Monday, February 18, 2013

teori belajar gestalt


TEORI GESTALT

A. Konsep Teoritis Utama
            Pelopor yang mengutarakan konsep ini adalah Marx Werheimer (1880) dan rekannya Wolfgang Kohler (1887-1967) dan Kurt Kofka (1886-1941). Werheimer menekankan keseluruhan itu lebih penting daripada sebagian-sebagian menjadikannya.  Mahzab Gestalt/kognitif berpendapat bahwa setiap manusia mempunyai keupayaan mental mengelola, menyusun, menyimpan dan mengeluarkan semua pengalaman untuk membolehkan ia memeperhatikan pertalian diantara pengalaman tersimpan yang dihadapi.
·         Teori Medan
Psikologi gestalt dapat dianggap sebagi usaha untuk mengaplikasikan Field Theory (teori medan) dari fisika ke problem psikologi. Secara umum, medan dapat dideskripsikan sebagai sistem yang saling terkait secar dinamis, dimana stiap bagianna saling mempengaruhi satu sama lain. Psikologi Gestalt menggunakan konsep medan ini dalam banyak level. Psikologi gestalt percaya bahwa apa pun yang terjadi pada seseorang akan mempengaruhi segala sesuatu yang lain di dalam diri orang itu. Menurut psikologi gestalt, penekannya adalah selalu pada totalitas atau keseluruhan, bukan pada bagian-bagian.
Kurt Lewin (1890-1947) sebagai salah satu tokoh dan pengembang teori medan mengatakan bahwa perilaku manusia waktu tertentu ditentukan oleh jumlah total dari fakta psikologis pada waktu tertentu. Menurutnya, fakta psikologis adalah segala sesuatu yang disadari manusia, seperti rasa lapar, ingatan masa lalu, memiliki sejumlah uang, berada ditempat tertentu atau di depan orang lain. Life space seseorang adalah jumlah total dari semua fakta psikologis ini dan hal itu menentukan prilaku seseorang pada waktu tertentu.
Dalam jurnal yang disusun oleh DR. phil. Hana Panggabean  tentang Gestalt menjelaskan bahwa Life Space, yaitu lapangan psikologis tempat individu berada dan bergerak. Lapangan psikologis ini terdiri dari fakta dan obyek psikologis yang bermakna dan menentukan perilaku individu (B=f L). Tugas utama psikologi adalah meramalkan perilaku individu berdasarkan semua fakta psikologis yang eksis dalam lapangan psikologisnya pada waktu tertentu. Life space terbagi atas bagian-bagian memiliki batas-batas.
Batas ini dapat dipahamis ebagai sebuah hambatan individu untuk mencapai tujuannya. Gerakan individu mencapai tujuan (goal) disebut locomotion. Dalam lapangan psikologis ini juga terjadi daya (forces) yang menarik dan mendorong individu mendekati dan menjauhi tujuan. Apabila terjadi ketidakseimbangan (disequilibrium), maka terjadi ketegangan (tension). Perilaku individu akan segera tertuju untuk meredakan ketegangan ini dan mengembalikan keseimbangan.Apabila individu menghadapi suatu obyek, maka bagaimana valensi dari nilai tersebut bagi si individu akan menentukan gerakan individu.
Pada umumnnya individu akan mendekati obyek yang bervalensi positif dan menjauhi obyek yang bervalensi negatif. Dalam usahanya mendekati obyek bervalensi positif, sangat mungkin ada hambatan. Hambatan ini mungkin sekali menjadi obyek yang bervalensi negatif bagi individu. Arah individu mendekati/menjauhi tujuan disebut vektor. Vektor juga memiliki kekuatan dan titik awal berangkat.

