Thursday, May 16, 2013

teori belajar edward lee thorndike

By sandri kinali | At 12:27 PM | Label : | 0 Comments


BAB I
PENDAHULUAN

Edward Lee Thorndike yang lahir 31 Agustus 1874 Williamsburg, Massachusetts, adalah seorang psikolog Amerika yang menghabiskan hampir seluruh karirnya di Teachers College, Columbia University. Masa kanak-kanak dan Pendidikannya adalah sebagai anak seorang pendeta Metodis di Lowell, Massachusetts. Thorndike lulus dari The Roxbury Sekolah Latin (1891), di West Roxbury, Massachusetts, Wesleyan University (BS 1895), Harvard University (MA 1897), dan Columbia University (PhD. 1898).
Setelah lulus, Thorndike kembali ke minat awal, Educational Psychology. Pada tahun 1898 ia menyelesaikan PhD di Columbia University di bawah pengawasan James McKeen Cattell, salah satu pendiri psikometri. Pada tahun 1899, setelah satu tahun tidak bahagia, kerja awal di College for Women dari Case Western Reserve di Cleveland, Ohio, ia menjadi instruktur psikologi di Teachers College di Columbia University, di mana ia tinggal selama sisa kariernya, mempelajari manusia belajar, pendidikan, dan mental pengujian.
Karyanya pada perilaku binatang dan proses pembelajaran menuju teori connectionism dan membantu meletakkan dasar ilmiah psikologi pendidikan modern. Dia juga bekerja di industri pemecahan masalah, seperti karyawan ujian dan pengujian..Pada 29 Agustus 1900, ia menikah Elizabeth Moulton dan mereka punya lima anak. Dia adalah seorang anggota dewan dari Psychological Corporation, dan menjabat sebagai presiden American Psychological Association pada tahun 1912. Thorndike pada tahun 1937 menjadi Presiden kedua Psychometric Society, mengikuti jejak Leon Louis Thurstone yang telah mendirikan masyarakat dan jurnal Psychometrika tahun sebelumnya. Edward Lee Thorndike meninggal 9 Agustus 1949.
Di antara karya-karya Thorndike yang paling terkenal terlibat kontribusi penelitiannya pada kucing belajar bagaimana melepaskan diri dari kotak-kotak teka-teki dan perumusan terkait hukum efek. Undang-undang menyatakan bahwa akibat tanggapan yang diikuti oleh konsekuensi yang memuaskan akan terhubung dengan situasi, dan lebih kemungkinan akan berulang ketika situasi kemudian dijumpai. Jika tanggapan yang diikuti oleh konsekuensi permusuhan, asosiasi dengan situasi menjadi lebih lemah. kotak teka-teki Percobaan sebagian didorong oleh ketidaksukaan Thorndike untuk pernyataan bahwa binatang memanfaatkan kemampuan luar biasa seperti wawasan dalam memecahkan masalah mereka: "Di pertama-tama, sebagian besar buku tidak memberi kita psikologi, melainkan pidato binatang. Mereka membahas tentang kecerdasan hewan, tidak pernah tentang kebodohan hewan. "


