Wednesday, February 20, 2013

PENDEKATAN KOGNITIF DAN BEHAVIORAL DALAM BELAJAR

Pendekatan Behavioral dan Kognitif dalam Belajar
Pembelajaran adalah pengaruh  permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir, yang diperoleh melalui pengalaman. Pembelajaran melibatkan perilaku akademik dan non-akademik.
Tidak semua yang kita tahu diperoleh dari belajar. Kita mewarisi beberapa kemampuan-kemampuan  itu  sejak lahir , tidak dipelajari. Tetapi, kebanyakan perilaku manusia tidak diwariskan begitu saja.
A.     Pendekatan behavioral untuk pembelajaran
Behaviorisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalamn yang dapat diamati, bukan dengan proses mental.
Menurut kaum behavioris, perilaku adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan bisa dilihat secara langsung. Menurut behavioris, pemikiran, perasaan  dan motif bukan subjek  yang tepat untuk ilmu perilaku sebab semuanya itu tidak bisa diobservasi secra langsung.
1.      Pengkondisian klasik
Pada awal 1900-an, psikolog Rusia Ivan Pavlov tertarik pada cara tubuh mencerna makanan. Pavlov menyadari bahwa asosiasi terhadap penglihatan dan suara dengan makanan ini merupakan tipe pembelajaran yang penting, yang kemudian dikenal sebagai pengkondisian klasik (classical conditioning).
Pengkondisian klasik adalah tipe pembelajaran di mana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. Dalam pengkondisian klasik, stimulus netral diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respons yang sama.
Pengkondsian klasik melibatkan  dua tipr stimuli dan dua tipe respon, yaitu unconditioned stimulus (US), unconditioned response (UR), conditioned stimulus (CS), conditioned response (CR). UR adalah respons yang tidak dipelajari yang secara otomatis dihasilkan oleh US. CS adalah stimulus  yang sebelumnya netral  yang akhirnya menghasilkan CR setelah diasosiasikan  dengan US. Pengkondisian klasik dapat berupa pengalaman negatif dan positif dalam diri anak di kelas.
a.                  Generalisasi, Diskriminasi dan pelenyapan
Generalisasi dalam pengkondisian klasik adalah tendensi dari stimulus baru yang sama dengan CS yang asli untuk menghasilkan respons yang sama (Jones, Kemenes & Bejamin,2001).
Diskriminasi dalam pengkondisian klasik terjadi ketika organisme merespons stimuli  tertentu tetapi tidak merespon stimuli lainnya (Murphy, Beker, & Fouquet ,2001). Pelenyapan (extinction) dalam pengkondisian klasik adalah pelemahan CR karena tidak adanya US.

b.                  Desentisasi sistematis ( systematic desensitization)
Desentisasi sistematis adalah sebuah metode yang didasarkan pada pengkondisian klasik yang dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dengan cara membuat individu mengasosiasikan  relaksasi dengan visualisasi situasi yang menimbulkan kecemasan.
Desensitisasi melibatkan sebuah tipe counterconditioning (McNeil, 2000). Perasaan rileks yang dibayangkan murid (US) menghasilkan reaksi (UR). Murid kemudian mengasosiasikan isyarat  yang menimbulkan kecemasan  CS dengan perasaan relaksasi. Semua isyarat yang menimbulkan kecemasan akan menghasilkan relaksasi CR.
c.                   Mengevaluasi pengkondisian klasik
Pengkondisian klasik membantu kita memahami beberapa aspek pembelajaran dengan lebih baik. Namun, cara ini tidak efektif untuk menjelaskan perilaku sukarela,  seperti mengapa murid belajar keras untuk satu mata pelajaran atau lebih menyukai sejarah ketimbang geografi.

2.                  Pengkondisian operan (pengkondisian instrumental)
Pengkondisian operan  adalah sebentuk pembelajaran  di mana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi.
a.                  Hukum efek Thorndike
Hukum efek (law effect) Thorndike menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah. Pandangan Thorndike disebut teori S-R karena perilaku organisme itu dilakukan sebagai akibat dari hubungan antara stimulus dan respons.

b.                  Pengkondisian operan skinner
ü    Penguatan dan hukuman
Penguatan/ imbalan (reinforcement), adalah kosekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Penguatan ada dua yaitu :
1.                  Penguatan positif, frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh.
2.                  Penguatan negatif, frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak mennyenangkan) (Frieman,2002). Dalam penguatan negatif, ada sesuatu yang dikurangi atau dihilangkan.
Hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
ü    Generalisasi, diskriminasi dan pelenyapan
Generalisasi dalam pengkondisian operant berarti memberikan respon yang sama terhadap stimuli yang sama. Diskriminasi dalam pengkondisian operan berarti pembedaan di antara stimuli dan kejadian lingkungan . dalam pengkondisian operan, pelenyapan (extinction) terjadi ketika respon penguat sebelumnya todak lagi diperkuat dan responnya menurun.di kelas, pelenyapan yang paling umum bagi guru adalah tidak lagi memberi perhatian pada suatu perilaku.