·         Nature versus Nurture
Penganut Gestaltis memberi peran yang lebih aktif pda otak. Menurut teoritisi Gestalt, otak bukan penerima pasif dan gudang penyimpan informasi dari lingkungan. Otak bereaksi terhadap informasi sensoris yang masuk dan otak melakukan penataan yang membuat informasi itu lebih bermakna. Ini bukanlah fungsi yang dipelajari; ini adalah “sifat alami” dari otak dalam menata dan memberi makna pada informasi sensoris.
Gestaltis menunjukan bahwa kemampuan organisasional otak tidak diwariskan; kemapuan itu lebih merupakan ciri sistem fisik, dan otak hanyalah salah satunya. Berbeda dengan aliran behavioris yang mempostulatkan otak yang pasif yang merespon pada informasi sensoris, sedangkan Gestaltis mempostulatkan otak aktif yang mengubah informasi sensoris.
·         Hukum Pragnanz
Perhatian utama Psikologi Gestalt adalah pada fenomena perseptual yang mana prinsip yang paling menonjol dalam hal  tersebut yaitu hukum pragnanz. Koffka (1963[1935]) mendeskripsikan hukum parganaz sebagai berikut : “Penataan psikologis selalu sebaik yang diizinkan oleh lingkungan pengontrolnya”.yang dimaksud baik oleh Koffka adalah kualitas-kulaitas seperti sederhana, komplit, ringkas, simetris, atau harmonis. Karena pengaruh Pragnanz kita dapat melihat pengaturan delapan titik pada gambar seperti sebuah persegi panjang atau lingkaran, namun bila tata letak titik tersebut tidak memliki bentuk yang baik, kita hanya kan mempersepsi sutu bentuk yang abstrak.
Hukum Pragnanz dipakai oleh Gestaltis sebagai prinsip pedoman mereka meneliti persepsi, belajar dan memori. Dalam masalah belajar dan memori juga tidak terlepas dari prinsi penutupan atau pengakhiran dimana prinsip tersebut menyatakan tendensi untuk menyelesaikan pengalaman yang belum lengkap.
B. Otak dan Pengalaman Sadar
            Gestaltian menganut pandangan yang berbeda dalam memandang problem tubuh-pikiran. Mereka mengasumsikan adanya ishomorphism (ismorfisme) antara pengalaman psikologis dengan proses yang ada dalam otak. Stimulasi eksternal menimbulakn reaksi otak, dan kita merasakan atau mengalami reaksi itu saat reaksi itu terjadi di otak. Perbedaan utama atara pendapta ini dengan pendapat strukturalis adalah Gestaltian percaya bahwa otak aktif mengubah stimulasi sensoris.
Karenanya, otak mengorganisasikan, menyederhanakan, dan memberi makna pada informasi sensoris yang datang. Jadi siomorfisme, istilah yang menyiratkan kesetaraan bentuk, menggunakan asumsi bahwa ‘gerak atom dan molekul di otak’ secara mendasar ‘tidak berbeda dnegan pikiran dan perasaan’ namun dalam aspek molarnya, yang dianggap sebagai proses perluasan, adalah identik. Para psikolog gestalt berkali-kali menyatakan pendapatnya bahwa dunia fenomenal (kesadaran) adalah ekspresi yang akurat dari situasi, yakni kekuatan medan yang ada dlam otak.
Psikolog gestalt mengatakan bahwa isi pikiran (kesadaran) datang ke kita dalam keadaan sudah tertata. Menutur Gestaltis, aktivitas otak berhubungan secara dinamis dengan isi pemikiran. Seain itu menurut aliran ini, otak secara aktif mengubah informasi sensoris yang masuk berdasarkan hukum Pragnanz, dan informasi yang telah diubah itulah yang kita “ sadari “. Karena sangat percaya pada “pikiran aktif”, Gestaltis jelas termasuk rasionalis, dan karena mereka percaya bahwa “kekuatan pikiran” itu ditentukan secara genetik. Menurut psikolog Gestalt, penjelasannya sudah jelas: otak aktif mengisi ruang kosong.
