Thursday, May 16, 2013

teori belajar Edward Chace Tolman

By sandri kinali | At 12:35 PM | Label : | 0 Comments

EDWARD CHACE TOLMAN

A.      PROFIL EDWARD CHACE TOLMAN
Tolman (1886-1959) lahir di Newton, Massachusetts. Ia memperoleh gelar Master of Art (1912) dan doktornya di Universitas Harvard pada bidang psikologi. Lalu ia mengajar di Universitas Northwestern (1915-1918). Dari universitas ini ia pergi ke Uneversitas California dan menetap di sana hingga ia mengundurkan diri karena menolak untuk menandatangani sumpah setia yang dianggapnya sebagai pelanggaran kebebasan akademik. Akan tetapi ia kembali lagi ke universitas ini atas permintaan para professor.
Teori belajar Tolman dapat dikatakan sebagai campuran antara Teori Gestalt dan Behaviorisme. Setelah lulus dari Harvard Tolman pergi ke Jerman dan bekerja dengan Koffka. Keberadaan teori Gestalt terhadap proses berteorinya mempunyai pengaruh yang sangat signifikan. Sikapnya yang senang terhadap teori Gestalt tidaklah menghalangi perhatiannya terhadap behaviorisme. Tolman memperhatikan ada sedikit nilai dalam introspective approach, padahal ia merasakan psikologi merupakan obyektif yang komplit. Pemikirannya bertentangan dengan para behavioris yang menyatakan unit perilaku bisa dipelajari sebagai unsur-unsur yang terpisah. Para behavioris seperti Pavlov, Guthrie, Hull, Watson, dan Skinner digambarkan Tolman sebagai "Psychology of Twitchism" karena mereka melihat segmen-segmen perlilaku yang besar dapat dibagi menjadi segmen-segmen kecil, seperti reflek-reflek yang selanjutnya dianalisis.
Tolman memandang dengan menjadikan elemen-elemen kecil, sesungguhnya behavioris telah membuang artinya secara utuh. Akan tetapi dia juga yakin bahwa hal seperti itu mungkin juga untuk dijadikan sebagai objek ketika belajar tentang molar behavior secara sistematis. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa Tolman seorang behavioris secara metodologi dan teoris kognitif dalam hal metafisik. Dengan kata lain, ia belajar behavior untuk menentukan proses kognitif.

B.       MOLAR BEHAVIOR
Karateristik utama pemahaman perilaku adalah "purposive" yang selalu diarahkan ke berbagai tujuan atau maksud. Tolman tidak pernah berpendapat bahwa perilaku tidak bisa dibagi menjadi unit lebih kecil untuk kepentingan studi, namun demikian ia merasakan bahwa pola perilaku utuh mempunyai suatu maksud tertentu yang akan hilang jika dipelajari dari sudut pandang parsial atau dari elemen-elemen individual.
Bentuk perilaku yang dinamakan Tolman (1932) sebagai molar, misalnya: seekor tikus yang berlari di simpang siur jalan (maze), seekor kucing yang keluar dari puzzle box, anak-anak yang saling bercerita tentang pikiran dan perasaan mereka. Yang harus diperhatikan, bahwa ketika menyebutkan hal di atas maka akan melibatkan seluruh otot, kelenjar, kegelisahan sensory dan motor nerver. Untuk respon-respon seperti di atas, bagaimanapun juga cukup mengidentifikasikan sifat-sifat mereka sendiri.

C.       PURPOSIVE BEHAVIORISME
Teori Tolman dikenal sebagai purposive behaviorism karena mencoba untuk menjelaskan goal (tujuan) mengarah pada perilaku atau purposive behavior. (Tolman menggunakan istilah purposive semata-mata untuk pendiskripsikan). Ia terkenal dengan contoh mencari perilaku sampai makanan ditemukan. Oleh karena itu, nampak "as if(seolah-olah)" perilakunya adalah goal-directed atau purposive. Dalam hal ini ada persamaan antara Guthrie dan Tolman. Menurut Guthrie perilaku tetap berlaku sepanjang pemeliharaan stimuli disajikan oleh beberapa status kebutuhan (need). Sedangkan menurut Tolman perilaku "as if" merupakan goal diarahkan sepanjang organisma sedang mencari-cari sesuatu yang ada di lingkungannya.

