuk tetap dan meningkatkan kepemilikannya nilai-nilai moral.
f. Kontrol Orang tua terhadap Perilaku Anak
Tujuan kontrol perlu dikomunikasikan kepada anak, sehingga kontrolnya dirasakan sebagai bantuan. Kontrol mereka pada anak yang masih kecil disertai dengan contoh-contoh konkret untuk mengembalikan anak pada perilaku yang taat moral. Bentuk konkretnya berbeda dengan anak yang menginjak masa remaja. Kontrol mereka terhadap anak yang menginjak remaja dapat dimulai dengan jalan dialog terbuka.
g. Nilai Moral Disandarkan pada Nilai-nilai Agama
Dalam era globalisasi orang tua dituntut untuk menyadari bahwa sumber nilai-nilai moral diupayakan kepada anaknya perlu disandarkan kepada sumber nilai yang dimiliki kebenaran mutlak. Hal ini dapat memberikan kompas pada anak untuk mengarungi dunia dengan perubahan yang sangat cepat, sehingga tidak larut di dalamnya.

Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Disiplin Anak

Hubungan pola asuh orang tua dengan disiplin anak dimaksudkan sebagai upaya orang tua dalam mengasuh, mengarahkan, membimbing, memimpin dan meletakkan dasar-dasar disiplin diri kepada anak sehingga anak memiliki disiplin diri.
Disiplin tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan harus ditumbuhkan, dibina dan dikembangkan melalui latihan pendidikan atau penanaman kebiasaan dengan keteladanan-keteladanan tertentu yang harus dimulai sejak ada dalam lingkungan keluarga. Anak akan belajar disiplin dari peraturan-peraturan yang berlaku dilingkungan keluarganya, sehingga ketika berada di luar lingkungan keluarga anak akan terbiasa mentaati aturan atau norma yang berlaku pada lingkungan tersebut. Apabila kedisiplinan sudah menyatu dalam dirinya, maka sikap atau perbuatan yang dilakukan bukan lagi dirasakan sebagai beban, namun sebaliknya akan membebani dirinya apabila ia tidak berbuat disiplin. Nilainilai kepatuhan telah menjadi bagian perilaku dalam kehidupannya. Dengan belajar disiplin anak akan mampu menyaring kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu teknologi mana yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan bagi dirinya, serta teknologi mana yang akan merugikan masa depannya. Dengan pendidikan disiplin yang dilakukan orang tua, akan mengembangkan anak menjadi manusia yang baik dan berakhlak mulia serta menjadi warga negara yang baik.
Penerapan teori tingkah laku didalam kelas, mengembangkan suatu program pengubahan tingkah laku.
·        Langkah dasar untuk pengubahan tingkah laku
1.      Mendefinisikan dan menyatakan secara operasional tingkah laku yang dapat diubah.
Jangan menggeneralisasi, seperti “anak bodoh yang jalan-jalan dikelas” atau anak yang mempunyai sifat buruk “. Defenisikan secara eksplisit tingklah laku yang diubah – meninggalkan tempat duduk tanpa minta izin, menjawab dengan beteriak dikelas. Ketahui secra tepat apa yang kita inginkan dari anak untuk melakukan sesuatu , sehingga kita dapat memperkuat tingkah laku yang tepat.
2.      Memperoleh suatu gambaran dari tingkah laku tingkat operant dimana kita mempertimbangkan untuk mengubah.
Sebelum kita menghilanhkan tingkah laku khusus, catat frekuensinya.kita kemudian dapat menentukannya sesuadah menghilangkan tingkah laku itu. Apakah tingkah laku itu sudah dimodifikasi.contoh : berapa kali siswa meninggalkan tempat duduk dalam waktu satu jam atau satu hari. Rekomendasi umum adalah menggunakan grafik yang menggambarkan frekuensi setiap periode observasi.
3.      Mengatur situasi belajar atau situasi perlakuan sehingga tingkah laku yang kita inginkan terjadi.
Sebelum memulai reinforcement untuyk tingkah laku yang tepat, cobalah periksa untuk  menentukan apakah individu dapat mengatasi hambatan sehingga sampai pada tingkah laku yang diinginkan. Seperti permintaan verbal atau dengan mengembangkan suatu situasi dimana tingkah laku yang kita inginkan itu barangkali terjadi.
4.      Mengindentifikasi reinforcer yang potensial
Suatu stimuli tidak diperkuat secara tepat. Selain itu, apakah diperkuat pada suatu waktu tidak akan diperkuat lagi pada waktu sesudahnya.
5.      Membentuk dan/atau memperkuat tingkah laku yang diinginkan, dan jika perlu menggunakan prosedur memperlemah tingkah laku yang tidak tepat.
Pada awalnya, tingkah laku yang diinginkan harus diperkuat setiap kali tingkah laku itu diasumsikan memperkuat secaratepat. Sekali terjadi kita dapat mengubah jadwal reinforcement. Pada waktu waktu tertentu.
6.      Menyusun catatan dari tingkah laku yang diperkuat untuk menentukan apakah penguatan atau frekuensi dari respon bertambah.
Dengan membandingkan kemajuan pada waktu perlakuan (teratment ) atau pada waktu belajar pada awal atau p[ada pertengahan belajar, kita akan rahu apakah kemungkinan reinforcement akan mempunyai dampak pada modifikasi tingkah laku. Jika reinforcement tidak berpengaruh pada tingkah laku, kita kemudian harus menentukan mengapa hal itu terjadi kemudian membuat penyesuaian.

