Thursday, August 18, 2011

peranan motivasi dalam belajar

Pengertian Motivasi Belajar
Dalam kehidupan sehari–hari jarang kita dengan sengaja memperhatikan dan merenungkan perbuatan teman–teman kita atau orang lain di lingkungan kita. Begitu juga terhadap perbuatan kita sendiri, seringkali kita tidak begitu menghiraukannya. Padahal jika di renungkan, banyak hal yang mengangumkan dan sangat menarik bagi kita untuk menyelidikinya.
Sebagai contoh : seorang pengendara becak bermandi peluh menarik penumpang yang berbadan besar di panas matahari dan di jalan menanjak pula. Dari contoh tersebut timbul dari pertanyaan kita, “mengapa mereka melakukan atau bekerja seperti itu ?” atau dengan kata lain “ apakah motif mereka berbuat demikian “.
Dari pengertian motif atau motivasi itu sendiri yaitu segala sesuatu atau keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai tujuan, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa apapun yang di lakukan oleh manusia yang penting maupun yang kurang penting, yang berbahaya maupun yang tidak mengandung resiko selalu ada motivasinya.
Sartain dalam bukunya “Psychology Understanding of Human Behavior“ juga mengatakan bahwa pada umumnya suatu motivasi atau dorongan samapai dengan suatu peryataan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan ( goal ) atau perangsang ( incentive ).
Sedangkan belajar adalah usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku secara keseluruhan sabagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Belajar merupakan proses perkembangan hidup manusia. Dengan belajar manusia melakukan perubahan kualitas individu, perkembangan tingkah lakunya merupakan hasil aktifitas yang berbentuk prestasi hidup dari hasil belajar.
Dalam jurnal yang meneliti masalah motivasi pada anak-anak sekolah yang juga merengkap sebagai loper koran mendefinisikan bahwa ”Motivasi Belajar adalah kondisi-kondisi yang memberi dorongan pada individu dalam belajar untuk mencapai hasil yang lebih baik dari sebelumnya”.