B.     Analisis perilaku terapan dalam pendidikan
Analisis perilaku terapan adalah prinsip pengkondisian operan untuk mengubah perilaku manusia. Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang penting dalam bidang pendidikan :
1.      Meningkatkan perilaku yang diharapkan
Lima strategi pengkondisian operan dapat dipakai untuk meningkatkan perilaku anak yang diharapkan :
a.       Memilih penguat yang efektif, tidak semua penguat akan sama efeknya bagi anak. Untuk mencari penguat yang paling efektif bagi seorang anak , kita bisa meneliti apa yang memotivasi anak di masa lalu (sejarah penguatan), apa yang ingin dilakukan murid tapi tidak mudah diperolehnya, dan persepsi anak terhadap manfaat atau nilai penguat.
Prinsip Premack, yang ditemukan oleh David Premack, menyatakan bahwa aktivitas berprobabilitas tinggi dapat berfungsi sebagai penguat aktivitas berprobabilitas rendah.
b.      Menjadi penguat kontingen dan tepat waktu. Agar sebuah penguat dapat efektif, guru harus memberikan hanya setelah murid melakukan perilaku tertentu. Penguat akan lebih efektif jika diberikan tepat pada waktunya, sesegera mungkin setelah murid menjalankan tindakan yang diharapkan.
c.       Memilih jadwal penguat terbaik. Skinner (1953) menyusun konsep jadwal penguatan , yang merupakan parsial yang menentukan kapan suatu respons akan diperkuat. Empat jadwal penguatan utama :
v  Jadwal rasio-tetap, suatu perilaku diperkuat setelah sejumlah respons.
v  Jadwal rasio-verbal, suatu perilaku diperkuat setelah terjadi sejumlah respons, akan tetapi tidak berdasarkan pada basis yang dapat diprediksi.
v  Jadwal interval-tetap, respons tepat pertama setelah beberapa waktu akan dperkuat.
v  Jadwal interval- variabel, suatu respons diperkuat setelah sejumlah variabel waktu berlalu.
d.      Menggunakan perjanjian
Perjanjian (contracting) adalah menempatkan kontingensi penguatan dalam tulisan. Analisis perilaku terapan mengatakan bahwa perjanjian kelas harus berisi masukan dari guru dan murid.
e.       Menggunakan penguatan negatif secara efektif
Menggunakan penguatan negatif memiliki sejumlah kekurangan. Kadang-kadang ketika guru menggunakan strategi behavioral ini, anak marah, lari ke luar ruang, atau menobrak-abrik barang.
2.      Menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukan (shaping)
Prompt (dorongan) adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang diberikan sebelum respons dan meningkatkan kemungkinan respons itu akan terjadi. Prompt membantu perilaku terus berlajut. Setelah murid secara konsisten menunjukan respon yang benar, maka prompt tidak dibutuhkan lagi.
Shaping adalah mengajari perilaku baru dengan memperkuat perilaku yang mirip dengan perilaku sasaran. Shaping diimplementasikan hanya jika tipe penguatan positif dan prompt tidakk berhasil. Shaping membutuhkan penguatan sejumlah langkah kecil menuju keperilaku sasaran, dan ini mungkin memerlukan waktu yang lama.
3.      Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan
Langkah-langkah mengurangi perilaku yang tidak diharapkan :
a.       Menggunakan penguatan diferensial, guru memperkuat perilaku yang lebih tepat atau yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan anak.
b.      Menghentikan penguatan (pelenyapan). Strategi menghentikan penguatan ini adalah menarik penguatan terhadap perilaku tidak tepat atau tidak pantas. Banyak guru kesulitan untuk mengetahui apakah mereka telah memberi perhatian terlalu banyak pada perilaku tidak tepat.
c.       Menghilangkan stimuli yang diinginkan. Dua strategi dalam opsi ini adalah :
·         Time-out. Paling sering dipakai guru untuk menghilangkan stimuli yang diinginkan.
·         Responce cost, yakni menjauhkan penguatan positif dari murid. Seperti halnya time-out, response cost harus diiringi dengan strategi untuk meningkatkan perilaku positif si murid.
d.      Menyajikan stimuli yang tidak disukai (hukuman)
Stimuli tidak menyenangkan ini bukan hukuman efektif karena stimuli itu tidak mengurangi perilaku yang tidak diinginkan dan bahkan kadang-kadang menambahkan perilaku yang tak diinginkan. Tipe paling umum dari stimuli yang tidak menyenangkan ini adalah guru menggunakan teguran verbal.
4.      Mengevaluasi pengkondisian operan dan analisis terapan
Pengkondisian operan dan analisis perilaku terapan memberi banyak kontribusi untuk praktik pengajaran (Kadzin,2001 ;Martin & Pear,2002; Purdy,dkk,2001).
Kritrik terhadap pengkondisian operan dan analisis perilaku terapan mengatakan bahwa seluruh pendekatan itu terlalu banyak menekankan pada kontrol eksternal atas perilaku murid.