BAB II
ISI
  1. Konsep Dasar Teori, Tipe, dan Mekanisme Belajar
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk bereaksi atau berbuat. Respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang.
Thorndike menggambarkan proses belajar sebagai proses pemecahan masalah. Dalam penyelidikannya tentang proses belajar, pelajar harus diberi persoalan, dalam hal ini Thorndike melakukan eksperimen dengan sebuah puzzlebox. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, ada eliminasai terhadap berbagai respon yang salah, ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan.
Ciri-ciri belajar dengan trial and error :
  • Ada motif pendorong aktivitas
  • ada berbagai respon terhadap situasi
  • ada aliminasi respon-respon yang gagal atau salah
  • ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan dari penelitiannya itu
Atas dasar percobaan di atas, Thorndike menemukan hukum-hukum belajar :
1.      Hukum kesiapan (Law of Readiness)
Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosaiasi cenderung diperkuat. hukum ini pada intinya menyatakan bahwa belajar akan berhasil apabila peserta didik benar-benar telah siap untuk belajar. Dengan perkataan lain, apabila suatu materi pelajaran diajarkan kepada anak yang belum siap untuk mempelajari materi tersebut maka tidak akan ada hasilnya.
2.      Hukum latihan
Hukum latihan akan menyebabkan makin kuat atau makin lemah hubungan S-R. Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat. Hukum ini sebenarnya tercermin dalam perkataan repetioest mater studiorum atau practice makes perfect. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan—yang  telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi atara stimulus dan respon—dilatih (digunakan), maka  ikatan tersebut akan semakin kuat. Jadi, hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan. Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori).
3.      Hukum akibat ( Efek )
Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Rumusan tingkat hukum akibat adalah, bahwa suatu tindakan yang disertai hasil menyenangkan cenderung untuk dipertahankan dan pada waktu lain akan diulangi. Jadi hokum akibat menunjukkan bagaimana pengaruh hasil suatu tindakan bagi perbuatan serupa.
Hal ini berarti  (idealnya),  jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya, maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat. Konkretnya adalah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untuk menyelesaikan suatu soal matematika, setelah ia kerjakan, ternyata jawabannya benar, maka ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yang benar itu akan kuat tersimpan dalam ingatannya.
Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut:
·         Hukum Reaksi Bervariasi (Multiple Response).Hukum ini mengatakan bahwa pada individu diawali oleh proses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
·         Hukum Sikap (Set/Attitude).Hukum ini menjelaskan bahwa perilaku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu baik kognitif, emosi, sosial, maupun psikomotornya.
·         Hukum Aktivitas Berat Sebelah (Prepotency of Element).Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon hanya pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi (respon selektif).
·         Hukum Respon by Analogy. Hukum ini mengatakan bahwa individu dapat melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang sama/identik, maka transfer akan makin mudah.
·         Hukum perpindahan asosiasi (Associative Shifting). Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara tertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama
Thorndike mengemukakan revisi hukum belajar antara lain:
  • Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan, saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon, sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah.
  • Hukum akibat direvisi. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa.
  • Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan, tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon.
  • Akibat suatu perbuatan dapat menular (spread of effect) baik pada bidang lain maupun pada individu lain.

Lingkup Teori
Connectionism itu dimaksudkan untuk menjadi teori umum pembelajaran untuk hewan dan manusia. Thorndike sangat tertarik dalam penerapan teori pendidikan termasuk matematika (Thorndike, 1922), ejaan dan membaca (Thorndike, 1921), pengukuran kecerdasan (Thorndike et al., 1927) dan orang dewasa belajar (Thorndike di al., 1928).
Contoh klasik dari teori SR Thorndike itu adalah kucing belajar untuk melarikan diri dari sebuah “kotak teka-teki” dengan menekan tuas di dalam kotak. Setelah banyak trial and error perilaku, kucing belajar untuk mengasosiasikan menekan tuas (S) dengan membuka pintu (R. ini sambungan dibuat karena hasil dalam keadaan memuaskan (melarikan diri dari kotak). Hukum latihan menentukan bahwa sambungan ini didirikan karena pasangan SR terjadi berkali-kali (hukum efek) dan dihadiahi (hukum efek) serta membentuk satu urutan (hukum kesiapan).
Prinsip
  1. Belajar memerlukan latihan dan penghargaan baik (hukum efek / latihan)
  2. Serangkaian SR sambungan dapat dirantai bersama-sama jika mereka merupakan rangkaian aksi yang sama (hukum kesiapan).
  3. Transfer pembelajaran terjadi karena situasi ditemui sebelumnya
  4. Intelijen adalah fungsi dari jumlah koneksi dipelajari