Penguatan Dan Hukuman
Penguatan ( imbalan ) (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan  probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya hukuman ( punishmentb) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. Penguatan berarti berarti memperkuat. Dalam penguatan positif, frekuensi respon meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung ( rewarding ). Sedangkan dalam penguatan negatif, frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan ( tidak menyenangkan ).
Salah satu cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan negatif adalah dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Sedangkan dalam penguatan negatif ada sesuatu yang dikurangi atau dihilangkan. Ingat bahwa penguatan negatif meningkatkan probabilitas terjadinya sesuatu perilaku, sedangkan hukuman menurunkan probabilitas terjadinya perilaku.
Contohnya :
·         Penguatan positif
Perilaku ( murid mengajukan pertanyaan yang bagus )           konsekuensi ( guru menguji murid )             perilaku kedepan ( murid mengajukan banyak pertanyaan )
·         Penguatan negatif
Perilaku ( murid menyerahkan PR tepat waktu )           konsekuensi (guru berhenti menegur murid )            perilaku kedepan ( murid makin sering menyerahkan tugas tepat waktu)
·         Hukuman
Perilaku ( murid menyela guru )           konsekuensi ( guru menegur murid langsung )                                                                                  perilaku kedepan ( murid berhenti menyela guru )

Generalisasi, diskriminasi, dan pelenyapan
Generalisasi adalah tendensi dari suatu stimulus yang sama dengan conditioned stimulus untuk menghasilkan respons yang sama terhadap conditioned response. Generalisasi dalam pengkondisian operan berarti respons yang sama terhadap stimuli yang sama. Diskriminasi dalam pengkondisian operan  berarti pembedaan diantara stimuli dan kejadian lingkungan. Dalam pengkondisian operan, pelenyapan ( extinction ) terjadi ketika respon penguat sebelumnya tidak lagi diperkuat dan responnya menurun.
·         Memilih penguatan yang efektif
Tidak semua penguat akan sama efeknya bagi anak. Penguat yang paling sering dipakai guru adalah aktivitas. Prinsip premack adalah yang ditemukan oleh david premack, menyatakan bahwa aktivitas berprobabilitas tinggi dapat berfungsi sebagai penguat aktivitas berprobabilitas rendah.
·         Menggunakan penguatan negatif secara efektif.
Ingat dalam penguatan negatif, frekuensi respon meningkat karena respon tersebut menghilangkan stimulus yang dihindari. ( tidak menyenangkan ). Contoh : seorang guru mengatakan, “ pepeng, kamu harus duduk dan menyelesaikan tugas mengarang sebelum kamu bergabung dengan teman-teman kamu sebelum kamu membuat poster.” Ini berarti dia menggunakan penguatan negatif.  Kondisi negatif disuruh duduk saat murid lain melakukan sesuatu yang menyenangkan akan dihilangkan jika pepeng sudah menyelesaikan tugas mengarangnya.
·         Menggunakan penguatan difernsial
Dalam penguatan diferensial, guru memperkuat perilaku yang lebih tepat atau yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan anak. Misalnya, guru mungkin lebih memperkuat perilaku anak yang rajin membaca daripada yang bermain game.
·         Menghentikan penguatan ( pelenyapan )
Strategi menghentikan penguatan ini adalah menarik penguatan positif terhadap perilaku tidak tepat atau tidak pantas.Menyusun catatan dari tingkah laku yang diperkuat untuk menentukan apakah penguatan atau frekuensi dari frekuensi bertambah. Dengan membandingkan kemajuan pada waktu perlakuan ( treatment ) atau pada waktu belajar pada awal atau pada pertengahan belajar , kita akan tahu apakah kemungkinan reinforcement akan mempunyai dampak pada modifikasi tingkah laku. Jika reinforcement tidak berpengaruh padan tingkah laku, kita kemudian harus menetukan mengapa hal itu terjadi kemudian membuat penyesuaian.
Contoh : guru melanjutkan observasi selama lima menit secara random. Setiap akhir pekan dia menuliskan rata rata tingkah laku. Setelah tiga pekan, dia menemukan bahwa semua target tingkah laku tidak diinginkan telah berkurang. Tujuan guru adalah membawa tingkah laku siswa dibawah kontrol reinforcement sosial.


Daftar pustaka
Kennedy michelle.2004.Melatih anak mandiri.erlangga.jakarta
Markum m enoch,1985,anak keluarga dan masyarakat.sinar harapan.jakarta timur
Santrock, john W .2008. psikologi pendidikan. Alih bahasa tri wibowo. Jakarta : kencana prenada media group.

0 comments:

Post a Comment

silahkan tinggalkan komentar anda demi perbaikan blog ini!!!

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Sandri Andeski - All Rights Reserved