D.      KONSEP TEORITIS UTAMA
Tolman memperkenalkan penggunaan variable campuran dalam riset psikologis, dan Hull meminjam gagasan meminjam gagasan itu darinya. Keduanya menggunakan variable campuran yang serupa dalam penelitiannya. Namun bagaimanapun juga, Hull lebih banyak mengembangkan dan mengelaborasi teori belajar dari pada yang dilakukan Tolman.
Asumsi-asumsi umum yang dikemukakan Tolman dalam proses belajar:
1.      Apa arti belajar?
Para tokoh behavioris seperti, Pavlov, Watson, Guthrie, dan Hull, mengatakan bahwa asosiasi-asosiasi stimulus respons itu yang dipelajari dan melibatkan hubungan S-R yang komplek. Atau belajar adalah perubahan dengan tingkah laku sebagai dari interaksi antara lain stimulus dan respons. Sedangkan Tolman banyak mengambil petunjuk atau pandangan awal dari teori-teori Gestald, yang mengatakan bahwa dalam belajar, hal yang utama adalah proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Sebuah organisme yang sampai pada ekplorasi, yang kemudian menemukan peristiwa tertentu, lalu ditunjukkan pada peristiwa tertentu lainnya, atau dengan kata lain, lalu ditunjukkan pada peristiwa tertentu lainnya, atau dengan kata lain, sebuah tanda memimpin tanda memimpin tanda yang lain. Oleh karena itu, Tolman lebih dikenal sebagai ahli teori S-S. Pengetahuan bagi Tolman adalah suatu proses berkelanjutan yang tidak memerlukan motivasi apapun. Dalam hal ini, Tolman sependapat dengan Guthrie dan bertentangan dengan Pavlov, Skinner, dan Torndike. Bagaimanapun juga, haruslah ditunjukkan bahwa motivasi adalah penting bagi teori Tolman. Karena motivasi itu menentukan aspek-aspek lingkungan mana yang hendak disertai oleh organisme tersebut. Misalnya, organisme yang lapar akan memakan makanan yang ada di lingkungan itu.
Menurut Tolman, belajar adalah mengenal tentang situasi. Organisme belajar tentang sesuatu yang ada di sekitarnya, jika ia berbalik ke kiri, ia akan menemukan sesuatu. Jika ia berbalik ke kanan, ia temukan juga sesuatu yang lain. Hal ini terjadi secara berangsur-angsur, sehingga ia dapat membuat kesimpulan sendiri. Dengan demikian, menurut Tolman, belajar itu akan sia-sia jika hanya dihafal.
2.      Confirmation versus Reinforcement
Sebagaimana Guthrie, konsep penguatan (reinforcement) adalah tidak penting bagi Tolman sebagai variable pembelajaran. Akan tetapi, Tolman mengatakan sebagai konfirmasi, di mana behavioris menyebutnya Rinforcement. Selama perkembangan sebuah peta kognitif, harapan atau dugaan-dugaan dimanfaatkan oleh sebuah organisme. Dugaan adalah sebuah firasat tentang sesuatu dan fungsinya. Di mana awal sebuah dugaan bersifat sementara yang disebut hipotesis, yang berasal baik dari pengalaman maupun bukan. Hipotesis yang telah dikonfirmasikan akan dipakai. Sedangkan hipotesis yang salah akan dibuang. Yang harus diperhatikan adalah proses penerimaan maupun penolakan hipotesis merupakan sebuah proses kognitif bukan termasuk tindakan behavior.
Dalam proses pengambilan keputusan dalam persepsi, Bruner menyatakan ada 4 tahap pengambilan keputusan:
a.       Kategorisasi primitive, di mana obyek atau peristiwa yang diamati diisolasi dan ditandai berdasarkan ciri-ciri khusus.
b.      Mencari tanda (cue search), di mana si pengamat secara tepat memeriksa lingkungan untuk mencari informasi-informasi tambahan untuk memungkinkannya melakukan kategorisasi yang tepat.
c.       Konfirmasi, terjadi setelah obyek mendapatkan penggolongan sementaranya. Pada tahap ini si pengamat tidak lagi terbuka untuk sembarang masukan, melainkan ia hanya menerima tambahan informasi yang akan memperkuat konfirmsi keputusannya. Masukan-masukan yang tidak releven dihindari.
d.      Konfimasi tuntas, di mana pencarian tanda-tanda diakhiri. Tanda-tanda baru diabaikan dan tanda-tanda yang tidak konsisten dengan kesimpulan juga diabaikan.
3.      Vicarious Trial and Error
Tolman memperhatikan karakteristik tikus dalam kebingungan (jalan simpag siur). Sehingga ia bisa memanfaatkannya sebagai pendukung untuk menafsirkan teori belajarnya. Seekor tikus sering berhenti pada suatu titik tertentu dan memandang sekelilingnya seolah-olah berpikir tentang berbagai alternatif yang ada. Kegiatan seperti ini (berhenti dan memandang sekelilingnya) yang disebut Tolman sebagai Vicarious Trial and Error, sehingga organisme itu bisa membuat kesimpulan sendiri dari berbagai kegiatan yang telah dilakukannya.
4.      Learning Versus Performance
Sebagaimana diterangkan, bahwa Hull membedakan antara learning dan performance. Pada akhir teorinya, Hull menyatakan bahwa banyaknya jumlah percobaan (trial) yang diperbuat merupakan satu-satunya variable belajar. Sedangkan variabel-variabel lainnya, yang ada dalam sistemnya merupakan variable capaian (performance). Sehingga performance dapat dimaksudkan sebagai perwujudan belajar ke dalam prilaku.
Hal seperti ini penting bagi Hull, tapi juga penting bagi Tolman. Menurut Tolman, kita mengetahui banyak hal tentang lingkungan di sekitar kita, akan tetapi, kita hanya akan melaksanakan informasi atau pengetahuan itu ketika kita harus melakukannya. Dalam status kebutuhan (need), organisme memanfaatkan apa yang telah dipelajarinya hingga sampai pada real testing yang bisa menguangi kebutuhan itu. Misalnya, ada dua kran air dalam rumah kita, dalam jangka waktu yang lama, kita tidak pernah memperhatikan atau meminumnya hingga suatu saat terasa sangat haus. Secara spontan kita akan meminumnya salah satu dari keduanya. Dari sini, kita akan mengetahui bagaimana menemukan air minum itu tanpa harus menunggu hingga terasa haus.
Beberapa point sejauh ini yang dapat diringkas adalah:
a.       Organisme membawa kepada bentuk problem-solving berbagai hipotesis, yang bisa jadi akan memanfaatkan percobaan untuk memecahkan masalah ini. Hipotesis ini sebagian besar didasarkan pada pengalaman terdahulu. Tolman juga percaya bahwa beberapa strategi problem-solving bisa jadi merupakan pembawaan.
b.      Hipotesis yang survive, yaitu yang sesuai dengan kenyataan menjadikan maksud atau tujuan tercapai.
c.       Ketika ada berbagai tuntutan maupun alasan yang harus dipenuhi, sebuah organisme akan memanfaatkan penggunaan informasi yang ada dalam peta kognitifnya. Hal inilah yang menjadi dasar perbedaan learning dan performance.
5.      Latent Learning
Latent learning adalah belajar yang tidak diwujudkan dalam performance. Dengan kata lain, latent learning merupakan kemungkinan belajar yang terbengkalai dalam waktu yang amat panjang sebelum hal tersebut dinyatakan dalam prilaku. Konsep tentang latent learning sangat penting bagi Tolman, dan dia merasa sukses dalam mendemonstrasikan eksistensinya. Eksperimen terkenal yang dilakukan oleh Tolman dan Honzik (1930) melibatkan tiga kelompok tikus, yang mencoba belajar untuk memecahkan suatu kebingungan (jaringan jalan yang simpang siur). Kelompok pertama, tidak pernah diperkuat untuk dengan tepat melintasi jalan yang simpang siur itu. Kelompok kedua, selalu diperkuat (reinforced). Sedang kelompok ketiga, tidaklah diperkuat sampai hari ke-11 mengadakan percobaan. Kelompok terakhir inilah yang menarik bagi Tolman. Teorinya tentang latent learning meramalkan bahwa kelompok ini akan belajar di simpang siur jalan itu, sama halnya dengan kelompok yang secara teratur diperkuat. Dan ketika penguatan (reinforcement) diperkenalkan pada hari ke-11, kelompok ini akan melakukan seperti halnya kelompok yang secara terus menerus diperkuat (reinforced).
6.      Reinfocement Expectancy
Menurut Tolman, ketika kita belajar, kita menganalisa "situasi". Term understanding selalu ada hubungannya dengan Tolman sebagaimana para behavioris. Dalam situasiproblem-solving, kita belajar untuk memperoleh cara yang paling paktis. Kita belajar untuk mengharapkan terjadinya persitiwa tertentu, mengikuti peristiwa yang lain. Seekor binatang mengharapkan jika ia pergi ke suatu tempat tertentu, maka ia akan menemukan reinforcer tertentu. Manurut pada ahli teori S-R, bahwa merubah reinforcer dalam teori belajar tidak akan mengganggu prilaku sepanjang kuantitas reinforcement tidak dirubah secara drastis. Sedangkan menurut Tolman, ia memprediksikan, jika reinforcer dirubah, prilaku akan terganggu, karena reinforcement expectancy merupakan bagian dari apa yang diharapkan.