  1. Aplikasi Dasar
Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai aktivitas “mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar. Jawaban yang benar menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu:
  • Mementingkan pengaruh lingkungan
  • Mementingkan bagian-bagian
  • Mementingkan perananreaksi
  • Mengutamakan mekanisme terbentuknya belajar melalui prosedur stimulus respon
  • Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbenutuk sebelumnya
  • Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
  • Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
Aplikasi Teori Thorndike dalam dunia pendidikan dan pengajaran
Menurut Thorndike praktek pendidikan harus dipelajari secara ilmiah dan praktek pendidikan harus dihubungkan dengan proses belajar. Mengajar bukanlah mengharapkan murid tahu apa yang diajarkan. Mengajar yang baik adalah : tahu tujuan pendidikan, tahu apa yang hendak diajarkan artinya tahu materi apa yang harus diberikan, respons yang akan diharapkan dan tahu kapan “hadiah” selayaknya diberikan kepada peserta didik. Beberapa aturan yang dibuat Thorndike berhubungan dengan pengajaran:
·         Perhatikan situasi peserta didik
·         Perhatikan respons yang diharapkan dari situasi tersebut
·         Ciptakan hubungan respons tersebut dengan sengaja, jangan mengharapkan hubungan terjadi dengan sendirinya
·         Situasi-situasi yang sama jangan diindahkan sekiranya memutuskan hubungan tersebut.
·         Buat hubungan sedemikian rupa sehingga menghasilkan perbuatan nyata dari peserta didik
·         Bila hendak menciptakan hubungan tertentu jangan membuat hubungan-hubungan lain yang sejenis
·         Ciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Sebelum guru dalam kelas mulai mengajar, maka anak-anak disiapkan mentalnya terlebih dahulu. Misalnya anak disuruh duduk yang rapi, tenang dan sebagainya.
  • Guru mengadakan ulangan yang teratur, bahkan dengan ulangan yang ketat atau sistem drill.
  • Guru memberikan bimbingan, pemberian hadiah, pujian, bahkan bila perlu hukuman sehingga memberikan motivasi proses belajar mengajar.
BAB III
KESIMPULAN

Teori belajar yang dikemukakan Edward Lee Thorndike disebut dengan teori Connectionism atau dapat juga di sebut Trial and Error Learning.
Thorndike menemukan hukum-hukum belajar :
1. Hukum kesiapan (Law of Readiness)
2. Hukum latihan
3. Hukum akibat ( Efek )
Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut:
  1. Hukum Reaksi Bervariasi (Multiple Response).
  2. Hukum Sikap (Set/Attitude).
  3. Hukum Aktivitas Berat Sebelah (Prepotency of Element).
  4. Hukum Respon by Analogy.
  5. Hukum perpindahan asosiasi (Associative Shifting).
Dari ketiga hukum-hukum yang ditemukan oleh Thorndike, yaitu : hukum kesiapan, hukum latihan, dan hukum akibat akhirnya Thorndike melakukan revisi terhadap hukum-hukum tersebut.
Teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
Thorndike bukan hanya menjelaskan dan mensintesiskan data yang tersedia; dia juga menemukan dan mengembangkan fenomena belajar trial and erroer dan transfer training, misalnya yang akan mendefenisikan domain teori belajar untuk masa-masa berikutnya.
Kritik kepada teori thorndike berfokus pada dua isu utama. Pertama berkaitan dengan hukum efek, adalah soal definisi mekanistik atas teori belajar. Kritik terhadap hukum efek menyatakan bahwa argumen thorndike bersifat sirkular (berputar-putar): jika probanilitas respon meningkat, itu dikatakan karena adanya keadaan yang memuaskan; jika tidak meningkat, itu dikatakan karena karena tidak ada unsur pemuas.
Kritik kedua terhadap hukum efek karena Thorndike percaya bahwa belajar adalah fungsi otomatis dari keadaan yang memuaskan dan bukan dari mekanisme kesadaran seperti pemikiran dan penalaran. Thorndike jelas percaya bahwa organisme tidak perlu menyadari hubungan antara respon dan unsur pemuas agar unsur pemuas itu memberikan efeknya. Demikian pula, niat dan strategi pembelajar dianggap tidak penting bagi proses belajar. Thorndike tidak menyangkal adanya pemikiran, perencanaan, strategi, dan niat. Tetapi, Thorndike percaya bahwa belajar dapat dijelaskan dengan memadai tanpa merujuk pada  hal-hal semacam itu.

Daftar Pustaka

Boeree,George, 2005, Sejarah Psikologi, Jakatra: Prima Shopie
http://translate.gogleusercontent.com/translate_c
http://tip.psychology.org/thorn.html (Merriam & Caffarella, 1991)
http://www.unikajaya.co.cc/2009/11/teori-psikologi-belajar-dan-aplikasinya.html
Soemanto, Wasty,  1998, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta
Wirawan, Sartito, 2006, Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh Tokoh Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang.