C. Prinsip Belajar Gestalt
            Proses belajar adalah fenomena kognitif. Apabila individu mengalami proses belajar, terjadi reorganisasi dalam perceptual fieldnya. Setelah proses belajar terjadi, seseorang dapat memiliki cara pandang baru terhadap suatu problem. Karena Psikolog Gestalt terutama adalah teoritisi medan yang medan tertarik pada fenomena perseptual, tidak mengejutkan jika mereka memandang belajar sebagai problem khusus dalam persepsi.
Dalam buku Teori-Teori belajar yang ditulis oleh Prof. Dr. Ratna Wilis Dahar, M.Sc menjelaskan bahwa menurut Gestalt-Field belajar adalah suatu proses perolehan atau perubahan insight, pandanga-pandangan (outlooks), harapan-harapan, atau pola-pola berpikir. Mereka mengasumsikan bahwa ketika suatu organisme berhadapan dengan sebuah problem, akan muncul keadaan disekuilibrium kognitif dan keadaan ini akan terus berlanjut sampai problem terselesaikan. Karenannya, menurut psikolog Gestalt, disekuiblirirum kognitif mengandung unsur motivisiobal yang menyebabkan organisme berusaha untuk mendapatakan kembali keseimbangan dalam sistem mentalnya.
Menurut hukum Pragnanz, keseimbangan kognitif lebih memuaskan  ketimbang ketidakseimbangan kognitif. Bukti atas pendapat ini diberikan oleh karya Bluma Zeigarnik, yang menemukan bahwa tugas yang belum selesai akan selalu diingat lebih lama dan detail ketimbang tugas yang sudah selesai. Dia menjelaskan fenomena ini dalam term properti motivasional dari suatu problem yang terus ada sampai problem itu dipecahkan.
Belajar, menurut Gestaltis, adalah fenomena kognitif. Organisme “mulai melihat” solusi setelah memikirkan problem . pembelajar (siswa) memikirkan semua unsur yang dibutuhkan untuk memecahkan problem dan menempatkannya bersama secara bersama (secara kognitif) dalam  satu cara dan kemudian ke cara-cara lainnnya sampai problem terpecahkan. Ketika solusi muncul, organisme memperoleh (insight)  tentang solusi problem. Berbeda dengan Thordike yang percaya bahwa belajar adalah bersifat kontiniu yaitu ia bertambah secara bertahap sedikit demi sedikit sebagai fungsi dari percobaan penguatan. Sedangkan Gestaltis percaya bahwa solusi itu bisa didapatkan atau tidak sama sekali, belajar menurut mereka bersifat diskontiniu.
Menurut Teori Gestalt, prinsip-prinsip belajar adalah:
  1. Belajar berdasarkan keseluruhan, di mana guru harus berusaha untuk menghubungkan suatu pelajarandengan pelajaran yang lain sebanyak mungkin. Mata pelajaran yang bulat (utuh) jauh lebuh udahdimengerti dari pada bagian-bagian.
  2.  Belajar adalah suatu proses perkembangan, di mana anak baru dapat mempelajari sesuatu bila telah matang untuk menerima pelajaran.
  3. Siswa harus dipandang sebagai sebagai suatu organisme yang utuh. Di mana guru harus menmperhatikan seluruh aspek dalam kepribadian anak, bukan hanya aspek intelektualnya saja.
  4. Dalam belajar harus dipikirkan bahwa anak dapat memindahkan pengalamanya untuk pengalaman yang lain atau untuk pengalaman yang baru.
  5. Belajar adalah inrteraksi antara individu dengan lingkungan.