E.       SIX KINDS OF LEARNING
Dalam artikelnya (1949), "There is More than One Kind of Learning", Tolman membagi belajar menjadi enam macam.
1.      Cathexes
Cathexis (jamak chatexes) mengacu pada kecenderungan belajar untuk berhubungan dengan obyek tertentu serta drive state tertentu. Misalnya, makanan tertentu yang tersedia bisa jadi mencukupi rasa lapar seseorang yang hidup di suatu negeri. Masyarakat yang hidup di suatu negeri, di mana ikan selalu dimakan akan cenderung untuk dicari guna memenuhi rasa laparnya. Individu-individu yang sama akan menghindari daging sapi atau spageti karena bagi mereka, makanan itu tidak dihubungkan dengan kepuasan rasa lapar. Karena stimuli tertentu itu dihubungkan dengan kepuasan drive tertentu, sehingga stimuli-stimuli itu akan cenderung untuk dicari-cari ketika drive itu terulang.
2.      Equivalence Beliefs
Ketika sebuah "subgoal" mempunyai pengaruh yang sejenis dengan dirinya, maka subgoal itu dikatakan mendasari sebuah equivalence belief. Hal seperti ini hamper sesuai dengan yang disebut oleh para ahli teori S-R sebagai secondary reinforcement. Tolman (1949) menganggap bahwa jenis belajar ini termasuk dalam typical "social drives" dari pada physiological drives. Misalnya, sepanjang dapat dipertunjukkan bahwa dengan need siswa untuk cinta dan penerimaan yang baik tanpa harus menceritakan tentang nilai ataupun kualitasnya, kemudian kita ingin mempunyai bukti untuk equivalence belief.
Di sini ada sedikit perbedaan antara Tolman dan para ahli teori S-R, kecuali pada sebuah fakta di mana Tolman menyebut "love reduction" sebagai reinforcement, dan para teori S-R lebih suka menyebutnya sebagai penurunan drive seperti rasa haus atau lapar.
3.      Field Expectancies
Ini dikembangkan dengan cara yang sesuai menurut perkembangan peta kognitif. Sebuah organisme belajar tentang obyek dan fungsinya. Ketika melihat suatu tanda tertentu ia mengharapkan sign yang lain akan mengikutinya. Pengetahuan umum tentang lingkungan digunakan untuk menerangkan latent learning dan place learning. Hal seperti ini bukan merupakan S-R learning melainkan S-S learning atau sign-sign learning. Di mana ketika seekor binatang melihat suatu sign, maka ia belajar dan berharap akan diikuti oleh yang lain. Satu-satunya "reinforcement" yang penting untuk jenis belajar seperti ini adalah konfrmasi sebuah hipotesis.
4.      Field-Cognition Modes
Jenis belajar seperti ini kurang diminati oleh Tolman. Ini adalah sebuah strategi, cara pendekatan untuk situasi problem-solving. Hal ini merupakan sebuah tendensi untuk menyusun perceptual field dalam bentuk tertentu. Tolman mencurigai bahwa kecenderungan ini adalah bawaan, tetapi bisa dimodifikasi dengan pengalaman. Sesungguhnya hal paling utama pada strategi yang bekerja dalam pemecahan masalah adalah akan dicoba pada situasi yang sama pada masa yang akan datang. Seperti itulah field cognition modes yang efektif, atau problem-solving, yaitu memindahkan permasalahan-permasalahan yang berhubungan.
5.      Drive Discrimination
Drive discrimination hanya mengacu kepada fakta bahwa organisme dapat menentukan status drive mereka sendiri. Oleh karena itu, mereka mampu merespon sewajarnya. Contohnya, telah ditemukan bahwa seekor binatang dapat dilatih untuk masuk searah dalam T-maze, ketika mereka marasa lapar ataupun haus.
6.      Motor Patterns
Tolman menunjukkan bahwa teorinya sebagian besar itu terkait dengan ide asosiasi bukan terkait dengan ide yang berhubungan dengan prilaku. Motor patern learning ini merupakan suatu usaha untuk memecahkan sebuah masalah. Tolman menerima interpretasi Guthrie tentang bagaimana respon bisa menjadi hubungan dengan stimuli.