Jenis – jenis motivasi
Para ahli psikologi berusaha menggolongkan motif – motif yang ada pada diri manusia atau suatu organisme, kedalam beberapa golongan menurut pendapat masing – masing.
Menurut Woodworth dan Marquis, motif itu dapat di bedakan menjadi 3 macam yaitu :
Kebutuhan–kebutuhan organik, yaitu motif–motif yang berhubungan dengan kebutuhan–kebutuhan bagian dalam dari tubuh. Contoh : kebutuhan untuk minum, makan, bernafas, seksual, berbuat, dan beristirahat.
Motif-motif darurat, yaitu motif-motif yang timbul jika situasi menuntut timbulnya tindakan atau respon yang cepat dan kuat serta timbul karena perangsang dari luar. Contoh : dorongan untuk menyelamatkan diri, membalas, berusaha, memburu, dll.
Motif objektif, yaitu motif yang diarahkan atau ditujukan ke suatu objek atau tujuan tertentu di sekitar kita. Contoh : kebutuhan akan eksplorasi, memanipulasi, menyelidiki, dll.
Penggolong lain didasarkan atas terbentuknya motif – motif itu. Berdasarkan atas hal ini dapat di bedakan adanya 2 macam motif, yaitu :
Motif bawaan, yaitu motif-motif yang dibawa sejak lahir dan tidak dipelajari (unlearned motives). Contoh : dorongan untuk makan, minum, seksual, bergerak, dan beristirahat.
Motif yang dipelajari (learned motives), yaitu motif yang timbulnya karena dipelajari. Contoh : dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengejar sesuatu kedudukan, dsb.
Berdasarkan atas jalarannya, para ahli juga membedakan adanya 2 macam motif.
Motif ekstrinsik, yaitu motif yang berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Contoh : orang belajar giat karena diberi tahu bahwa sebentar lagi akan ada ujian.
Motif intrinsik, yaitu motif yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar karena dari dalam diri individu sendiri telah ada dorongan itu. Contoh : orang yang rajin dan bertanggung jawab tidak perlu menanti komando sudah belajar dengan sebaik-baiknya.
Aktivitas yang didorong oleh motif intrinsik ternyata lebih sukses dari pada yang didorong oleh motif ekstrinsik.oleg karena itu alangkah baiknya kalau dapat ditimbulkan seluas mungkin motif intrinsik itu pada setiap anak didik.
Teori – teori motivasi
Beberapa teori tentang motivasi, antara lain :
Motivasi dan penguat (reinforcer)
Konsep motivasi berkaitan erat dengan prinsip-prinsip bahwa tingkah laku yang telah diperkuat pada waktu yang lalu barang kali diulang sedangkan tingkah laku yang tidak diperkuat atau dihukum tidak akan diulang. Skinner dan ahli teori tingkah laku lainnya setuju bahwa tidak perlu memisahkan antara teori belajar dan motivasi, karena motivasi secara sederhana adalah hasil dari penguatan.
Hadiah dan penguat (reward dan reinforcer)
Dengan binatang yang sangat lapar, kita dapat meramalkan bahwa makanan akan menjadi penguat yang efektif. Dengan manusia yang sangat lapar, kita tidak yakin apakah makanan akan menjadi reinforcer yang efektif, karena sebagian besar potensi reinforcer ditentukan oleh pribadi dan situasi. Jadi, nilai reinforcer dari reward tidak begitu saja diterima, karena semua itu tergantung pada banyak faktor.
Kognitif dan disonance
Kebutuhan untuk menyatakan bahwa dirinya adalah seorang yang baik (positif) merupakan suatu motivator yang kuat. Banyak dari tingkah laku kita yang kita tujukan kepada standar kepuasan dari kita sendiri. Tetapi dalam suatu situasi dimana kita gagal menunjukkan diri kita yang positif, kita biasanya menggunakan rasionalisasi untuk melindungi diri kita.
Salah satu teori psikologi yang menerangkan tentang tingkah laku seseorang dengan memberi alasan untuk menunjukkan bahwa dirinya positif adalah teori kognitif disonance. Teori ini berpegang bahwa orang akan marah atau tidak senang jika nilai kepercayaannya ditentang oleh tingkah laku yang secara psikologis tidak konsisten. Untuk mengatasi ketidaksenangannya ini mereka mengubah tingkah lakunya atau kepercayaannya atau mereka membenarkan tingkah lakunya dengan memberikaan alasan yang kira-kira masuk akal.
Teori atribusi
Satu konsep untuk teori atribusi adalah locus of control. Seseorang dengan “internal locus of control” adalah seseorang yang percaya bahwa sukses atau gagal adalah hak nya atau karena usahanya sendiri atau kemampuannya sendiri. Sebaliknya, seseorang dengan “eksternal locus of control” adalah seseorang yang lebih percaya karena ada faktor-faktor lain seperti keberuntungan atau nasib, tugas yang sulit atau perbuatan orang lain yang menyebabkan gagal atau sukses.
Adapun pentingnya teori atribusi untuk pendidikan dimana seorang siswa membutuhkan dorongan untuk dapat melihat bagaimana situasi dapat berubah, karena sukses ini tidak hanya disebabkan mereka cerdas saja. Tetapi memang karena usaha keras yang mereka lakukan untuk mewujudkan kesuksesan itu.
Covingtons theory of self-worth
Theory of self-worth (menghargai dirinya sendiri) adalah salah satu teori motivasi berprestasi. Teori ini menggabungkan komponen motivasi dengan persepsi yang menyebabkan sukses dan gagal. Menurut teori self-worth, seseorang individu belajar dari persepsi masyarakat bahwa seseorang dinilai karena persepsinya.
Sebagai contoh, bagaimana seseorang mencoba untuk mempertahankan persepsi bahwa dia mempunyai kemampuan yang positif yang merupakan basis dari self-worth. Jika seseorang gagal dalam menjalankan tugas, persepsi orang bahwa dia tidak mampu. Kegagalan menciptakan perasaan diri yang tidak berharga dan menolok dirinya sendiri (self rejection), akibatnya mereka akan menghindari situasi atau mengembangkan strategi untuk melindungi diri dari kurangnya kemampuan.
Expectancy theories of motivation