Wednesday, March 27, 2013

gangguan mental akibat pekerjaan

By sandri kinali | At 10:01 AM | Label : | 0 Comments

Pekerjaan merupakan penentu utama dari kesehatan mental dan mengintegrasikan kekuatan sosial. Masalah-masalah yang terdapat dalam dunia kerj dapat  mengikis kepercayaan diri, menciptakan rasa isolasi dan marjinalisasi dan merupakan faktor risiko kunci untuk cacat mental.berikut adalah beberapa ganguan mental yang diakibatkan oleh pekerjaan.
Di Inggris berdasarkan data Departemen dan Federasi Industri Inggris,diperkirakan 15-30% pekerja pernah mengalami gangguan jiwa, minimal satu kali dalam masa kerjanya. Persentase populasi yang mengalami gangguan jiwa di berbagai negara antara lain Brasil 36,3%; Kanada 37,5%; Belanda 40,9%; Amerika 48,6%; Meksiko 22,2%; dan Turki 12,2%. Bahkan diperkirakan dua persen dari seluruh penduduk dunia menderita gangguan jiwa berat. Indonesia belum memiliki data tentang gangguan mental di tempat kerja.
Perusahaan-perusahaan di Indonesia pun sangat jarang,bahkan mungkin tidak pernah mengalokasikan dana untuk peningkatan kesehatan jiwa pekerja. Jaminan kesehatan secara umum,yang biasanya tidak bersifat optimal, tidal dapat mengatasi masalah kesehatan jiwa di tempat kerja.
Padahal kondisi kesehatan dan kesehatan jiwa bersifat tidak terpisahkan dan berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga di 11 kota pada tahun 1995, ditemukan 185 penderita gangguan jiwa dalam populasi 1000 penduduk Indonesia.
Data diatas memeprkuat terdapat hubungan antar gangguan mental dengan dunia kerja. Adapun gangguan-gangguan mental yang disebabkan oleh stress kerja adalah sebagai berikut :

A. Stress
Stress adalah respon fisiologis, psikologis, dan tingkah laku seseorang sebagai upaya untuk beradaptasi dari tekanan eksternal maupun yang disebabkan oleh kondisi atau peristiwa yang mana menyebabkan orang merasakan keadaan tersebut (stressor). Munandar mengemukakan stress kerja merupakan interaksi antara kondisi kerja dengan karakteristik pekerjayang menghasilkan tuntutan kerja melampaui sumber daya pekerja dan berdampak negative bagi kesejahteraan diri individu tersebut. Inti dari penyebab strss kerja ini adalah ketidakmampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan pekerjaan sehingga menimbulkan tekanan dalam
Factor-faktor di tempat kerja  (ekternal factor) seperti peran yang tidak jelas, hubungan dengan atasan teman kurang serasi, pengupahan yang tidak sesuai, beban kerja yang terlalu banyak, terhambatnya karier, bentuk atau jenis pekerjaan , kebisingan dan tata ruang kerja dan sebagainya merupakan sumber stress atau stressor kerja . tidak hanta factor ekternal namun factor internal dari individu juga memepngaruhi stress kerja antara lain dari karakteristik individu sendiri yaitu pola kepribadian, kecakapan dan keterampilan, locus of control, serta nilai dan kebutuhan. Selain itu factor eksternal yang juga memepngaruhi stess kerja yaitu kehidupan keluarga dan umur dan tahap kehidupan. Dan stress kerja ini berdampak juga ke gangguan-gangguan psikologis lain yaitu :
§  Kecemasan
Individu dapat mengalami kekhawatiran yang berlebihan akibat stress kerja ini. Misalnya pekerjaan yang menumpuk atau beban kerja yang berat yang harus diselasaikan dalam waktu yang singkat membuat individu merasa khawatir tidak mampu memenuhi tugasnya tersebut dan dapat berefek terhadap kedudukan atau kinerjanya di dalam pekerjaan yang didudukinya. Karen hal seperti yang dicontohkan diatas indivisu tidak dapat berkosentarasi atau focus dalam melakukan tugasnya, sukar untuk tidur, dan dapat juga mengakibatkan individu menjadi mudah tersinggung
§  Sindrom depresi
Seseorang yang terlalu akut tingkatan stressnya akan bisa naik ke tingkat depresi ini. Tuntutan-tuntuan pekerjaan nang tidak dapat diselesaikan, hubungan antar pribadi yang tidak harmonis dengan atasan atau teman, atau persaingan yang kompetitf ,di lingkungan erja kan mengakibatkan seseorang mengalai kecemasan, yang kemudian meningkat k e tingkat stress dan meningkat lagi ke tingkat depresi yang mana gangguannya lebih kompleks lagi. Seseorang yang mengalami depresi sulit untuk bekerja produktif dan efektif  lagi, selalu merasa murung dan rendah diri, pesimis terhadap hasil yang akan ia terima, sulit berkosentrasi , dan mengalami kesulitan dalam berhubungan dengan orang sekitarnya dan bahakan menarik diri dari pergaulan sosialnya.