F.        KONTRIBUSI TOLMAN TERHADAP TEORI BELAJAR
Ketika kita mencari kontribusi Tolman terhadap teori belajar maka akan kita dapatkan penemuan tunggalnya tentang latent learning. Kontribusi terbesar Tolman terletak tak sebanyak dalam penemuan penelitian yang spesifik dan lebih memerankan tugasnya melawan behavioris Hull. Dimana Hull dan teman-temannya mampu menolak pendapat psikologi Gestalt dan Piaget, yang terjadi perbedaan keduanya pada metodologi dan subyek bersifat eksperimen.
Tolman merupakan penengah bagi para behavioris S-R dengan para psikolog yang memandang belajar sebagai proses kognitif.

G.      KRITIK TERHADAP TEORI TOLMAN
Kritik ilmiah terhadap teori Tolman sangatlah valid. Teorinya tidaklah mudah untuk diterapkan dalam penelitian yang sangat cermat empiris. Karena hal itu akan melibatkan sejumlah individu dan variable campuran yang mana hal ini sangatlah sulit untuk dikumpulkan.
Melone (1991) mengajukan kritik yang serius terhadap Tolman ini, dengan luasnya pengenalan tentang variable campuran, Tolman sesungguhnya menyebabkan kemunduran psikologi kembali keorientasi metalistic abad ke-19 bukannya kemajuan psikologi abad ke-20. Sebagai bukti terhadap klaimnya ini, Malon (1991) menunjuk pada ketiadaan aplikasi praktis yang dihasilkan oleh teori Tolman.

teori belajar B F Skinner

By sandri kinali | At 12:30 PM | Label : | 1 Comments

A.    Konsep/ Prinsip/ Asumsi Dasar
Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan memengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya memengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000).                                                                  Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu penjelasan lagi, demikian seterusnya.
Teori belajar Skinner menyatakan bahwa perubahan perilaku terjadi karena adanya reinforcement yang didapat ketika perilaku itu muncul.Konsep dasarnya adalah perilaku muncul karena adanya pengetahuan individu mengenai apa yang akan terjadi ketika perilaku itu dilakukan. Dan Skinner meyakini bahwasanya perilaku individu dipengaruhi oleh adanya interaksi yang terus menerus dengan lingkungan sekitar.                                                          Menurut Skinner (J.W. Santrock, 272) unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment). Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas terjadinya suatu perilaku . Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.