C.    Pendekatan kognitif sosial untuk pembelajaran
Menurut Plato kognitif atau berpikir adalah berbicara dalam hati. Selanjutnya ada pendapat yang lebih menekankan kepada tujuan berpikir itu, yaitu yang mengatakan bahwa berpikir itu adalah meletakkan hubunagn antara bagian-bagian pengetahuan kita. Berpikir adalah proses yang dinamis yang dapat dilukiskan menurut proses atau jalannya.


a.      Teori kognitif sosial Bandura
Teori kognitif sosial menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif, dan juga faktor perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran. Faktor kognitif mungkin berupa ekspektasi murid untuk meraih keberhasilan ; faktor sosial mungkin mencakup pengamatan murid terhadap perilaku orang tuanya.
Bandura mengembangkan model determinisme resiprokal yang terdiri dari tiga faktor utama; perilaku, person/kognitif, dan lingkungan. Faktor-faktor ini bisa saling berinteraksi untuk memengaruhi pembelajaran.
Bandura mengatakan bahwa self-efficacy berpengaruh besar terhadap perilaku. Misalnya seorang murid yang self-efficacy-nya rendah mungkin tidak mau berusaha untuk mengerjakan ujian karena dia tidak percaya bahwa belajar akan bisa membantunya mengerjakan soal.

b.      Pembelajaran observasional
Pembelajaran observasional, juga dinamakan imitasi atau modelling adalah pembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain.
Studi boneka bobo kalsik. Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan Bandura (1965) mengilustrasikan bagaimana pembelajaran dapat dilakukan hanya dengan mengamati model yang bukan sebagai penguat atau penghukum. Eksperimen ini juga  mengilustrasikan perebedaan antara pembelajaran  dan kinnerja. Poin penting dalam studi ini adalah bahwa pembelajaran observasional terjadi sama ekstensifnya baik  itu ketika perilaku agresif diperkuat maupun tidak diperkuat. Poin penting kedua dalam studi ini difokuskan pada perbedaan antara pembelajaran dan kinerja.
Model pembelajaran observasional kontemporer Bandura, prosesnya adalah :
o   Atensi. Sebelum murid dapat meniru ttindakan model, mereka harus memerhatikan apa yang dilakukan atau dikatakan si model. Murid lebih mungkin memerhatikan model berstatus tinggi ketimbang model berstatus rendah.
o   Retensi. Untuk mereproduksi tindakan model, murid harus mengkodekan informasi dan menyimpannya dalam ingatan (memori) sehingga informasi itu bisa diambil kembali. Retensi murid akan meningkat jika guru memberikan demonstrasi atau contoh yang hidup dan jelas.
o   Produksi. Anak mungkin memerhatikan model dan megingat apa yang mereka lihat, tetapi, karena keterbatasan dalam kemampuan geraknya, mereka tidak bisa mereproduksi perilaku model. Belajar, berlatih dan berusaha dapat membantu murid untuk meningkatkan kinerja motor mereka.
o   Motivasi . sering kali anak memerhatikan apa yang dikatakan atau dilakukan model, menyimpan informasi dalam memori,  dan memiliki kemampuan gerak untuk meniru tindakan model, namun tidak termotivasi untuk melakukannya.
Bandura percaya bahwa penguatan tidak selalu dibuttuhkan agar pembelajaran observasional terjadi. Ada tiga jenis penguat yang bisa menolong : memberi imbalan pada model, memberi imblan pada anak, dan memerintahkan anak untuk membuat pernyataan untuk memperkuat diri.
c.       Pendekatan perilaku kognitif dan regulasi diri
Pendekatan perilaku kognitif, penekanannya adalah untuk membuat murid memonitor, mengelola dan mengatur perilaku mereka sendiri, bukan mengontrol mereka melalui faktor eksternal. Pendekatan perilaku kognitif berusaha mengubah miskonsepsi murid, memperkuat keahlian mereka dalam menangani sesuatu, meningkatkan kontroldiri, dan mendorong refleksi diri yang kontruksif (Meichenbaum,1993).
Metode instruksi diri adalah sebuah teknik perilaku kognitif yang dimaksudkan guna mengajari individu untuk memodifikasi perilaku mereka sendiri. Strategi bicara pada diri sendiri yang bisa dipakai guru dan murid untuk mengatasi situasi yang menggelisahkan :