§  Gangguan somatoform
Merupakan ganguan dimana seseorang tidak mengalami gngguan fisiologis yang jelas namun ia merasakan hal tersebut dan melebih-lebihkannya. Adapun cakupan dari gangguan ini adalah hipokondriasis dan nyeri psikogenik.
§  Gangguan psikosomatik
Merupakn gangguan fisiologis yang diakibatkan oleh factor-faktor psikologis. Stress adalah penyebab utama gangguan ini. Orang yang sedang mengalami stress kerja rentan akan mendapatkan penyakit magh, asma, migrant, hipertensi, dan  kardiovaskular.
Selain itu stress kerja jua berdapak terhadap reaksi perilaku individu tersebut, yaitu :
Tekanan-tekanan dan tuntutan dalam pekerjaan yang tidak mampu diiatasi oleh individu maka akan berdampak pada pola perlaku individu tersebut. Individu yang mengalami stress cenderung untuk mengkonsumsi rook, alcohol, serta oabat-obatan terlarang sebagai bentuk pengetasan masalah yang dihadapinya. Namun hal ini adalah koping yang maladaptive terhadap stressor tersebut. Suatu kumpulan gejala lesu kerja (bornout syndrome) juga sering ditemui pada pekerja yang mengalami stress kerja yang tidak dikoreksi. Gejala lesu kerja ini terdiri dari tiga bagian yaitu :
a.       Kelelahan fisik, berupa kelelahan yang hebat disertai susah tidur, dan gejala-gejala tidak ada tenaga
b.      Kelelahan emosional, bermanifestasi rasa depresif, tidak ada harapan dan tidak berdaya
c.       Kelelahan mental bermanifestasi pada sikap negative tehadap pekerjaan serta mengahadapi orang sekitar yang berkaitan dnegan lingkungan kerja.
B. Post Power Syndrome
Gangguan mental lain yang disebabkan oleh dunia kerja ialah post power syndrome yang biasanya dialami oleh orang pensiunan atau usia lanjut. Orang yang saat mudanya telah biasa bekerja kemudian harus mengalami masa pensiun akan rentan terhadap gangguan ini. Ia kan merasa canggung dengan kehidupannya yang tanpa pekerjaan. Selain itu individu tersebut juga kan merasakan kecemasan terhadap kehiduannya karena biaya hidup yang didapatkan dari pekerjaannya akan berkurang.

DAFTAR PUSTAKA

Zulkarnain, 1998, Tesis tentang Hubungan Antara Stress Kerja dengan Gangguan Emosional. Jakarta : Universitas Indonesia

gangguan anxietas ( kecemasan )

By sandri kinali | At 9:56 AM | Label : | 0 Comments

ANXIETY DISORDER
“Anxietas adalah perasaan yang difius, yang sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan ini disertai dengan suatu atau beberapa reaksi badaniah yang khas dan yang akan datang berulang bagi seseorang tertentu. Perasaan ini dapat berupa rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau buang air besan. Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan gelisah.
GEJALA UMUM ANXIETAS            
Gejala psikologik:       
Ketegangan, kekuatiran, panik, perasaan tak nyata, takut mati , takut ”gila”, takut     
kehilangan kontrol dan sebagainya.    

Gejala fisik:    
Gemetar, berkeringat, jantung berdebar, kepala terasa ringan, pusing, ketegangan otot, mual, sulit bernafas, baal, diare, gelisah, rasa gatal, gangguan di lambung dan lain-lain.