Ø Konsep Teoritis Skinner
1.   Behaviorisme Radikal
Skinner menolak teori behavioristik yang menggunakan istilah tersebut merujuk kepada pengalaman mental yang bersifat pribadi dan menurutnya menyebabkan psikologi kembali ke bentuk “non ilmiah”. Dari pengkoreksian sebelumnya,skinner menyatakan bahwa behaviorisme radikal itu adalah pandangan yang luar biasa tentang ilmu pengetahuan.
2.   Responden Behaviour
Perilaku responden yang ditimbulkan oleh suatu stimulus yang dikenali. Contoh : gerak reflek (mengedik ketika terkena cahaya) karena perilaku operan pada awalnya tidak berkorelasi dengan stimulus yang dikenali maka dia tampak spontan. Sedangkan Operant Behaviour adalah perilaku operant yang tidak diakibatkan oleh stimulus yang dikenal,tetapi dilakukan sendiri. contoh perilaku operan : tindakan ketika hendak bersiul, berdiri lalu berjalan atau anak yang meninggalkan suatu mainan dan beralih ke mainan lainnya.
3.   Pengkondisian tipe S-R
     Pengkondisian tipe S menekankan arti penting stimulus yang menimbulkan respon yang diinginkan. Sedangkan tipe R adalah  respon dimana pengkondisian dinamakan operant conditioning (pengkondisian operan).
Menurut Skinner  penguatan dan hukuman dibagi menjadi dua bagian yaitu :
a.    Penguatan positif                                                                                                         
     Penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).
b. Penguatan negative                
      Penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).


c.       Hukuman yang positif
Meliputi mengurangi perilaku dengan memberikan stimulus yang tidak menyenangkan jika perilaku itu terjadi. Orang tua menggunakan hukuman positif ketika mereka memukul, memarahi, atau meneriaki anak karena perilaku yang buruk.
d.    Hukuman negatif atau disebut juga peniadaan
 meliputi mengurangi perilaku dengan menghilangkan stimulus yang menyenangkan jika perilaku terjadi. Taktik orang tua yang membatasi gerakan anaknya atau mencabut beberapa hak istimewanya karena perbuatan anaknya yang buruk merupakan contoh hukuman negative.
Contoh dari konsep penguatan positif, negatif, dan hukuman (J.W Santrock, 274):
A.Penguatan positif
Perilaku
Murid mengajukan pertanyaan yang bagus
Konsekuensi
Guru menguji murid
Prilaku kedepan
Murid mengajukan lebih banyak pertanyaan
B.Penguatan negatif
Perilaku
Murid menyerahkan PR tepat waktu
Konsekuensi
Guru berhenti menegur murid
Prilaku kedepan
Murid makin sering menyerahkan PR tepat waktu
C.Hukuman
Perilaku
Murid menyela guru
Konsekuensi
Guru mengajar murid langsung
Prilaku kedepan
Murid berhenti menyela guru
Ingat bahwa penguatan bisa berbentuk postif dan negatif. Dalam kedua bentuk itu, konsekuensi meningkatkan prilaku. Dalam hukuman, perilakunya berkurang.

Skinner membuat tiga asumsi dasar :
1. Perilaku itu terjadi menurut hukum tertentu (behavior is lawful).Walaupun mengakui bahwa perilaku manusia adalah organisme yang berperasaan dan berpikir, namun Skinner tidak mencari penyebab perilaku di dalam jiwa manusia dan menolak alasan-alasan penjelasan dengan mengendalikan keadaan pikiran (mind) atau motif-motif internal.
2. Perilaku dapat diramalkan (behavior can be predicted).Perilaku manusia (kepribadiannya) menurut Skinner ditentukan oleh kejadian-kejadian di masa lalu dan sekarang dalam dunia objektif dimana individu tersebut mengambil bagian.
3. Perilaku manusia dapat dikontrol (behavior can be controlled). Perilaku dapat dijelaskan hanya berkenaan dengan kejadian atau situas-situasi  yang dapat diamati. Bahwa kondisi sosial dan fisik di lingkungan sangat penting dalam menentukan perilaku.
B. Eksperimen Skinner
Ø Kotak Skinner
Sebagian besar percobaan binatang skinner,awalnya dilakukan diruangan tes kecil yang terkenal sebagai “skinner box”. Kotak skinner menggunakan lantai ber kisi-kisi ,cahaya,tuas atau pengungkit dan cangkir makanan. Proses kotak skinner ini apabila hewan menekan tuas, mekanisme pemberian makan akan aktif dan secuil makanan akan jatuh ke cangkir makanan.