*      Bersiap menghadapi stres atau kecemasan
“apa yang harus aku lakukan?”
“aku akan menyusun rencana untuk menganinya”
*      Menghadapi dan menangani kecemasan atau stres
“aku bisa menghadapi tantangan itu”
Aku akan menjalankan setahap demi setahap”
*      Mengatasi perasaan pada saat kritis/mendesak
“apa ini yang harus aku lakukan?”
“ aku tahu aku akan tambah cemas. Aku cukup mengontrol diriku sendiri”
*      Menggunakan pernyataan penguat diri
“bagus. Aku bisa”
“ aku bisa mengatasinya dengan baik”
Dalam banyak kasus, strateginya adalah mengganti pernyataan negatif dengan pernyataan positif. Berbicara positif kepda diri sendiri dapat membantu guru dan murid mewujudkan potensi penuh mereka. Para behavioris kognitif merekomendasikan agar murid meningkatkan prestasi mereka dengan cara memonitor perilaku  mereka sendiri. Monitor diri adalah strategi yang bagus untuk meningkatkan pembelajaran, dan anda dapat mebantu murid belajar melakukannya secara efektif.
Pembelajaran regulasi diri, adalah memunculkan dan memonitor sendiri pikiran, perasaan dan perilaku untuk mencapai suatu tujuan. Karakteristik pelajar regulasi diri (Winne,1995,1997,2001):
o   Bertujuan memperluas pengetahuan dan menjaga motivasi
o   Menyadari keadaan emosi mereka dan punya strategi untuk mengelola emosinya
o   Secara periodik memonitor kemajuan ke arah tujuannya
o   Menyesuaikan atau memperbaiki strategi berdasarkan kemajuan yang mereka buat
o   Mengevaluasi halangan yang mungkin muncul dan melakukan adaptasi yang diperlukan
Para peneliti telah menemukan bahwa murid berprestasi tinggi sering kali merupakan pelajar yang juga belajar mengatur diri sendiri. Perkembangan regulasi diri dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah modeling dan self efficacy. Model adalah sumber penting untuk menyampaiakn keterampilan regulasi diri. Self-efficacy dapat mempengaruhi murid dalam suatu tugas, usahanya, ketekunannya, dan prestasinya.
d.      Mengevaluasi pendekatan kognitif sosial
Pendekatan kognitif sosial telah memberi kontribusi penting untuk mendidik anak. Pembelajaran dilakuakn dengan mengamati dan mendengar model yang kompeten dan kemudian meniru apa yang mereka lakukan. Penekanannya pendekatan perilaku kognitif pada pembelajaran instruksi diri, pembicaraan diri, dan regulasi diri, telah menimbulkan pergesaran penting dari pembelajaran yang dikontrol orang lain ke kemauan untuk betanggung jawab atas pembelajarang yang dilakukan seseorang.
Beberapa teoritisi kognitif percaya bahwa pendekatan tersebut masih terlalu fokus pada perilaku dan faktor eksternal dan kurang menjelaskan secara detail bagaiamana berlangsungya proses kognitif seperti pikiran, memori, pemecahan masalah dan sebagainya.

0 comments:

Post a Comment

silahkan tinggalkan komentar anda demi perbaikan blog ini!!!

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Sandri Andeski - All Rights Reserved