Keluhan yang dikemukakan pasien dengan anxietas kronik seperti: rasa sesak nafas; rasa sakit dada; kadang-kadang merasa harus menarik nafas dalam; ada sesuatu yang menekan dada; jantung berdebar; mual; vertigo; tremor; kaki dan tangan merasa kesemutan; kaki dan tangan tidak dapat diam ada perasaan harus bergerak terus menerus; kaki merasa lemah, sehingga berjalan dirasakan beret; kadang- kadang ada gagap dan banyak lagi keluhan yang tidak spesifik untuk penyakit tertentu. Keluhan yang dikemukakan disini tidak semua terdapat pada pasien dengan gangguan anxietas kronik, melainkan seseorang dapat saja mengalami hanya beberapa gejala 1 keluhan saja. Tetapi pengalaman penderitaan dan gejata ini oleh pasien yang bersangkutan biasanya dirasakan cukup gawat.
GANGGUAN ANXIETAS Beberapa teori tentang gangguan anxietas:           
A. TEORI PSIKOLOGIS
Teori psikoanalitik:     
Freud menyatakan bahwa kecemasan sebagai sinyal, kecemasan menyadarkan ego untuk mengambil tindakan defensif terhadap tekanan dari dalam diri. misal dengan menggunakan mekanisme represi, bila berhasil maka terjadi pemulihan keseimbangan psikologis tanpa adanya gejala anxietas. Jika represi tidak berhasil sebagai suatu pertahanan, maka dipakai mekanisme pertahanan yang lain misalnya konvensi, regresi, ini menimbulkan gejala.            

Teori perilaku:
teori perilaku menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu respon yang dibiasakan terhadap stimuli lingkungan spesifik. Contoh : seorang dapat belajar untuk memiliki respon kecemasan internal dengan meniru respon kecemasan orang tuanya.        

Teori eksistensial:       
Konsep dan teori ini adalah, bahwa seseorang menjadi menyadari adanya kehampaan yang menonjol di dalam dirinya. Perasaan ini lebih mengganggu daripada penerimaan tentang kenyataan kehilangan/ kematian seseorang yang tidak dapat dihindari. Kecemasan adalah respon seseorang terhadap kehampaan eksistensi tersebut.
B. TEORI BIOLOGIS
Sistem saraf otonom:  
Stimuli sistem saraf otonom menyebabkan gejala tertentu. Sistem kardiovaskular takikardi, muskular nyeri kepala, gastrointestinal diare dan sebagainya.

Neurotransmiter:
Tiga neurotrasmiter utama yang berhubungan dengan kecemasan berdasarkan penelitian pada binatang dan respon terhadap terapi obat yaitu : norepinefrin, serotonin dan gamma-aminobutyric acid.

Penelitian genetika:     
Penelitian ini mendapatkan, hampir separuh dan semua pasien dengan gangguan panik memiliki sekurangnya satu sanak saudara yang juga menderita gangguan.     

Penelitian pencitraan otak:      
Contoh: pada gangguan anxietas didapati kelainan di korteks frontalis, oksipital, temporalis. Pada gangguan panik didapati kelainan pada girus para hipokampus.




Bentuk-bentuk gangguan anxietas :
a.       Gangguan Panic
Ganggan panic mencakup munculnya serangan panic secara berulang dan tak terduga. Seangan panic sering melibatkan reaksi kecemasan yang intens diserai dengan sintom-simtom fisik seperti jantung berdebar-debar, sesak nafas, berkeringat banyak, dan lain-lain.
Serangan-serangan ini disertai dengan perasaan terror yang luar biasa dan perasaaan akan adanya baghaya yang segera menyerang atau malapetaka yang segera menimpa serta juga disertai dengan suatu dorongan untuk melarikan diri dari situasi ini :
Ciri-ciri diagnostic dari serangan  panic :
·         Palpiatsi jantung, jantung berdegup-degup, denyut jantung cepat
·         Berkeringat
·         Gemetar
·         Nafas pendek atau sensasi seperti terselubung sesuatu
·         Sensasi seperti tercekik
·         Sakit atau  perasaan tak nyaman di dada
·         Perasaan mual atau tanda-tanda distress
·         Perasaan pusing
·         Takut akan mati
·         Mati rasa
·         Merasa kedinginanan atau kepanasan
Tidak semua ciri tersebut harus ada,tidak semua serangan panic merupakan tanda-tanda dari ganggun panic. Suatu diagnosis dari gangguan panic didasarkan pada criteria berikut :
1.      Mengalami serangan pani secara berulang dan tak terduga
2.      Sedikitnya serangan tersebut diikuti oleh paling tidak 1 bulan rasa takut yang yang persistensi akan  adanya serangga berikutnya, atau rasa cemas akan implikasi atau konsekwensi dari serangan (misalnya, takut kehilangan akal atau  menjadi gila atau menderita serangan jantung), perubahan tingkah laku ya signifikan (misalnya menolak meninggalkan rumah atau keluar masyrakat karena takut dapat serangan lagi).
Gangguan panic biasanya dimulai pada akhir masa remaja sampai 30 han  tahun (APA,2000). Perempuan mempunyai kemungkinan 2 kali lebih besar untuk mengembangkan gangguan panic.