Ø  Pencatatan Komulatif
Tipe pencatatannya terdiri atas sumbu x  & y, dimana sumbu x menunjukkan waktu dan sumbu y mencatat respon. Pencatatan ini tidak pernah turun, garisnya naik atau tetap sejajar dengan sumbu x.

Ø  Pengkondisian respon penekan tuas
a.       Deprivasi è mengurangi penguat yang akan diberikan pada saat eksperimen, sebelum melakukan eksperimen.
b.      Magazine training è eksperimenter menekan tuas,sehingga bunyi nyaring yang menjadi stimulus,dan mucul respon yaitu makanan yang keluar menjadi penguat.
c.       Penekanan kuas è tikus diletakkan didalam kotak skinner sendirian,dan ketika tikus menekan tuas, menghasilkan bunyi nyaring untuk tanda mengeluarkan respon yaitu makanan.

·      Pembentukan è  membuat respon-respon yang sama yang diinginkan oleh eksperimenter.
·      Pelenyapan    è pencabutan penguat dari pengkondisian operan. Hal ini terlihat dari hasil eksperimen, apabila hewan menekan tuas maka akan diberi makanan,jika pemberi makanan  dihentikan dan hewan tersebut  menekan tuas maka secara perlahan hewan tersebut tidak akan memberikan respon menekan tuas lagi.
·      Pemulihan Spontan è Setelah pelenyapan apabila hewan dikembalikan ke sarangnya selama periode waktu tertentu dan dikembalikan kesituasi percobaan,maka hewan tersebut akan segera mengulangi menekan tuas tanpa dilatih lagi.
·      Perilaku Takhayul è Apabila hewan berperilaku unik dan menarik maka akan mendapatkan makanan,dan hal ini akan menjadi ritual khusus untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Ø  Penguatan sekunder
Meningkatkan atau memelihara kekuatan respon jika individu sudah mempelajari.

Ø  Operant Diskriminatif
Merupakan proses belajar bahwa suatu perilaku akan diperkuat dalam situasi namun tidak dalam situasi lain.
            SD è R è SR  , dimana R adalah respon operan,sedangkan SR adalah stimulus reinforcement. Jadi setiap operan diskriminatif pasti merupakan penguat sekunder karena dia secara konsisten mendahului penguat primer.

Ø Penguatan yang digeneralisasikan dan perantaian
-        Generalized Renforcer
adalah penguat sekunder yang dipasangkan dengan lebih dari satu penguat utama. Skinner (1953) menyatakan : Pada akhirnya penguat yang digeneralisasikan adalah efektif meskipun penguat utama yang menjadi landasannya tidak lagi menginginkannya.
-        Perantaian
satu respon yang dapat membawa organism berhubungan dengan stimuli yang bertindak sebagai stimuli umum untuk merespon lainnya yang pada gilirannya akan menyebabkannya mengalami stimuli yang mneyebabkan respon ketiga . Perkembangan  respon berantai selalu berasal dari penguat utama terus kebelakang,semakin banyak stimuli lain yang menjadi penguat sekunder maka rantainya akan semakin panjang.
C. Tipe Belajar
Tipe belajar yang dikemukaan Skinner memiliki 2 aspek penting :
1.    Classical Conditioning/responden.
è Tipe belajar ini menekankan bahwa stimulus yang sudah dikenal mampu membangkitkan respon individu, sehingga perilaku yang dimunculkan individu disebabkan oleh adanya prediksi  atau pengetahuannya akan akibat yang akan terjadi.

2.  Operant Conditioning.
èOperant conditioning sebelumnya telah diteliti secara sistematis oleh Thorndike. Tipe belajar ini menekankan pada hubungan sebab-akibat, individu akan memunculkan atau tidak suatu perilaku karena dipengaruhi oleh akibat atau konsekuensi yang akan diterimanya.

Secara khusus,proporsi perilaku yang ditunjukkan oleh individu akan bertambah jika perilaku itu terjadi dan disusul oleh reinforcement (penguatan) namun ketika penguatan yang mengikuti munculnya perilaku itu berkurang atau tidak lagi terjadi terdapat kecenderungan berkurangnya proporsi kemunculan perilaku tersebut.

Prinsip-prinsip operan conditioning :
·          Reinforcement (penguatan) : berarti proses memperkuat perilaku yaitu memperbesar kesempatan supaya perilaku itu terjadi lagi.
·         Hukuman : jika reinforcement memperkuat perilaku, maka hukuman memperlemah, yaitu  memngurangi terjadinya peluang di masa depan.
·         Pembentukan : teknik penguatan yang digunakan untuk mengajarkan perilaku yang belum pernah diajarkan sebelumnya.
·         Eliminasi penguatan : merupakan eliminasi dari perilaku yang dipelajari dengan menghentikan penguat dari perilaku tersebut
·         Generalisasi dan diskriminasi : Generalisasi merupakan ketika suatu perilaku yang telah dipelajari dalam suatu situasi dilakukan dan dalam kesempatan lain namun sitruasinya sama. Sebagai misal, seseorang yang diberi hadiah dengan tertawa atas ceritanya yang lucu di suatu bar akan mengulang cerita yang sama di retoran, pesta, atauresepsi pernikahan.
Sedangkan diskriminasi merupkan proses belajar bahwa suatu perilaku akan diperkuat dalam suatu situasi namun tidak dalam situasi lain. Misalnya seseorang akan belajar bahwa menceritakan leluconnya didalam gereja atau dalam situasi bisnis yang membutuhkan keseriusan tidak akan membuat orang tertawa.