Biasanya, hubungan antara kebutuhan dan tingkah laku adalah individu merespon terhadap kebutuhan yang muncul. Sering kali individu dihadapkan pada bagaimana memilih respon untuk berbagai kebutuhan. Upaya memilih-milih menurut jenisnya itulah yang disebut teori harapan.
Edward (1954) dan Atkinson (1964) mengembangkan teori-teori motivasi berdasarkan pada rumus berikut :
Teori ini mengatakan bahwa motivasi manusia untuk mencapai sesuatu tergantung pada hasil perkiraan mereka akan adanya kesempatan untuk sukses dan nilai yang mereka tempatkan pada sukses. Contoh, jika Rizki mengatakan,”Saya pikir bahwa saya bisa masuk dalam daftar orang-orang yang berprestasi, jika saya mencoba, dan ini penting bagi saya bisa masuk dalam daftar orang-orang yang berprestasi”, kemudian dia akan bekerja keras supaya masuk dalam daftar orang-orang yang berprestasi.
Satu aspek yang sangat penting dari rumus M = Ps x Is adalah multiplicative, artinya jika orang percaya bahwa kemungkinan sukses mereka adalah nol atau jika mereka tidak menghargai sukses, kemudian motivasi mereka akan nol.
Atkinson (1964) menambahkan satu aspek penting pada teori harapan adalah bahwa di bawah kondisi tertentu kemungkinan akan sukses begitu besar dapat merusak motivasi.
Jadi, implikasi yang paling penting dari teori expectancy untuk pendidikan adalah pendapat yang masuk akal bahwa tugas-tugas untuk siswa segarusnya tidak begitu mudah dan tidak juga begitu sulit.
Teori humanistik untuk motivasi
Interpretasi humanistik terhadap motivasi menekankan adanya kebebasan, pilihan menentukan dirinya sendiri dan berjuang untuk pertumbuhan pribadi. Banyak teori – teori humanistik menggambarkan peranan kebutuhan. Orang dimotivasi oleh kebutuhan atau ketegangan di ciptakan oleh kebutuhan untuk bergerak menuju tujuan di mana mereka percaya akan membantu memenuhi kebutuhan.
Satu konsep yang di perkenakan maslow adalah perbedaan antara deficiency needs dan growth needs. Deficiency needs ( rasa aman, cinta, dan harga diri) adalah menyangkut fisik dan psikis. Kebutuhan ini harus di puaskan. Tetapi sekali dipuaskan,motivasi seseorang untuk kebutuhan ini hilang. Sebaliknya, growth needs seperti kebutuhan untuk ingin tahu dan mengerti, kebutuhan untuk keindahan untuk keindahan dan kebutuhan aktualisasi diri tidak pernah terpuaskan seluruhnya.
Self actualization menurut istilah Maslow adalah pemenuhan dirinya sendiri dan realisasi dari potensi pribadi. Sedangkan self actualization itu didefenisikan sebagai “the desire to become everything that one is capable of becoming”(keinginan untuk menjadi apapun yang ingin dia lakukan), dicirikan dengan menerima dirinya sendiri dan orang lain, spontan, terbuka, hubungannya dengan orang lain relatif dalam tetapi “demokratis”, kreatif, punya rasa humor dan mandiri.
Adapun implikasi teori humanistik terhadap pengajaran dari teori Maslow adalah keinginan siswa untuk memenuhi tingkat kebutuhan yang paling bawah yang mungkin pada suatu waktu berlawanan dengan keinginan guru sendiri yang ingin membuat siswa mencapai tujuan yang paling tinggi.
Motivasi dan kepribadian
Salah satu kegunaan konsep motivasi adalah menggambarkan kecenderungan umum seseorang dalam usaha mencapai tujuan tertentu. Motivasi sering dilihat sebagai sifat-sifat kepribadian seseorang yang relatif stabil karena motivasi sebagai suatu sifat kepribadian adalah suatu hasil yang besar dari sejarah reinforcement seseorang.
Jika anak dipuji oleh orang tua dan guru mereka karena menunjukkan minat yang besar pada hal-hal disekitarnya seperti banyak membaca dan menyukainya (karena diperkuat oleh orang tua mereka, guru dan oleh isi buku itu sendiri) maka dia akan mengembangkan suatu “cinta belajar” sebagai sifat-sfat pribadi ppada umumnya. Dia akan membaca dan belajar terus bahkan tanpa diperkuat oleh siapa pun dan biasanya akan sukses di sekolah.
Motivasi berprestasi
Menurut McCellend dan Atkinson (1948), motivasi yang paling penting untuk psikologi pendidikan adalah motivasi prestasi, dimana seseorang cenderung berjuang untuk mencapai sukses atau memilih suatu kegiatan yang berorientasi untuk tujuan sukses atau gagal. Contoh, untuk memilih teman kerja yang cocok dalam melakukan tugas yang sangat sulit, siswa-siswa yang termotivasi untuk berprestasi cenderung memilih teman yang baik dan rajin dalam melakukan tugas. Sedangkan siswa-siswa yang termotivasi suka bergabung atau afiliasi (yang mengekspresikan kebutuhannya untuk dicintai dan diterima) barangkali lebih suka memilih teman yang bersahabat dan penuh kehangatan.
Pendeknya, siswa yang termotivasi untuk mencapai prestasi ingin dan mengharapkan sukses, dan jika mereka gagal, mereka akan berusaha lebih keras lagi smpai sukses.

DAFTAR PUSTAKA
Djiwandono, Sri Esti Wuryani. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia
Suryabrata, Sumadi. 2001. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Soemanto, Drs. Wasty. 1998. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Rineka Cipta
Purwanto, Drs. M. Ngalim. 1984. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remadja Karya
Motivasi Belajar Pada Anak-anak Yang Berprofesi Sebagai Loper Koran Yang Bersekolah, Faisal Chairul Oktawijaya. Fakultas Psikologi Gunadarma
Perbedaan Tingkat Pendidikan Orang Tua Dan Motivasi Belajar Anak terhadap Prestasi Belajar Siswa Mata Pelajaran Sosiologi Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Klego Boyolali Tahun Pelajaran 2009/2010, Panggah Prahantoro. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

0 comments:

Post a Comment

silahkan tinggalkan komentar anda demi perbaikan blog ini!!!

◄ Posting Baru
 

Copyright © 2012. Sandri Andeski - All Rights Reserved