b.      Gangguan kecemasan menyeluruh
Gangguan kecemasan menyeluruh, ditandai dengan perasaan cemas yang persisten yang tidak dipicu oleh suatu objek, situasi, atau aktivitasyang spesifik, tetapi lebih merupakan apa yang disebut oleh freud sebagai pengembang bebas. Cirri utama dari GAD adalah rasa cemas.
Cirri lain yang terkait adalah merasa tegang, waswas atau khawatir, mudah lelah, punya kesulitan berkosentrasi atau  menemukan bahwa pikiranmenjadi kosong,iritabilitas, ketegangan otot, dan adanya gangguan tidur. GAD cenderung merupakan suatu gangguan yang stabil, muncul pada pertengahan remaja sampai pertengahan umur 20an dan kemudian berlangsung seumur hidup.
c.       Gangguan fobia
Gangguan fobia adalah rasa takut yang persisten terhadap objek atau situasi dan rasa takut ini tidak sebanding dengan ancamannnya. Tipe fobia yang berbeda biasanya muncul pada usia yang berbeda pula, usia kemunculannya sepertinya merefleksikan tahap perkembangan kognitif dan pengalaman hidup.
Fobia spesifik, adalah kekuatan yang berlebihan dan persisten terhadap objek atau situasi spesifik, seperti ketakutan terhadap ketinggian (acrophobia), rasa takut terhadap tempat tertutup (claustrophobia), atau  ketakutan terhadap binatang kecil seperti tikus atau ular dan yang lainnya. Fobia spesifik adalah salah satu gangguan psikologis yang paling umum, mengenai sekitar 7%-11% dari populasi umum pada suatu saat dalam hidup mereka. Fobia spesifik cenderung untuk berlangsung terus selama bertahun-tahun atau selama beberapa decade kecuali ditangani dengan sukses.
Fobia social mempunyai ketakutan yang intens terhadap situasi social sehingga mereka mungkin sama sekali menghindarinya, atau menghadapinya tetapi dengan distress yang besar. Fobia social yang mendasar adalah ketakutan yang berlebihan terhadap evaluasi negative dari orang lain. Mereka cenderung untuk sangat kritis terhadap kemampuan social mereka dan terbawa dalam mengevaluasi perfoma mereka sendiri ketika berinteraksi dengan orang lain. Beberapa bahkan mengalami serangan panicyang parah dalam situasi social. Fobia social dapat mempunyai pengaruh besar pada fungsi sehari-hari dan kualitas hidup seseorang. Gangguan ini tampaknya lebih sering terdapat pada perempuan, mungkin karena tekanan social dan kultur yang lebih besar diterapkan ke pundak perempuan.
Agoraphobia  melibatkan ketakutan terhadap tempat satu situasi yang  member I kesulitan yang  membuat malu seseorang untuk kabur dari situ bila terjadi simtom  panic atau  serangan panic yang parah. Agoraphobia  dapat terjadi bersamaan atau tidak bersamaan dengan gangguan panic yang menyertai. Orang dengan agoraphobia yang tidak mempunyai riwayat gangguan panic dapat mengalami simtom panic seperti pusing yang menyertai mereka untuk melangkah dari tempat yang tidak aman.
d.      Gangguan obsesif kompulsif
Obsesi merupakan suatu pikiran atau gambaran yang muncul berulang-ulang dan tidak dapat dikendalikan oleh individu, kompulsif adalah suatu merupakan tingkah laku yang repetitive dan ritualistic ayng individu rasa harus dilakukan.
e.       Gangguan stress akut dan gangguan pasca trauma
Gangguan stress akut adalah suatu reaksi maldaptive yang terjadi pada bulan pertama sesudah pengalaman traumatis. Gangguan stress pasca trauma adalah reaksi maladaptive nyang berkelanjutan terhadap suatu pengalaman traumatis. ASD adalah factor risiko mayor untuk PTSD, karena banyak orang dengan ASD yang kemudian mengembangkan PTSD. Pada ASD dan PTSD, peristiwa traumatis tersebut melibatkan kematian atau ancaman kematian atau cedera fisik yang serius baik terhadap ancaman keselamatan diri sendiri atau orang lain. Cirri-ciri reaksi stress traumatis, beberapa cirri yang sama adalah mengalami kemabli peristiwa traumatis, menghindari petunjuk atau stimuli yang diasosiasikan dengan peristiwa tersebut, mudah sekali terangsang, gangguan fungsi atau distress emosional penting.
f.       Perbedaan etnik dalam gangguan kecemasan
Meskipun  gangguan cemas telah menjadi subjek dari penelitian, hanya sedikit perhatian yang diberikan kepada perbedaan etnik dalam kaitannya dengan prevalensi dari gangguan ini. Factor budaya mungkin memegang peranan dalam menentukan bagaimana orang dalam  menghadapi dan menangguli trauma seperti halnya kerentanan mereka terhadap reaksi stress dan bentuk spesifik dari gangguan semacam  itu.