D.    Mekanisme Belajar
Mekanisme belajar fungsionalis yang dikemukakan oleh Skinner ini  meliputi manipulasi akibat-akibat dari suatu perilaku dengan tujuan untuk menaikkan atau menurunkan kemungkinan munculnya perilaku tersebut,sehingga reinforcement diberikan secara berulang. Dalam hal ini, lingkungan mempengaruhi perilaku yang dimunculkan oleh individu, dan frekuensi munculnya perilaku berubah-ubah sesuai dengan perkuatan yang mengikutinya. Pada tipe operant conditioning, penguatan (reinforcement) diberikan sesudah munculnya perilaku.

Terdapat 4 sifat operant conditioning Skinner, yaitu;
1.      Positive Reinforcement; Ketika Individu memunculkan perilaku yang diharapkan, maka penguatan  positif (menyenangkan) diberikan.
2.      Negative Reinforcement; Ketika individu menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan harapan,maka penguatan negatif (tidak diharapkan) diberikan.
3.      Punishment; Jika individu menunjukkan perilaku yang diharapkan (perilaku operan) maka hukuman diberikan,jika tidak memunculkan itu maka hukuman dihentikan.
4.      Ommision Training; Jika individu memunculkan perilaku operan, maka penguatan akan dihentikan, namun jika individu tidak memunculkan perilaku operan pengutan menyenangkan akan diberikan.




Tipe-tipe reinforcement:
a)   Reinforcement positif dan negatif
Untuk konsekuensi yang mengikuti respons, reinforcement positif diberikan dan  reinforcement negatif hukuman dihilangkan, ditunda atau dihindari. Pengaruh konsekuensi respons diperkuat. Jika latihan dihentikan respon yang mendapat penguatan terhenti, pemulihan spontan mungkin bisa terjadi.
b)   Reinforcement primer dan sekunder.
  Stimulus penguatan primer meningkatkan/ memelihara kekuatan respon individu. Sedangkan penguatan  sekunder meningkatkan / memelihara kekuatan respon  jika individu sudah mempelajari.
c)   Reinforcement di pengkondisian clasikal,instrumental dan modelling.
Unconditioned stimulus merupakan reinforcement dalam pengkondisian clasical. Stimulus yang menyertakan   respon sebagai reinforcement pengkondisian instrumental dan modeling.
d)  Prinsip Premack : Beberapa performansi perilakuyang tidak diharapkan diperkuat performansi perilaku yang diharapkan.

Jadwal reinforcer Skinner :
1. Continuous reinforcer ( CRF ) :  Dalam CRF, setiap respons ada reinforcer / reward.
2. Fixed interval reinforcer ( FI )  : Setiap interval waktu tertentu, secara fix diberi hadiah / reinforcer. Misalnya, setiap tiga menit,diberi hadiah,sehingga interval waktunya sebagai berikut : 3 menit 6 menit 9 menit 12 menit dan seterusnya.
3. Fixed ratio reinforcer (FR) :  setiap perbandingan yang fix, diberi hadiah. Misalnya, setiap tiga kali tikus menekan tombol, diberi hadiah satu. Setiap enam kali tikus menekan tombol diberi hadiah dua kali lipat, setiap tikus menekan tombol sembilan kali, diberi hadiah tiga kali lipat, dan seterusnya.
4. Variabel interval reinforcer ( VI ) pada VI : tiap waktu bermacam-macam, diberi hadiah.
5. Variabel ratio reinforcer ( CR ) : setiap berapa kali tidak tentu, diberi hadiah. Jadi kadang-  kadang diberi hadiah dan kadang-kadang tidak diberi hadiah dalam waktu yang tidak tentu.  

Dari berbagai jadwal pemberian reinforcer ini, ternyata kecepatan berespons paling tinggi, ialah VR,kemudian FR, selanjutnya VI, berikutnya FI, dan yang paling tidak cepat ialah CRF.
E.     Aplikasi dalam Kehidupan Nyata dari Teori Skinner
Contohnya : Seorang anak yang tidak belajar sebelum ujian akan mendapat nilai jelek. Nilai jelek ini merupakan bentuk punishment. Punishment tersebut akan menjadi sebuah reinforcement,agar tidak mengulangi perilakunya (tidak belajar).