  1. Belajar harus dapat mengembangkan insight, di mana anak mam-pu menemukan sangkut-paut suatu problema yang satu dengan problema yang lain.
  2. Belajar berlangsung secara terus menerus

D. Pendapat Gestalt Mengenai Pendidikan
            Dalam mempermasalahkan belajar bagi siswa, para penganut teori Gestalt lebih menyukai istilah-istilah orang daripada organisme, lingkungan psikologi daripada lingkungan fisik atau lingkungan biologi, dan lebih suka menggunkan istilah interaksi daripada aksi atau reaksi. mereka berpendapat bahwa konsep-konsep  tersebut lebih memudahkan para guru dalam memberikan pembelajaran pada siswa dan konsep tersbutlah yang dimaksud field dalam proses belajar meagajar oleh  penganut teori Gestalt.
Gestaltis berpendapat bahwa problem yang tak selesai akan menimbulkan ambiguitas atau ketidakseimbangan organisasional dalam pikiran siswa, dan ini adalah kondisi yang tidak diinginkan. Ambuguitas dilihat sebagai keadaan negatif yang akan terus ada sampai problem terselesaikan. Dalam satu pengertian, pengurangan ambuguitas dapatdilihat sebaai teori Gestalt yang sejajar dengan gagasan penguatan dari kaum behaviouris. Akan tetapi, reduksi ambiguitas dapat dianggap sebagai penguat instrinsik, sedangakan behaviouris biasanya lebih menekankan pada penguat ekstrinsik.
Brumer dan Holt menganut gagasan Gestaltian bahwa belajar adalah memuaskan secara personal dan tidak perlu didorng oleh penguatan eksternal. Kelas yang beorientasi Gestalt akan dicirikan oleh hu ungan memberi-dan-,menerima anatar murid dan guru. Belajar berdasarkan pendapat Gestalt bisa dimulai dengan sesuatu yang familiar dan setipa langkah dalam pendidikan didasarkan pada hal-hal yang sudah dikuasai. Semua aspek pelajaran dibagi-bagi menjadi unit-unit yang bermakna, dan unit-unit itu harus berkaitan dengan seluruh konsep atau pengalaman. Guru yang berorientasi Gestalt mungkin menggunakan tekhnik ceramah, tetapi ia kan berusaha agar selalu ada interaksi antara guru dan murid. Dalam buku Teori-Teori belajar yang ditulis oleh Prof. Dr. Ratna Wilis Dahar, M.Sc juga mengatakan bahwa Guru yang menganut Gestalt-Field  berkeinginan untuk menolong para siswanya mengubah pemahamanmereka tentang masalah-masalah atau situasi-situasi secara signifikan.
E. Evaluasi Teori Gestalt
·         Kontribusi
Kontribusi yang paling penting dari teori Gestalt adalah kritiknya terhadap pendekatan molekular atau atomistik dari behaviorisme S-R. ditunjuk bahwa baik itu perspsi maupun belajar dicirikan oleh proses kognitif yang menagorganisasikan penglaman psikologis. Psikologi Gestalt menghadirkan tantangan yang bersifat produktif bahkan bagi kaum behavioris. Riset Spence (1942) tentang transposisi, misalnya muncul akibat dari pengaruh penjelasan tarnsposisi kognitif oleh Kohler. Fokus psikolog Gestalt pada belajar wawasan juga memberikan pandangan alternatif untuk mengkonseptualisasikan pengutan.
Dalam jurnal yang disusun oleh DR. phil. Hana Panggabean  tentang Gestalt menjelaskan bahwa implikasi dai teori Gestalt ini adalah Pandangan Gestalt menyempurnakan aliran behaviorisme dengan menyumbangkan ide untuk menggali proses belajar kognitif, berfokus pada higher mental process. Adanya perceptual field diinterpretasikan menjadi lapangan kognitif dimana proses-proses mental seperti persepsi, insight,dan problem solving beroperasi. Tokoh : Tolman dan Koehler.
Kontribusi teori Gestalt ini juga dapat dilihat dari implementasi teori ini dalam kehidupan belajar sehari-hari. Dalam sebuah jurnal dituliskan bahwa teori ini sangat efektif digunakan pada orang yang sedang belajar membaca Al-Qur’an. Dalam Jurnal tersebut dijelaskan metode SAS yang merupakan pendekatan dari teori Gestalt yang merupakan adalah suatu metoda yang menggunakan pendekatan strutural, yang dijabarkan melalui analisa dan sintesa, sehingga sebuah strukur mudah dipahami dan dihayati. Atau dengan kata lain metode SAS adalah suatu prosedur penyajian pelajaran secara terstruktur selanjutnya dan analisis dan disentesis kembali ke dalam bentuk semula. Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa keefektifan metode SAS ini dilihat dari dapatnya siswa dengan mudah belajar Al-Quran dalam usia yang muda.
           
·         Krirtik
Walaupun Gestalt menghadirkan tantangan penting bagi behaviorisme, ia taka pernah menempati kedudukan utam dlam teori belajar. Psikolog behavioristik tertarik untuk mereduksi problem belajar pada model yang saling sederhana, mengumpulkan banyak data yang berkaitan dnegan problem-problem terkecil dalam belajar, dan kemudian membangun teori lebih global berdasarkan prinsip elementer yang telah teruji. Ketika psikolog Gestalt ikut membahas soal belajr, merek mendeskripsikan belajar dlam term “pemahaman”, “makna”, dan “organisasi”, dimana konsep=konsep ini bermakna ditilik dari konteks riset behvioristik.
 

DAFTAR PUSTAKA
B.R. Hergenhahn & Matthew H. Olson. Theories Of Learning (Teori Belajar) edisi VII. Jakarta : Kencana, 2008

Prof. Dr. Ratna Wilis Dahar, M.sc. Teori-Teori Belajar. Jakarta : Erlangga

1 comments:

Bitebrands said...

Teori Gestalt: Memahami Fenomena Visual ~ BiteBrands http://bit.ly/10nN6Ox

Post a Comment

silahkan tinggalkan komentar anda demi perbaikan blog ini!!!

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Sandri Andeski - All Rights Reserved