Factor-faktor kognitif dalam gangguan kecemasan
Ø  Prediksi berlebihan terhadap rasa takut
Ø  Keyakinan yang self defeating atau irasional
Ø  Sensitivitas berlebihan terhadap ancaman sensitivitas kecemasan
Ø  Salah mengatribusikan sinyal-sinyal tubuh
Ø  Self efficacy yang rendah
Penangan gangguan kecemasan
a.       Pendekatan-pendekatan psikodinamika
Dari pendekatan psikodinamika, kecemasan merefleksikan energy yang diletakan kepada konflik tak sadar dan usaha ego untuk membiarkannya tetap terepsi t. Terapis psikodinamila yang lebih modern juga menyadarkan klien mengenai sumber konflik yang berasal dari dalam, tetapi mereka lebih menjajaki sumber kecemasan yang berasal dari keadaan hubungan sekarang ini daripada hubungan dimasa lampau dan mendorong klien untuk mengembangkan tingkah laku yang lebih adaptif.
b.      Pendekatan-pendekatan humanistic
Para teoritikus humanistic percaya bahwa banyak dari kecemasan kita berasal dari kecemasan kita berasal dari represi social diri kita yang sesungguhnya. Terapis humanistic bertujuan membantu orang untuk memahami dan mengekspresikan bakat-bakat serta perasaan mereka sesungguhnya sebagai akibatnya, klien menjadi bebas untuk menemukan dan menerima diri mereka sesungguhnya dan tidak sesungguhnya sebagai akibatnya, klien menjadi bebas untuk menemukan dan menerima diri mereka sesungguhnya dan tidak bereaksi dengan kecemasan bila perasaan mereka yang sesungguhnya dan kebutuhan mereka yang sesungguhnya dan kebutuhan mereka mulai muncul dari permukaan.
c.       Pendekatan-pendekatan biologis
Berbagai variasi obat digunakan untuk mengobati gangguan-gangguan kecemasan. Orang-orang menjadi bergantung kepadanya dapat mengalami serangkaian simtom putus zat bila mereka berhenti menggunakan secara tiba-tiba.
d.      Pendekatan-pendekatan belajar
Yang menjadi inti dalam pendekatan ini adalah  usaha untuk memebantu individu menjadi lebih efektif dalam menghadapi objek atau situasi yang menimbulkan kecemasan atau ketakutan.
Adapun penanganan lain yang dapat dilakukan untuk menangani gannguan kecemasan ini adalah:
v  Desentasi sitematis adalah suatu proses gradual. Yang mana pada proses penanganan ini klien belajar untuk secra progresif menghadapi stimuli yang makin menganggu sementara mereka tetap relaks.
v  Pemaparam gradual adalah suatu metode yang mana digunakan untuk membantu orang yang mengalami fobia melalui pendekatan setapak demi setapak dari pemaparan actual terhadap stimuli fobik. Pemaparan gradual paling sering digunakan dalam penangan agoraphobia
v  Flooding adalah suatu bentuk dari terapi pemaparan dimana subjek dihadapkan kepada stimuli pembangkit tingkat tinggi baik melalui imajinasi ataupun situasi actual
v  Terapi kognitif adalah terapi yang berusaha untuk mengidentifikasikan dan mengoreksi keyakinan yang disfungsional atau terdistorsi
Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Sandri Andeski - All Rights Reserved