Penerapan teori skinner dalam belajar :
1. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi  penguat.
2.  Proses belajar harus mengikuti irama dari yangbelajar.
3.  Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
4.  Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
5.  Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Untuk ini lingkungan perlu diubah,   untuk menghindari adanya hukuman.
6. Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah,dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforcer.
7.  Dalam pembelajaran, digunakan shaping.

    Manajemen Kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yang tidak tepat.
 Aplikasi Operant conditioining di dalam kehidupan sehari-hari.Orang tua dapat memperkuat perilaku anak-anaknya yang sesuai dan memberikan hukuman pada perilaku yang tidak sesuai,dan mereka dapat menggunakan teknik generalisasi dan diskriminasi untuk membelajarkan perilaku - perilaku yang sesuai dengan situasi tertentu. Di dalam kelas,guru memperkuat kemampuan akademik yang bagus dengan sedikit hadiah atau hak-hak tertentu.Perusahaan menggunakan hadiah untuk memperbaiki kehadiran, produktivitas, dan keselamatan kerja bagi para pekerja.

Aplikasi nyata dari operant conditioning skinner :
ü  Positif reinforcement : Seorang saler officer sebuah perusahaan asuransi  yang bekerja dengan system penggajian berupa isensif. Jika dia berhasil mendapatkan orang untuk bergabung maka dia mendapatkan stimulus menyenagkan berupa isensif dari prusahaannya sebaliknya jika dia tidak mendapatkan maka dia tidak mendapatkan isensif,
ü  Ommision training :  Jika seseorang mendapatkan nilai yang buruk maka uang saku harian akan dikurangi.
ü  Punishment yang diberikan kepada pemain sepak bola yang melanggar peraturan berupa kartu kuning,merah. Jika perilaku operant yaitu melanggar tersebut dihentikan ,maka hukuman tidak akan diberikan.
ü  Negativ reinforcement : Seorang mahasiswa pada ujian akhir mendapat nilai T pada salah satu mata kuliah, dosen member kesempatan bagi mahasiswa untuk menyelesaikan tugas yang kurang lengkap untuk mengubah nilai T menjadi nilai A-E lalu kondisi tersebut akan dikurangi bila mahasiswa melakukan perilaku operant dengan melengkapi tugas-tugasnya.

Ø Aplikasi Hukuman menurut skinner
1)   Membiarkan anak melakukan perilaku yang tidak diinginkan tersebut sampai anak merasa bosan.
2)   Jika dalam hal masalah perkembangan,maka tunggulah sampai anak lebih besar. Dalam hal ini skinner berpendapat “tidak selalu mudah untuk menebak perilaku sebelum perilaku itu terjadi khususnya dalam kondisi dirumah,tetapi kita akan sedikit lebih tidak  cemas bahwa kita tahu dengan mendidik anak melewati tahap-tahap yang secara social tidak dapat diterima kita tak perlu mendidiknya dengan hukuman yang mungkin akanmenimbulkan masalah baru.
3)   cara selanjutnya yaitu dengan membiarkan waktu yang menentukan
4)   Memperkuat perilaku yang tidak sesuai dengan perilaku yang tidak diharapkan
5)   cara terbaik untuk melemahkan kebiasaan yang tidak dinginkan adalah dengan mengabaikannya
6)   Pelenyapan (extinction)
7)   Mengeliminasi perilaku yang tidak dinginkan dengan cara mencari penguatannya dan menghilangkannya.


Ø Sikap skinner terhadap teori belajar
-        Pendekatan organism kosong : kejadian behavioral harus dideskripsikan untuk menjelaskan kejadian fisiologis
-        menemukan upaya trial and error sampai menemukan sesuatu yang berharga
-        functional analysis : stimulus dengan perilaku yang dapat diukur

Ø  Kebutuhan akan teknologi perilaku
Memecahkan problem manusia dengan cukup cepat seiring pertumbuhan populasi manusia. Praktik cultural skinner dalam pemecahan masalah :
-    Mengalihkan pekerja dari konsekuensi kerja mereka
-    Membantu individu tersebut
-    Membimbing perilaku dengan aturan bukan dengan konsekuensi yang menguatkan
-    Mempertahankan sanksi
-    Memperkuat perilaku menonton , mendengar, membaca dll.

Perbandinggan Thorndike dan Skinner
o   Dalam eksperimen yang dilakukannya thorndike lebih tertarik mengukur seberapa lama waktu yang dibutuhkan binatang untuk membebaskan diri dari kandang,dengan kata lain lamanya waktu yang dibutuhkan waktu untuk belajar. Sedangkan skinner menggunakan tingkat respon dari binatang dalam eksperimen yang dilakukannya.
o   Thondike tidak menekankan pada penguatan.

DAFTAR PUSTAKA
-        Hergenhahn, B. R., & Olson, Matthew. H. 2009. An Introduction to Theories of Learning. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
-        Jess, Feist & Gregory J. Feist. 2008. Theories of Personality. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
-        www.google.com , Wikipedia.




Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Sandri Andeski - All Rights Reserved